Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Ibuku Suatu Malam (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi “Ibuku Suatu Malam” karya Sugiarta Sriwibawa bercerita tentang seorang anak yang melihat ibunya tertidur di malam hari, mungkin untuk ...
Ibuku Suatu Malam

ini jatuh menggema
ke hati di malam
dingin ibu
kutinggal sedang sedang
tidur tak berselimut
di kamar redup redup
dengan jendela terbuka

dan gordyn kesah
berkebar jagakan
pelahan mimpinya asing
mengesan di layup mata:

        anakku di halaman asyikkan bulan

lagi jatuh melanjut
ke malam jauh
akupun mimpi punya
dirangkai angin mengusap
sayup dari gunung
jauh berlagu rayu:

        mari turutkan kisah
        bulan sendiri di halaman
        rumah yang berpagar rendah
        dan besok
        besok tuturkan pada ibumu

adalah terasa panca indera
gerhana dan awan dan cahya
pada bayangan dan tunggul tubuhku
sendiri sepi
pohon
rumahku
kamar dengan jendela terbuka

dan tika fajar datang ke kamar ibu
dia bangun sendiri dari mimpi pagi:

        semalam anakku sungguh
        cintaku bulan

Sumber: Majalah Siasat (31 Mei 1953)

Analisis Puisi:

Puisi “Ibuku Suatu Malam” karya Sugiarta Sriwibawa merupakan salah satu karya liris yang menyentuh, mengajak pembaca menyelami relasi batin antara seorang anak dan ibunya dalam lanskap malam yang sunyi, penuh renungan, dan magis. Dalam baris-barisnya yang melankolis dan imajinatif, puisi ini tidak hanya mengangkat narasi personal, tetapi juga menyuarakan keagungan cinta seorang ibu dan rasa bersalah yang hening dari seorang anak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kasih sayang ibu dan perasaan bersalah atau kehilangan dari sudut pandang sang anak. Puisi ini menghadirkan keintiman emosional yang terjadi dalam diam dan jarak. Sang anak yang meninggalkan ibunya tidur sendiri di kamar, memunculkan refleksi mendalam tentang cinta, kerinduan, dan ingatan yang datang melalui mimpi dan simbol-simbol alam.

Makna Tersirat

Puisi ini menyimpan banyak makna tersirat yang menggugah:
  • Kehadiran sang anak secara fisik yang menjauh—mungkin karena merantau, tumbuh dewasa, atau bahkan kematian—digantikan oleh hadirnya kenangan dan cinta yang tetap melekat dalam mimpi sang ibu.
  • Baris “kutinggal sedang sedang / tidur tak berselimut” menggambarkan kerapuhan dan kesendirian ibu, yang tetap hadir meski dalam kondisi redup, diam, dan sederhana.
  • “Anakku di halaman asyikkan bulan” adalah bisikan mimpi sang ibu yang penuh cinta. Bayangan sang anak tetap indah, tetap dekat, bahkan jika ia telah jauh secara fisik.
Puisi ini menyiratkan kerinduan yang tak terucapkan dan perasaan tidak cukup membalas cinta ibu, yang muncul dari dalam mimpi dan suasana malam.

Secara naratif, puisi ini bercerita tentang seorang anak yang melihat ibunya tertidur di malam hari, mungkin untuk terakhir kalinya, atau dalam konteks perpisahan. Ia meninggalkan ibunya di kamar yang redup dan terbuka, dan dalam kepergian itu, terjalin hubungan mimpi antara ibu dan anak—sang ibu bermimpi tentang anaknya di halaman rumah yang bercengkerama dengan bulan.

Cerita ini tidak linier, melainkan mengalun seperti musik lirih, menyatukan realitas, ingatan, dan mimpi dalam satu narasi yang mendalam.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi sangat hening, sepi, dan magis. Ada kesan malam yang lembut, namun juga mengandung duka dan kerinduan. Kesendirian ibu di kamar yang redup, angin malam yang membawa nyanyian dari gunung, serta bayangan sang anak di bawah bulan menciptakan suasana batin yang syahdu dan kontemplatif.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan utama puisi ini adalah penghormatan terhadap cinta seorang ibu yang senantiasa hadir, bahkan ketika anak telah jauh. Puisi ini juga menjadi refleksi bagi pembaca: bahwa rasa bersalah, rindu, dan cinta harus diungkapkan sebelum semuanya menjadi kenangan.

Ada juga pesan spiritual yang mendalam: bahwa hubungan antara ibu dan anak tidak hanya sebatas fisik, tetapi berlangsung dalam mimpi, dalam keheningan malam, dalam simbol-simbol semesta.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan auditif yang menciptakan dunia puitik begitu nyata:
  • “kamar redup redup / dengan jendela terbuka” → menciptakan visual kesepian dan keterbukaan batin.
  • “gordyn kesah berkebar jagakan pelahan mimpinya asing” → menyiratkan pergerakan halus dan magis, seperti belaian angin pada pikiran yang mengembara.
  • “sayup dari gunung / jauh berlagu rayu” → membentuk imaji suara lirih, suara malam, suara alam yang mengisi ruang batin sang anak.
  • “fajar datang ke kamar ibu” → transisi waktu yang kuat secara visual dan emosional, menyimbolkan harapan dan kebangkitan.

Majas

Puisi ini diperkaya oleh berbagai majas yang indah dan mendalam, di antaranya:
  • Personifikasi: “gordyn kesah berkebar jagakan pelahan mimpinya” → memberi peran pelindung kepada tirai.
  • Metafora: “cintaku bulan” → bulan digunakan sebagai simbol anak yang jauh, namun tetap dicintai dan dicari dalam keheningan.
  • Repetisi: Kata “jatuh” dan “malam” yang muncul lebih dari sekali memperkuat nuansa kesedihan dan keterjerembaban dalam waktu yang hening.
  • Hiperbola: “gerhana dan awan dan cahya pada bayangan dan tunggul tubuhku sendiri sepi” → memperlihatkan intensitas kesendirian dan kehilangan secara berlapis-lapis.
Puisi “Ibuku Suatu Malam” karya Sugiarta Sriwibawa adalah pernyataan cinta yang lirih, dalam, dan puitik terhadap sosok ibu, dinarasikan dari sudut pandang sang anak yang penuh kerinduan. Dalam keterbatasan ruang dan waktu, cinta tetap hidup, berpindah ke dimensi mimpi, alam, dan perasaan. Puisi ini menjadi pengingat bahwa kasih ibu adalah keabadian yang tak tergantikan, dan bahwa seorang anak selamanya akan menjadi bulan yang dicintai dalam langit mimpi ibunya.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Ibuku Suatu Malam
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.