Mesinkawin
burung membuat sarang diluar bunga menjadi buah ditaman dua seksolog
membikin mesinkawin dari kotakkotakkotak daging diatas ranjang baut itu
telungkup sekrup per ingin berdenyut busi telanjang tiktaktiktaktiktak
cecak bersin orang mengisi bensin menghidupi mesin tiktaktiktaktiktaktiktak
baut mengangkang sekrup telungkup seksolok saling memasukkan per mulai
berdenyut dan busi mengerang tujuh enam lima empat tiga dua satu zero wau!
motor menderam roda menggelindingkan daging diatas daging diatas pelamin
diatas daging seksolog senyum laju bahtera laju tiktaktiktaktiktak cecak dan
aku tersipu seksolok senyum mau kau mencoba mesinkawin? tiktaktiktak
tiktaktiktaktiktak no no no no no no no no no no no mulut menjemput mulut
daging menjemput daging sekrup baut menangkup hati dan kelamin tiktak
tiktaktiktaktiktak seksolok senyum laju bahtera laju mau kau mencoba
mesinkawin? tiktaktiktaktiktak aku tak mau dikotak tak mau disekrup aku mau
daging dipadang aku mau burung terbang aku mau buah yang lapang tiktaktiktak
tiktaktiktak seksolok senyum laju bahtera laju mau kau memakai
mesinkawin stainless steel tahan goyang ditanggung sedap menggeliat sendiri
bebas dari penat? tiktaktiktaktiktaktiktaktiktaktiktak no no no no no no no no
no no no zzzzzzzzzzzz zzzzzzzzzzzz zzzzzzzzzzzz zzzzzzzzzzzz
zzzzzzzzzzz no zzzzzzzzzzz
1973
Sumber: Horison (September, 1975)
Analisis Puisi:
Puisi berjudul “Mesinkawin” karya Sutardji Calzoum Bachri adalah salah satu contoh utama dari keberanian penyair ini dalam membongkar bahasa, norma sosial, dan nilai-nilai seksual secara eksperimental dan provokatif. Sebagai tokoh utama dalam gerakan pembebasan kata di Indonesia, Sutardji tidak menulis puisi seperti penyair konvensional. Ia tidak hanya bermain makna, tetapi juga menciptakan semacam “mesin bunyi” dalam puisinya—yang penuh dentuman, pengulangan, ritme mekanistik, dan simbol-simbol tubuh.
Tema
Tema utama puisi “Mesinkawin” adalah komersialisasi dan mekanisasi seksualitas dalam kehidupan modern. Cinta dan seks, yang semestinya organik dan emosional, diubah menjadi sesuatu yang terstandarisasi, sistematis, dan bahkan terkesan industri—seperti mesin yang bisa diproduksi, digerakkan, dan dikendalikan.
Puisi ini bercerita tentang bagaimana tubuh manusia—khususnya dalam konteks seksual—diolah menjadi objek mekanis oleh sistem sosial atau teknologi. Dalam dunia puisi ini, ada sosok “seksolog” (atau “seksolok” dalam ejaan kreatif Sutardji) yang seolah menjadi ilmuwan atau teknisi yang merakit “mesin kawin”. Tubuh diibaratkan sebagai rangkaian sekrup, baut, per, dan busi. Ketika semua komponen itu bersatu, “motor” atau “mesin kawin” menyala dan beroperasi dengan ritme yang repetitif: tiktaktiktaktiktak.
Namun, tokoh liris dalam puisi akhirnya melakukan perlawanan terhadap sistem itu. Ia tidak ingin disekrup atau dikotak. Ia tidak mau menjadi bagian dari sistem dingin yang membuat tubuh menjadi produk industri. Ia menginginkan cinta yang bebas, liar, dan alami: "aku mau daging di padang / aku mau burung terbang / aku mau buah yang lapang."
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini sangat kaya. Di balik absurditas dan gaya visualnya yang “liar”, puisi ini menyampaikan kritik terhadap dehumanisasi tubuh dan seksualitas dalam budaya modern. Dalam dunia kontemporer yang makin serba teknologi dan materialistik, cinta dan hubungan seksual bukan lagi soal rasa, melainkan soal sistem dan efisiensi. Seks menjadi “komoditas” yang bisa diproduksi seperti mesin, dipasarkan seperti produk, dan dinikmati tanpa makna.
Sutardji juga seolah mengecam masyarakat yang dengan mudah menyerahkan tubuhnya pada sistem, pada “kotak-kotak”, pada teknologi yang menjanjikan kenikmatan tetapi kehilangan kemanusiaan. Suara penolakan sang tokoh liris—“no no no no”—berulang-ulang seperti protes keras terhadap modernitas yang menyesatkan.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini penuh dengan kegaduhan, ketegangan, absurditas, dan sekaligus ironi. Bunyi repetitif seperti “tiktaktiktaktiktak”, “no no no”, dan “zzzzzzzzz” menciptakan atmosfer mesin yang hidup—seperti berada di dalam pabrik cinta atau laboratorium seks. Puisi ini membentuk suasana industrial yang dingin, seragam, dan terasing dari emosi manusiawi.
Namun di sisi lain, puisi ini juga menyelipkan suasana perlawanan, kegelisahan eksistensial, dan bahkan humor sinis—dalam caranya menyindir masyarakat yang terlampau tunduk pada arus budaya pop, komodifikasi tubuh, dan obsesi terhadap kenikmatan instan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengandung pesan tentang pentingnya menjaga kemurnian cinta dan seksualitas dari pengaruh mekanisasi dan komodifikasi modern. Tubuh bukan mesin, cinta bukan prosedur teknis, dan seks bukan sekadar peristiwa teknologis.
Sutardji mengajak pembaca untuk mewaspadai budaya konsumtif yang menjual kebahagiaan dalam bentuk produk, termasuk dalam urusan cinta. Ia juga mengingatkan bahwa kebebasan manusia—dalam mencintai dan merasakan—harus lebih besar daripada kontrol sistem, baik sistem sosial, kapitalistik, maupun teknologi.
Imaji
Puisi ini sarat dengan imaji mekanik, seksual, dan industrial, di antaranya:
- “kotakkotakkotak daging”: menyiratkan tubuh yang dipaketkan seperti barang dagangan.
- “baut itu telungkup sekrup per ingin berdenyut”: menggambarkan aktivitas seksual dengan bahasa teknis.
- “motor menderam roda menggelindingkan daging di atas daging”: menyiratkan proses bercinta sebagai gerak mesin, kehilangan sentuhan manusiawi.
- “seksolok senyum”: gambaran dingin dari teknisi atau ilmuwan yang melihat seks sebagai eksperimen.
- “daging di padang”, “burung terbang”, “buah yang lapang”: imaji alam yang kontras sebagai simbol cinta yang bebas, alami, dan tidak dikendalikan sistem.
Majas
Puisi ini menggunakan sejumlah majas yang mendukung eksperimentasi gaya dan makna:
Metafora:
- “mesinkawin” sendiri adalah metafora utama: seks yang diperlakukan seperti mesin.
- “daging di atas daging” sebagai metafora seksual sekaligus kritik terhadap reduksi tubuh.
Personifikasi:
- “busi mengerang”, “motor menderam” — benda-benda teknis diberikan sifat manusiawi untuk menunjukkan bagaimana manusia sudah digantikan oleh mesin.
Repetisi:
- “tiktaktiktak”, “no no no”, “zzzzzzzzz” digunakan berulang-ulang sebagai gaya khas Sutardji, menciptakan efek suara dan tekanan psikologis tertentu.
Satire:
- Seluruh puisi bisa dibaca sebagai satir terhadap industri seks, iklan obat kuat, atau modernisasi hubungan yang terlalu teknologis.
Puisi “Mesinkawin” karya Sutardji Calzoum Bachri bukan puisi yang mudah, tetapi justru dalam kekacauannya itulah kita menemukan daya kritik yang tajam. Puisi ini bertema perlawanan terhadap mekanisasi cinta dan tubuh, serta bercerita tentang sistem yang mengendalikan seksualitas seperti mesin.
Dengan makna tersirat yang mengecam dehumanisasi, suasana yang gaduh dan ironis, imaji industrial yang tajam, serta penggunaan majas metafora dan repetisi yang khas, puisi ini menjadi karya avant-garde yang menantang norma estetika dan sosial. Pesan akhirnya jelas: manusia bukan mesin, dan cinta bukan prosedur teknis. Sutardji mengajak kita untuk kembali pada kebebasan mencintai dengan seluruh keutuhan jiwa dan raganya—bukan sekadar gerak mekanik tanpa makna.
Karya: Sutardji Calzoum Bachri
Biodata Sutardji Calzoum Bachri
- Sutardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, pada tanggal 24 Juni 1941.
- Sutardji Calzoum Bachri merupakan salah satu pelopor penyair angkatan 1970-an.