Bulan Sekerat di Marpangat 468
Sebuah elegi buat pak piek
Duduk di beranda rumah tua
Kursi, taplak meja, potret dinding
Termangu sendiri
Seperti masih menyimpan angin
Kicau burung, suara daun,
Dan hati yang lama
Adakah tersisa di situ
Getar-getar lagu yang dulu
Dulu sekali
Ketika kita sama-sama pernah menyanyi
Ingin rasanya itu kini kembali
Tapi hari-hari tak bisa ditarik lagi
Jauh angin dari kenangan
Setelah sebegitu lama kita terbang
Dan selalu pernah ada waktu bertemu
Rasanya ingin kita ulang bayang-bayang
Saat-saat kita bersama tertawa
Saat kita bicarakan bintang
Kita lukis wangi bunga
Kita pahat bulatnya bulan
Tenang langit, gemericik sungai, suara lautan
Atau apa saja yang pernah kita risaukan
Dan sekarang tinggal catatan
Lembaran-lembaran lama yang panjang itu
Biar sekarang kita balik-balik kembali
Ingat Marpangat ingat sekerat bulan
Jangan sampai keratan hidup itu
Terhapus dari lukisan milik siapa-siapa
Yang sedang mengenangkannya
Di sini
Saat angin, kicau burung, suara daun
Masih juga terasa seperti yang dulu
Hari ketika kita sedang sama-sama menunggu
Ternyata tinggal bayang-bayang.
Catatan:
Puisi ini masih tergantung pada dinding depan pintu masuk Rumah Sastra Gang Marpangat 468 (sekarang Jalan Ciremei) Tegal kediaman, base camp Piek Ardijanto Soeprijadi tempat mampir banyak pecinta sastra dari segala penjuru nusantara.
Analisis Puisi:
Puisi “Bulan Sekerat” karya Handrawan Nadesul adalah salah satu sajak nostalgia paling menyentuh dalam khazanah puisi Indonesia. Tak hanya dikenal karena keindahan lirik dan kekuatan emosionalnya, puisi ini juga dikenal luas karena hingga kini masih tergantung di dinding depan pintu masuk Rumah Sastra Gang Marpangat 468, Tegal, kediaman sekaligus basecamp Piek Ardijanto Soeprijadi. Tempat ini menjadi titik temu para penyair dan pecinta sastra dari seluruh Indonesia, dan puisi ini seakan menjadi prasasti kenangan yang hidup dalam sunyi dan angin kota Tegal.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah nostalgia dan kerinduan pada masa lalu. Penyair menengok kembali ke waktu-waktu yang telah berlalu dengan hati yang penuh tanya: apakah semuanya benar-benar telah hilang, ataukah masih bisa dirasakan lewat suara burung, daun, dan angin yang tak berubah? “Bulan Sekerat” bukan sekadar kisah rindu pada seseorang, melainkan nyanyian pilu tentang hidup yang berjalan terlalu cepat, meninggalkan hanya serpih-serpih kenangan yang ingin sekali diulang.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah kesadaran akan kefanaan waktu. Setiap yang indah akan berlalu, setiap kebersamaan suatu saat hanya akan menjadi catatan. Ada kesedihan yang tidak meledak, tetapi tertahan dalam keheningan seperti "taplak meja" dan "potret dinding".
Namun, ada juga pesan spiritual tentang perlunya menjaga ingatan kolektif. “Jangan sampai keratan hidup itu / terhapus dari lukisan milik siapa-siapa” adalah seruan agar kisah hidup, terutama yang penuh makna, jangan lenyap begitu saja. Ia harus tetap hidup, meski hanya dalam sepotong puisi atau sekerat bulan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang duduk sendirian di beranda rumah tua, merenungi masa lalu yang penuh makna. Dalam rumah itu, segala hal terasa seperti masih menyimpan gema kebersamaan yang dulu. Ia teringat masa-masa ketika bersama seseorang (atau sekelompok sahabat) menyanyi, tertawa, berbicara tentang bintang, bunga, sungai, dan bulan. Tapi waktu telah bergulir. Hari-hari tak bisa ditarik kembali. Yang tersisa kini hanyalah catatan dan bayang-bayang.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini adalah melankolis, lirih, dan hening. Pembaca seolah diajak duduk di beranda rumah tua bersama penyair. Sunyi yang menggantung, suara daun, dan kicau burung menjadi latar suara yang memperkuat perasaan pilu dan penuh kerinduan. Kesunyian ini tidak hampa, tetapi kaya akan makna—seperti tempat yang pernah penuh cinta, kini menjadi ruang kontemplatif.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini menyampaikan bahwa waktu adalah sesuatu yang tak dapat diulang, namun kenangan adalah harta yang bisa terus dirawat dalam ingatan. Meski kita tak bisa kembali ke masa lalu, kita bisa menjaga nilai dan rasa yang pernah ada. Rumah, angin, suara burung, bahkan sekerat bulan pun bisa menjadi pengingat akan keindahan yang telah lewat. Dalam hidup yang terus melaju, puisi ini mengajak kita menjaga warisan batin, sejarah personal, dan kenangan-kenangan kecil yang membentuk siapa diri kita sebenarnya.
Imaji
Puisi ini sarat akan imaji visual, auditif, dan kinestetik yang hidup dan sugestif:
- Visual: “kursi, taplak meja, potret dinding”, “lembaran-lembaran lama”, “sekerat bulan” — semuanya memperkuat gambar suasana rumah dan kenangan masa lalu.
- Auditif: “kicau burung, suara daun”, “gemericik sungai” — bunyi-bunyian ini seolah menyapa kembali seperti masa lalu yang tak benar-benar pergi.
- Kinestetik: “termangu sendiri”, “kita tertawa”, “berbicara”, “melukis wangi bunga” — gerakan-gerakan kecil ini menghadirkan kembali denyut-denyut kehidupan yang kini tinggal jejak.
Majas
Puisi ini memperlihatkan kekayaan gaya bahasa, di antaranya:
Personifikasi:
- “rumah yang masih menyimpan angin”
- “langit tenang, suara daun” — benda-benda alam diberi nyawa untuk memperkuat suasana melankolis.
Metafora:
- “lembaran-lembaran lama” sebagai metafora dari ingatan hidup atau kisah masa lalu.
- “lukisan milik siapa-siapa” — hidup dan kenangan yang seharusnya menjadi warisan kolektif.
Simile (perumpamaan):
- “seperti masih menyimpan angin” — digunakan untuk menyampaikan bahwa kenangan terasa belum benar-benar hilang.
Repetisi:
- Pengulangan frasa seperti “kita”, “dulu”, dan “saat-saat” menambah ritme lirih dan mempertegas keintiman masa lalu.
Puisi “Bulan Sekerat” adalah cermin perasaan manusia yang berusaha berdamai dengan waktu. Lewat simbol-simbol rumah tua, bulan sekerat, dan suara alam, Handrawan Nadesul menangkap dengan jernih kerinduan yang tak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan. Ia tidak menawarkan solusi, hanya pengingat: bahwa kita semua pernah tertawa, berbagi, lalu berpisah dan hidup dalam catatan.
Sebagai puisi yang hingga kini masih terpampang di Rumah Sastra Gang Marpangat Tegal, “Bulan Sekerat” adalah monumen kecil tentang kenangan yang tak ingin dilupakan, sekaligus pelajaran bahwa hidup bukan hanya tentang yang berjalan ke depan, tapi juga tentang yang kita rawat dari belakang.
