Puisi: Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi (Karya Handrawan Nadesul) Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi Terkesima aku pada semak pohon dan ilalang Ribuan tahun bertekun merangkai lereng Meratus Memberi hijau pa…
Puisi: Jatuh Malam di Stasiun Kecil (Karya Handrawan Nadesul) Jatuh Malam di Stasiun Kecil bulan tipis berangsur mekar lampu di peron bergoyang-goyang saat peluit kereta penghabisan suara anjing di tepi rel meng…
Puisi: Mimpiku Menembus Awan (Karya Handrawan Nadesul) Mimpiku Menembus Awan Mimpiku menembus awan Mencari yang dulu pernah kutanam Tunas di tiap rantingku Seperti ketika melamun di waktu kecil Ingat roti…
Puisi: Dalam Sepi Hidupku Termangu (Karya Handrawan Nadesul) Dalam Sepi Hidupku Termangu Kalau saja tahu di situ embunmu bertemu Tak perlu sejauh itu melayang kupu-kupumu Sebelum hari menemukan rembangku Sepi m…
Puisi: Semut dan Roti (Karya Handrawan Nadesul) Semut dan Roti semut duduk di atas roti di dalam roti ia telah tidur malam dua kali padahal yang punya roti baru mulai mereguk kopi kini semut telah …
Puisi: Potretmu Kusimpan di Hati (Karya Handrawan Nadesul) Kobe Potretmu Kusimpan di Hati Peta Kobe terseka dari tanganku Lupa mencatat Yoko Ono bukan di situ Ingat Kobe ingat Prijono dulu Orang Jawa mengika…
Puisi: Semut Kehilangan Manusia (Karya Handrawan Nadesul) Semut Kehilangan Manusia Di Dalam Roti Ketika mati semut melihat betapa sebuah surga Tapi ke sana ia tak pernah sampai merasa suka Surga semut hanya …
Puisi: Setelah Kutinggalkan Loksado (Karya Handrawan Nadesul) Selembar Kartupos Tak Terkirim Setelah Kutinggalkan Loksado Sisakan untukku sehelai kayu manis kehidupan Menemaniku mencari rasa wangi ujung petetira…
Puisi: Setelah Kudengar Sebuah Konser (Karya Handrawan Nadesul) Setelah Kudengar Sebuah Konser Aku Mengingat Semua yang Dulu Aku merekam rindumu Dengan setangkai bunga Kuncup yang dulu kusemat di relungmu Kini hil…
Puisi: Seperseribu Detik Y.A.D. (Karya Handrawan Nadesul) Seperseribu Detik Y.A.D. Seperti janji ketika usiaku berangkat rembunai ayo, tariklah kancing bajuku, dan hitung dosa-dosaku! Kita tak pernah punya h…
Puisi: Bulan Sekerat (Karya Handrawan Nadesul) Bulan Sekerat di Marpangat 468 Sebuah elegi buat pak piek Duduk di beranda rumah tua Kursi, taplak meja, potret dinding Termangu sendiri Seperti masi…
Puisi: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia (Karya Handrawan Nadesul) Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia Bangga aku jadi rakyat Indonesia Guru lapar masih tertawa Anak makan tiwul…