Sumber: Horison (Januari, 1978)
Analisis Puisi:
Puisi “Gajah dan Semut” karya Sutardji Calzoum Bachri adalah puisi pendek dan padat, dengan gaya yang khas minimalis dan eksperimental. Penyair menggunakan citraan sederhana—gajah dan semut—untuk membangun metafora tentang ketegangan, perbedaan, dan perjalanan batin.
Meskipun ringkas, puisi ini memiliki ritme dan kesan visual yang kuat, mengundang pembaca untuk merenungkan hubungan antara kekuatan, kerentanan, dan pengalaman emosional.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah perbedaan ukuran dan kekuatan, serta perjalanan batin yang kompleks. Gajah dan semut hadir sebagai simbol ketidakseimbangan antara fisik dan roh, antara kekuatan dan kerentanan.
Tema lain yang menyertai adalah kontemplasi tentang perjalanan hidup dan dinamika emosi, diwakili oleh kata terakhir: “perjalanan kalbu”.
Puisi ini bercerita tentang interaksi simbolik antara gajah dan semut. Tujuh gajah digambarkan cemas saat meniti sesuatu yang rapuh—“jembut serambut”—sementara tujuh semut turun dari gunung sambil terkekeh.
Peristiwa ini bukan sekadar tentang hewan, tetapi menggambarkan perjalanan batin dan dinamika perasaan, di mana rasa cemas dan keberanian, keseriusan dan kelucuan, hadir berdampingan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kehidupan melibatkan ketegangan antara kekuatan besar dan hal-hal yang tampak kecil, tetapi berpengaruh, seperti hubungan antara gajah dan semut.
Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa perjalanan batin (kalbu) kadang harus melewati situasi canggung, menakutkan, atau tak terduga, di mana ketakutan dan tawa muncul bersamaan.
Suasana dalam Puisi
Puisi ini menghadirkan suasana cemas sekaligus ringan. Kata “cemas” untuk gajah dan “terkekeh” untuk semut menciptakan kontras yang membangun ketegangan namun juga humor subtil.
Suasana ini memperlihatkan dinamika batin yang kompleks: takut, cemas, dan geli berada dalam satu ruang metaforis.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah kesadaran tentang perjalanan batin yang tidak selalu mulus, di mana keberanian, ketakutan, humor, dan ketegangan hadir bersamaan.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa besar atau kecil, kuat atau lemah, semuanya memiliki peran dalam perjalanan kehidupan dan kalbu.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: gajah digambarkan cemas, semut terkekeh.
- Metafora: gajah dan semut sebagai simbol kekuatan dan kelemahan, atau pengalaman besar dan kecil dalam kehidupan.
- Simbolisme: “perjalanan / kalbu” sebagai lambang perjalanan batin dan refleksi eksistensial.
Puisi “Gajah dan Semut” karya Sutardji Calzoum Bachri menunjukkan bahwa kesederhanaan bahasa tidak mengurangi kedalaman makna. Dengan padatan kata dan ritme yang terjaga, puisi ini mengajak pembaca merenungkan ketegangan, humor, dan perjalanan batin dalam kehidupan.
Meskipun singkat, puisi ini tetap menyimpan pengalaman emosional yang kaya, mengingatkan kita bahwa besar atau kecil, kuat atau lemah, semuanya memberi warna dalam perjalanan kalbu.
Karya: Sutardji Calzoum Bachri
Biodata Sutardji Calzoum Bachri:
- Sutardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, pada tanggal 24 Juni 1941.
- Sutardji Calzoum Bachri merupakan salah satu pelopor penyair angkatan 1970-an.