Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Hujan Pertama di Halaman Rumah (Karya Moh Akbar Dimas Mozaki)

Puisi "Hujan Pertama di Halaman Rumah" karya Moh Akbar Dimas Mozaki bercerita tentang seseorang yang mengenang masa lalu ketika hujan pertama turun.

Hujan Pertama di Halaman Rumah


Hujan pertama selalu mengingatkanmu,
tentang aroma tanah basah dan tawa kecilmu.
Kini, hanya suara rintiknya
yang mengisi ruang kosong di dadaku.

Juli, 2025

Analisis Puisi:

Puisi berjudul "Hujan Pertama di Halaman Rumah" karya Moh Akbar Dimas Mozaki adalah karya yang sederhana namun menyimpan kedalaman emosi yang kuat. Dalam baris-baris pendeknya, penyair berhasil membangun nuansa nostalgia, kehilangan, dan kesunyian yang menyentuh pembaca secara personal. Melalui penggunaan diksi yang lembut dan suasana yang hening, puisi ini menyajikan kontemplasi batin yang sangat intim.

Tema

Tema dalam puisi ini mengarah pada kenangan dan kehilangan. Hujan pertama dijadikan simbol yang membangkitkan memori, menyentuh sisi personal penyair terhadap seseorang yang pernah dekat, namun kini hanya tersisa sebagai bayangan dalam kenangan. Tema ini memperlihatkan hubungan antara alam dan emosi manusia, di mana peristiwa sederhana seperti turunnya hujan pertama mampu membangkitkan kembali ingatan akan cinta, masa kecil, atau momen-momen bahagia yang kini telah berlalu.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang masa lalu ketika hujan pertama turun. Dulu, hujan pertama membawa aroma tanah basah dan suara tawa seseorang yang dicintainya. Namun kini, suasana itu telah berubah: yang tersisa hanya bunyi hujan yang jatuh, menjadi semacam pengingat sunyi akan kehampaan dan kerinduan yang tertanam dalam dada sang penyair. Puisi ini tidak menjelaskan secara gamblang siapa sosok yang dikenang, tetapi nuansanya menunjukkan kedekatan emosional yang mendalam—bisa jadi seorang kekasih, anggota keluarga, atau teman yang telah pergi.

Makna Tersirat

Secara makna tersirat, puisi ini menyiratkan bahwa kenangan memiliki kekuatan untuk hidup kembali dalam bentuk-bentuk simbolis yang sederhana, seperti hujan, aroma tanah basah, atau suara tawa yang dulu pernah ada. Kehadiran fisik seseorang mungkin telah tiada, namun ingatan tentangnya tetap membekas dan hadir di waktu-waktu tertentu yang tak disangka. Hujan pertama bukan hanya fenomena alam, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara kenangan dan kenyataan.

Makna ini juga membawa pesan bahwa kehilangan tak selalu datang dengan teriakan, namun bisa muncul dalam keheningan yang menyesakkan. Rintik hujan menjadi medium meditasi batin bagi seseorang yang tengah merasakan kekosongan emosional.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini melankolis dan hening. Pembaca diajak masuk ke dalam ruang batin penyair yang terasa sepi, penuh kerinduan, dan sedikit getir. Hujan yang biasanya identik dengan kesegaran atau kesejukan justru dalam puisi ini menjadi simbol sunyi. Tidak ada kehangatan tawa seperti dulu, hanya suara rintik yang menjadi penanda kesendirian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat dari puisi ini adalah bahwa kita tak bisa lepas dari kenangan—terutama kenangan terhadap orang-orang yang pernah mengisi hidup kita dengan tawa dan kebahagiaan. Meski mereka telah pergi, baik secara fisik maupun emosional, jejak mereka tetap hidup dalam hal-hal kecil yang menyentuh: suara hujan, aroma tanah, atau bahkan ruang kosong di hati kita.

Puisi ini juga menyampaikan bahwa kesedihan adalah bagian dari perjalanan manusia, dan bahwa mengenang seseorang yang telah tiada bukanlah kelemahan, melainkan bukti bahwa cinta dan ikatan emosional adalah sesuatu yang abadi, tak lekang oleh waktu.

Imaji

Puisi ini memunculkan imaji visual dan olfaktori (penciuman) yang kuat. Misalnya pada frasa “aroma tanah basah” dan “tawa kecilmu”, pembaca bisa membayangkan suasana khas awal musim hujan dan memori yang terhubung dengan suara anak-anak atau orang tercinta. Imaji tersebut membantu memperkuat suasana nostalgia dan memperdalam efek emosional puisi.

Majas

Beberapa majas juga tampak dalam puisi ini, meskipun halus dan tidak eksplisit. Misalnya:
  • Personifikasi: “Hujan pertama selalu mengingatkanmu,” memberi kesan bahwa hujan bisa mengingat, padahal tentu saja hujan tidak memiliki kemampuan untuk itu. Ini adalah bentuk personifikasi untuk memberi kedalaman makna emosional.
  • Metafora: “ruang kosong di dadaku” adalah metafora untuk kekosongan batin atau kehilangan yang dialami penyair.
Puisi "Hujan Pertama di Halaman Rumah" karya Moh Akbar Dimas Mozaki merupakan cermin refleksi batin yang menyentuh perasaan pembaca dengan cara yang sederhana namun dalam. Ia menyatukan elemen hujan, tanah, dan kenangan menjadi satu kesatuan puisi yang intim. Hujan tak hanya menjadi fenomena cuaca, melainkan saksi bisu dari kehilangan dan kenangan. Dalam sunyi itulah, puisi ini berbicara: bahwa segala hal yang pernah membuat kita bahagia juga bisa menjadi sumber rindu yang perih, dan bahwa kesedihan pun punya puisinya sendiri.

Moh Akbar Dimas Mozaki
Puisi: Hujan Pertama di Halaman Rumah
Karya: Moh Akbar Dimas Mozaki

Biodata Moh Akbar Dimas Mozaki:
  • Moh Akbar Dimas Mozaki, mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Universitas Andalas.
© Sepenuhnya. All rights reserved.