Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Bunga Wijayakusuma (Karya Kang Thohir)

Puisi "Bunga Wijayakusuma" karya Kang Thohir bercerita tentang seseorang yang sedang merefleksikan hidup dalam kesunyian, menyadari kekosongan ...

Bunga Wijayakusuma


Irus tanpa haus melambai angan
Sepi, sunyi mengitari ruangan kekosongan
Menangkap peristiwa zaman
Tadah hujan
Memuncak di cakrawala
Sungai-sungai kian surut
Batin tersiksa membalut
Biarkan aku seperti bunga wijayakusuma
Ketika malam mekar dan pagi mengecup


Brebes, 14 Juli 2025

Analisis Puisi:

Puisi "Bunga Wijayakusuma" karya Kang Thohir menyiratkan keheningan dan permenungan di tengah kekosongan hidup yang terus berjalan. Dalam bait-bait pendek yang sarat makna, penyair membangun suasana batin yang sunyi namun kuat secara spiritual. Melalui metafora bunga wijayakusuma yang mekar di malam hari dan menyambut pagi, puisi ini seolah menjadi simbol harapan yang muncul dari gelapnya kesendirian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keteguhan jiwa dalam menghadapi kehampaan dan pergulatan batin, dengan simbol utama berupa bunga wijayakusuma, yang dikenal sebagai bunga mistis yang mekar di malam hari. Di balik kesunyian dan penderitaan, penyair menunjukkan adanya kekuatan untuk tetap mekar dan bersinar dalam gelap.

Makna Tersirat

Makna tersirat yang menonjol dalam puisi ini adalah tentang ketahanan jiwa di tengah penderitaan dan kesepian zaman. Larik “Irus tanpa haus melambai angan” dan “Sepi, sunyi mengitari ruangan kekosongan” memperlihatkan suasana batin yang tidak hanya kosong, tetapi juga lapar akan makna. Namun, justru dari ruang sunyi itu muncul keinginan untuk menjadi seperti bunga wijayakusuma—yang mekar di malam, di saat yang lain tertidur dan tenggelam dalam gelap.

Bunga wijayakusuma di sini bisa dibaca sebagai lambang spiritualitas, harapan, dan kekuatan batin yang tidak bergantung pada kondisi luar. Ia tumbuh dan mekar diam-diam, tanpa hingar-bingar, namun membawa arti yang dalam.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sedang merefleksikan hidup dalam kesunyian, menyadari kekosongan ruang dan waktu, serta menampung penderitaan batin. Di tengah segala itu, ia ingin menjadi seperti bunga wijayakusuma—yang tidak menuntut, tidak mengeluh, tapi tetap setia mekar meski hanya sesaat. Ini adalah cerita tentang kerendahan hati dan penerimaan terhadap hidup, sambil tetap menjaga kekuatan untuk "mekar" pada saat yang tepat.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini sangat hening, sunyi, dan kontemplatif. Kesepian tidak digambarkan sebagai sesuatu yang mengerikan, tetapi sebagai ruang spiritual tempat seseorang menyadari keadaan zaman dan menggali makna hidup. Ada nuansa mistik yang menyelusup, apalagi dengan penggunaan simbol bunga wijayakusuma yang secara budaya dianggap sakral.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan utama yang tersirat dalam puisi ini adalah:
  • Jadilah kuat dalam kesunyian.
  • Jangan tunggu dunia bersorak untuk menjadi mekar.
  • Kesadaran dan keindahan bisa lahir dari penderitaan batin dan kehampaan.
  • Bunga sejati mekar dalam gelap, bukan karena dilihat, tetapi karena ia memang ingin hidup.
Dengan kata lain, puisi ini mengajak pembaca untuk menemukan makna, harapan, dan keindahan dalam sunyi, serta menghadapi zaman dengan ketabahan dan jiwa yang matang.

Imaji

Puisi ini mengandung imaji-imaji yang kuat secara visual dan emosional, di antaranya:
  • “Irus tanpa haus melambai angan” → menciptakan gambaran tanaman liar yang tetap hidup tanpa air, menggambarkan keteguhan dalam keterbatasan.
  • “Sepi, sunyi mengitari ruangan kekosongan” → membentuk ruang batin yang dingin dan sunyi.
  • “Sungai-sungai kian surut” → menggambarkan kehidupan yang merosot atau harapan yang mengering.
  • “Biarkan aku seperti bunga wijayakusuma” → membentuk imaji metaforis tentang keindahan yang tumbuh dalam senyap malam.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini meliputi:

Metafora:
  • “Batin tersiksa membalut” → menyiratkan penderitaan jiwa yang membungkus seluruh perasaan.
  • “Bunga wijayakusuma” → sebagai metafora untuk kekuatan, harapan, atau ketenangan spiritual.
Personifikasi:
  • “Sepi, sunyi mengitari ruangan kekosongan” → seolah-olah sepi dan sunyi adalah makhluk hidup yang bergerak.
Simbolisme:
  • Bunga wijayakusuma merupakan simbol utama dalam puisi ini. Dalam banyak budaya Jawa, bunga ini diyakini sebagai simbol kesucian, keabadian, dan harapan spiritual.
Puisi "Bunga Wijayakusuma" karya Kang Thohir adalah puisi pendek yang menyimpan kekuatan reflektif yang dalam. Dengan simbol utama bunga wijayakusuma, puisi ini mengajak pembaca untuk tidak menyerah pada sunyi dan kehampaan zaman. Justru dari kesepian dan penderitaan itu, seseorang bisa menemukan ketangguhan dan kemurnian batin yang sejati.

Dengan gaya bahasa yang penuh metafora dan simbol, puisi ini menjadi cerminan spiritual yang menyejukkan, seakan berbisik bahwa dalam gelap pun kita tetap bisa tumbuh, mekar, dan menjadi terang — meski hanya sejenak. Dan mungkin, sejenak itu cukup untuk meninggalkan jejak keabadian.

Kang Thohir
Puisi: Bunga Wijayakusuma
Karya: Kang Thohir

Biodata Kang Thohir:
  • Kang Thohir, merupakan nama pena dari Muhammad Thohir/Tahir (biasa disapa Mas Tair), lahir di Brebes, Jawa Tengah.
  • Kang Thohir suka menulis sejak duduk di bangku kelas empat SD sampai masuk ke Pondok Pesantren. Ia menulis puisi, cerpen dan lain sebagainya.
© Sepenuhnya. All rights reserved.