Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Lapangan Bola (Karya Isma Sawitri)

Puisi "Lapangan Bola" karya Isma Sawitri mencerminkan kekecewaan, kekhawatiran, keraguan, dan aspirasi tentang masa depan Indonesia.
Lapangan Bola

Sepenggal sisa usiaku terbawa larut ke abad duapuluhsatu
Bersalut rasa gundah, bertato kinerja bangsa yang tampaknya enggan berubah
Sewaktu-waktu kalut berganti takut, waswas beralih jadi cemas
Tolong katakan, ada atau tak lagi ada sosok Indonesia kelak
Mungkinkah negriku punah tergilas, dicemooh seisi dunia, sirna rupa, hilang nama?
"Entah", kau menjawab gusar, "terlalu banyak yang menyalah"

Sisa usia ini kubayangkan sebening air sungai di kampung halamanku
Juga kuangankan benderang, secerah matahari menyembul di pucuk-pucuk bambu
Berdendangkan bunyi-bunyian alam, bercumbu-pacu ombak samudra
Tiap detik akan sangat berharga, hari-hari selalu bermakna

Sejauh-jauh kaki melangkah, menyatu jiwa dan tumpahdarah, satu negeriku indah pemurah
Terlalu pemurah untuk bangsa yang sukmanya tak terbangkitkan, kinerjanya melata di semua percaturan
Dan inisiatifnya mandek di meja-meja perundingan
Maka camkanlah bahwa kita seperti dijangkiti sindrom kesia-siaan, bahwa negara kian tak jelas arah
Lalu, entah dari langit mana datangnya, tersingkap rahasia tentang Indonesia yang tak lama lagi akan jadi lapangan bola raksasa
Dan di situlah konon, para mnc berlaga sebebas-bebasnya

Pada saat itu tak kau temukan lagi kolam susu yang disenandungkan Koes Plus dulu
Gita Pulau Kelapa tak lagi ditingkahi bisik-bisik raja kelana, sebab deru globalisasi telah menghalaunya entah ke mana
Rumpun padi kepada siapa moyangmu berjanji, lenyap berganti rumpun-rumpun besi
Gunung-gunung masih berdiri, hanya tak menyisakan tempat bagimu untuk kembali

Sepenggal sisa usiaku tak seharusnya kuparkir di pinggir lapangan bola raksasa
Menyaksikan pemain tak kukenal yang agresif beraksi sesuka-suka mereka
Puah, aku menyumpah, memang sudah terlalu banyak yang menyalah
Puasisih, aku merintih, kapan segalanya kembali jadi Merahputih, Sang Merahputih

2006

Catatan:
MNC = Perusahaan multi nasional.

Analisis Puisi:

Puisi "Lapangan Bola" karya Isma Sawitri adalah sebuah refleksi mendalam tentang kondisi Indonesia dan arah ke depannya. Dalam puisi ini, Isma Sawitri menyampaikan kekhawatiran, keraguan, dan aspirasi tentang masa depan negaranya.

Penyampaian Kekhawatiran Terhadap Nasib Bangsa: Puisi ini dimulai dengan ungkapan kekhawatiran terhadap masa depan Indonesia. Kata-kata yang dipilih, seperti "waswas", "cemas", dan pertanyaan mengenai keberadaan sosok Indonesia di masa mendatang, menggambarkan kegelisahan terhadap masa depan negara.

Perbandingan dengan Masa Lalu: Isma Sawitri menggunakan imaji-imaji yang menggambarkan masa lalu yang lebih tenang dan penuh warna dalam ingatan tentang Indonesia. Dia merindukan suasana yang lebih damai, yang disimbolkan dengan secercah sinar matahari, melodi alam, dan kenangan lagu-lagu tradisional yang menggambarkan keindahan budaya Indonesia.

Kritik Terhadap Kondisi Sekarang: Puisi ini juga mencakup kritik terhadap kondisi saat ini, terutama dalam hal kepemimpinan, keputusan, dan arah negara. Penggunaan kata-kata seperti "sindrom kesia-siaan" dan "tak jelas arah" menunjukkan ketidakpastian dan kebingungan akan masa depan bangsa.

Perumpamaan dengan Lapangan Bola Raksasa: Penyebutan lapangan bola raksasa sebagai metafora untuk Indonesia yang sedang menjadi ajang pertarungan dan pengaruh eksternal menunjukkan perasaan kehilangan jati diri dan kedaulatan. Kehadiran "para mnc" (multinational corporations) dalam pengaturan dan pengaruh menjadi sorotan kritis.

Kesedihan dan Kerinduan Akan Masa Lalu: Isma Sawitri mengungkapkan rasa kesedihan, kekecewaan, dan kerinduannya akan masa lalu yang hilang dan kebingungan mengenai bagaimana melanjutkan ke arah yang lebih baik.

Tantangan untuk Kembali ke Nilai-Nilai Asli: Puisi ini juga mencerminkan rasa harap untuk kembali pada nilai-nilai dan identitas asli Indonesia ("Merahputih") serta mengingatkan tentang pentingnya menjaga budaya, nilai-nilai, dan kedaulatan bangsa.

Kesimpulan dan Harapan untuk Masa Depan: Dengan ungkapan keputusasaan atas keadaan saat ini, puisi ini juga menandakan harapan akan masa depan yang lebih baik dan kembalinya Indonesia kepada jati dirinya yang sejati.

Puisi "Lapangan Bola" karya Isma Sawitri mencerminkan kompleksitas dan perasaan penulis terhadap kondisi Indonesia. Dari ekspresi kekecewaan dan kekhawatiran hingga harapan akan perbaikan, puisi ini menawarkan refleksi yang kuat tentang realitas sosial dan politik negara tersebut.

Isma Sawitri
Puisi: Lapangan Bola
Karya: Isma Sawitri

Biodata Isma Sawitri:
  • Isma Sawitri lahir pada tanggal 21 November 1940 di Langsa, Aceh.
© Sepenuhnya. All rights reserved.