Puisi: Kota yang Menyimpan Luka (Karya Moh Akbar Dimas Mozaki)

Puisi “Kota yang Menyimpan Luka” bercerita tentang seseorang yang mengenang masa lalu bersama seseorang di sebuah kota. Ada tapak langkah yang dulu ..

Kota yang Menyimpan Luka


Ada sudut di kota ini
yang menyimpan tapak langkah kita
Tapi kini sunyi lebih tahu
cara menyebut namamu
dari mulutku yang takut bicara.

Juli, 2025

Analisis Puisi:

Puisi pendek namun menyentuh karya Moh Akbar Dimas Mozaki yang berjudul "Kota yang Menyimpan Luka" adalah perwujudan estetika kesedihan yang ringkas namun padat makna. Lewat penggambaran sebuah sudut kota yang menyimpan kenangan, penyair menghadirkan dunia batin penuh kehilangan, kenangan, dan perasaan yang tak lagi dapat diungkapkan dengan kata-kata.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang masa lalu bersama seseorang di sebuah kota. Ada tapak langkah yang dulu pernah ditinggalkan bersama, namun kini hanya tinggal jejak dan kenangan. Waktu dan jarak, atau barangkali perpisahan, telah membuat mulut si aku liris tidak lagi mampu menyebut nama orang itu. Sebaliknya, sunyi—yang biasanya kosong—kini menjadi lebih fasih dalam mengenang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan dan kehilangan. Meski dituturkan secara sangat singkat, penyair berhasil menyampaikan bagaimana perasaan kehilangan bisa melekat kuat pada tempat-tempat tertentu, hingga membuat kota itu seolah menyimpan luka. Ini adalah tema yang banyak ditemukan dalam puisi kontemporer yang membicarakan nostalgia dan trauma personal dalam relasi emosional.

Makna Tersirat

Secara lebih dalam, makna tersirat dari puisi ini adalah keterbatasan manusia dalam menghadapi kehilangan dan trauma. Ketika seseorang tidak lagi mampu mengucapkan nama orang yang pernah dekat, itu menandakan luka yang belum sembuh. Sunyi yang lebih tahu bagaimana menyebut nama tersebut menunjukkan bahwa kenangan telah berpindah dari ekspresi verbal ke ruang batin yang hanya bisa diakses melalui perasaan, bukan kata-kata.

Selain itu, puisi ini juga dapat dimaknai sebagai kritik lembut terhadap keberadaan kota yang terus bergerak dan hidup, sementara luka-luka penghuninya terpendam dan diam-diam menjadi bagian dari lanskapnya.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini sangat melankolis dan kontemplatif. Ada rasa sepi, kehilangan, dan diam yang mendalam. Sunyi menjadi tokoh tak kasat mata yang begitu kuat dalam puisi ini—ia bukan hanya suasana, tapi juga saksi dan bahkan pengganti dari ekspresi lisan si aku liris.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat dalam puisi ini adalah mengajak pembaca untuk memahami bahwa kehilangan bisa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari ruang hidup kita, dan kadang-kadang, kota pun bisa menyimpan luka seperti manusia. Namun, dalam keterbatasan kata dan keberanian untuk bicara, sunyi bisa menjadi jembatan kenangan yang paling jujur.

Ada pula amanat tentang keberanian mengakui luka, bahwa tidak semua perasaan harus diucapkan. Ada luka yang justru lebih jujur ketika dibiarkan tinggal dalam diam.

Imaji

Puisi ini memunculkan imaji yang kuat tentang ruang kota dan perasaan batin:
  • “Ada sudut di kota ini” menggambarkan lokasi fisik yang penuh kenangan. Imaji visual ini kuat, membawa pembaca membayangkan gang kecil, taman, jembatan, atau tempat manapun yang pernah menjadi saksi hubungan dua manusia.
  • “sunyi lebih tahu cara menyebut namamu” adalah imaji auditif dan emosional. Sunyi menjadi personifikasi dari kenangan yang terus berbisik meskipun suara telah hilang.
  • “dari mulutku yang takut bicara” memperkuat suasana tertekan, membuat pembaca bisa merasakan ketercekikan emosi dan rasa kehilangan yang dalam.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas yang memperkuat kesan artistik:
  • Personifikasi: “sunyi lebih tahu cara menyebut namamu” adalah contoh paling jelas dari personifikasi. Sunyi diberikan kemampuan untuk “menyebut nama”, sesuatu yang hanya bisa dilakukan manusia. Ini memperkuat kesan bahwa sunyi menjadi penjaga kenangan paling setia.
  • Metafora: “tapak langkah kita” digunakan sebagai metafora untuk kenangan atau perjalanan bersama yang pernah dijalani. Ini bukan sekadar langkah fisik, tetapi jejak emosional yang tertinggal.
  • Elipsis: Struktur puisi yang pendek dan kalimat-kalimatnya yang tak menjelaskan secara langsung siapa dan apa, adalah bentuk elipsis. Teknik ini menyisakan ruang tafsir yang luas bagi pembaca, membuat puisi terasa universal.
Puisi “Kota yang Menyimpan Luka” adalah contoh puisi pendek yang menyimpan kedalaman makna luar biasa. Lewat pilihan kata yang ekonomis dan penuh simbol, Moh Akbar Dimas Mozaki menghadirkan perasaan kehilangan yang tak disuarakan namun terasa nyata. Dengan tema kenangan dan makna tersirat tentang luka yang tak terucap, puisi ini menyuguhkan imaji dan majas yang kuat serta membangun suasana melankolis yang membekas. Puisi ini tidak hanya bercerita tentang cinta yang hilang atau masa lalu yang membekas, tetapi juga mengajarkan bahwa kadang, sunyi lebih jujur dari kata-kata.

Moh Akbar Dimas Mozaki
Puisi: Kota yang Menyimpan Luka
Karya: Moh Akbar Dimas Mozaki

Biodata Moh Akbar Dimas Mozaki:
  • Moh Akbar Dimas Mozaki, mahasiswa S1 Sastra Indonesia, Universitas Andalas.
© Sepenuhnya. All rights reserved.