Catatan Seorang Musafir
kauisyaratkan padaku. Risau
bila saatnya duka kan sayap
burung bangkai
malaekat pembawa string. Menukik dari tebing kehidupan
patah. Langit patah di dalam garba
seorang gadis bunting. Hanya tangis di dalamnya
menunggu tanganmu. Ketika sahabatku
berangkat membakar ladang ilalang
kau berdua memasuki kota. Luth membuka pintu
ketika malam mengetukkan nafsu
- jangan kalian ganggu tamuku
perbuatlah menurut maumu
atas kedua anak gadisku
ah! Lenyaplah pintu oleh sabda
dan hanguslah. Sodom dan Gomora
1976
Sumber: Horison (Februari, 1978)
Analisis Puisi:
Puisi “Catatan Seorang Musafir” karya Joss Sarhadi adalah puisi yang berlapis-lapis: menyatukan mitologi, sejarah keimanan, dan tragedi kemanusiaan dalam satu aliran naratif puitik. Puisi ini menghadirkan suasana apokaliptik yang penuh simbol, seperti fragmen dari sebuah wahyu kuno yang ditulis oleh seorang pengembara. Dengan gaya surealis dan simbolik, puisi ini menggiring pembaca pada perenungan mendalam tentang kehancuran moral, kematian spiritual, dan kehadiran ilahi dalam lanskap dunia yang goyah.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehancuran moral dan kemanusiaan yang membawa azab dan penyesalan. Referensi terhadap kota Sodom dan Gomora—simbol peradaban yang dibinasakan Tuhan karena kemerosotan moral—menggarisbawahi bagaimana kebebasan nafsu yang tak terkendali membawa kehancuran massal.
Tema lainnya yang muncul adalah kepergian, penantian, dan kesaksian musafir terhadap keruntuhan zaman. Sang musafir dalam puisi ini bukan hanya seorang pelancong fisik, tetapi juga pelancong spiritual dan batiniah, yang menyaksikan sejarah dan waktu meledak dalam bentuk penderitaan dan kehilangan nilai.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini merujuk pada peringatan tentang bahaya dekadensi moral dan ketidakpedulian terhadap nilai-nilai spiritual. Saat “duka kan sayap burung bangkai” dan “langit patah di dalam garba seorang gadis bunting,” kita diajak merenungi dunia yang sudah kehilangan arah: langit sebagai simbol ketuhanan pun retak dalam kandungan seorang perempuan—simbol kehidupan baru yang justru diiringi keputusasaan.
Peristiwa Sodom dan Gomora tak sekadar disajikan sebagai sejarah kitab suci, melainkan sebagai cermin zaman modern: bahwa kehancuran bisa berulang jika manusia tetap mengejar hawa nafsu dan mengabaikan suara kebenaran. Makna lainnya: bahwa musafir (sang penyair, atau siapa pun kita) harus menjadi saksi, bukan pelaku dari bencana spiritual.
Puisi ini bercerita tentang pengembaraan batin seorang musafir yang menyaksikan kehancuran dunia karena kebobrokan moral. Ia menyaksikan tragedi sosial, spiritual, dan eksistensial yang dibalut dalam simbol-simbol religius dan budaya. Ada gambaran malaikat, kota, pembakaran ladang ilalang (mungkin simbol dari pembersihan), gadis bunting, dan kota Sodom dan Gomora.
Narasi ini tak bersifat linier, melainkan seperti catatan jurnal seorang musafir yang mencatat fragmen-fragmen peristiwa dunia dalam lensa spiritual.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang muncul dalam puisi ini adalah gelap, genting, apokaliptik, dan penuh tekanan emosional. Pembaca seolah memasuki dunia yang sedang runtuh, penuh isyarat ketakutan, kehancuran, dan kematian spiritual. Kesan suram ini dikuatkan oleh gambaran tentang tangis, langit patah, dan kota yang hangus.
Suasana ini sangat kuat membentuk pembaca untuk ikut merenung dan merasakan muramnya zaman yang disebutkan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat puisi ini sangat tajam dan berani: janganlah manusia larut dalam hawa nafsu dan dekadensi moral, karena kehancuran pasti datang jika nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual diabaikan. Referensi terhadap peristiwa Sodom dan Gomora bukan hanya narasi sejarah, melainkan peringatan keras bagi dunia masa kini.
Pesan lainnya adalah bahwa kesaksian dari seorang musafir—yang mengamati dan tidak hanyut dalam arus—adalah penting. Menjadi saksi dan pencatat sejarah bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap kehancuran sistemik.
Imaji
Puisi ini sangat kaya akan imaji simbolik dan religius. Beberapa imaji yang mencolok:
- “Sayap burung bangkai” → simbol kematian, kebusukan, atau kejatuhan spiritual.
- “Langit patah di dalam garba seorang gadis bunting” → gambaran paradoks antara harapan (kelahiran) dan kehancuran.
- “Tangis di dalamnya menunggu tanganmu” → menggambarkan bahwa dunia ini menunggu pertolongan dari manusia-manusia bijak.
- “Membakar ladang ilalang” → bisa dimaknai sebagai upaya pembersihan atau revolusi, baik fisik maupun spiritual.
- “Pintu lenyap oleh sabda” dan “Sodom dan Gomora hangus” → puncak kehancuran yang datang bukan karena kekuatan manusia, tapi keputusan ilahi.
Majas
Majas dalam puisi ini sangat dominan, menambah kekuatan ekspresi dan kedalaman makna:
- Metafora: Hampir seluruh larik merupakan metafora. Misalnya, “langit patah”, “burung bangkai”, “garba”, “nafsu mengetuk malam”.
- Simbolisme: Kota Sodom dan Gomora menjadi simbol kejatuhan peradaban.
- Personifikasi: Misalnya, “malam mengetukkan nafsu”—memberi sifat manusia pada malam.
- Alegori: Puisi ini juga dapat dibaca sebagai alegori moral atau spiritual tentang masyarakat modern.
Puisi “Catatan Seorang Musafir” karya Joss Sarhadi adalah puisi yang kaya makna dan penuh peringatan. Ia tak hanya mengisahkan perjalanan fisik seorang musafir, tapi juga perjalanan spiritual dan kesadaran moral seorang manusia yang menyaksikan zaman jatuh ke jurang kehancuran karena hilangnya nilai-nilai luhur.
Melalui simbol yang kuat, suasana yang suram, dan referensi religius yang tajam, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungi keberadaan dirinya dalam dunia yang terus bergerak menjauh dari kebenaran dan kedamaian. Barangkali kita semua adalah musafir—yang punya pilihan untuk diam, ikut larut, atau menjadi saksi dari runtuhnya peradaban yang kehilangan arah.
Puisi: Catatan Seorang Musafir
Karya: Joss Sarhadi
Biodata Joss Sarhadi:
Nama lengkapnya adalah Joseph Suminto Sarhadi.