Analisis Puisi:
Puisi "More Fool Me" karya Wahyu Prasetya adalah cerminan batin manusia yang terjebak dalam kegamangan zaman. Judulnya sendiri mengandung ironi dan nada reflektif—seakan sang penyair menertawakan dirinya sendiri, atau mengakui bahwa ada kekeliruan yang terus dipelihara oleh manusia modern. Dengan diksi yang padat dan penuh muatan filosofis, puisi ini berbicara tentang kesepian, kebingungan, dan perjuangan eksistensial dalam menghadapi dunia yang dipenuhi oleh kecemasan dan paradoks.
Tema
Tema utama dari puisi ini adalah pergulatan batin manusia dalam menghadapi tekanan peradaban dan kehilangan arah spiritual. Ada kontras antara “keberanian” dan “kecermatan bayang-bayang”, antara “kemuliaan cinta” dan “ajakan peradaban”, antara idealisme dan realitas keras yang membentuk luka.
Puisi ini tidak sekadar menyuarakan keresahan personal, melainkan juga memperluasnya menjadi kegelisahan kolektif umat manusia yang hidup di zaman yang serba cepat, bising, dan melelahkan.
Makna Tersirat
Secara tersirat, puisi ini mengungkap kekecewaan terhadap arah peradaban modern, yang bukannya mendekatkan manusia pada makna sejati kehidupan, justru menjauhkan manusia dari dirinya sendiri.
Kalimat seperti:
“karena kita harus memilih jalan menuju pintu, jendela rumah atau hanya mencengkram abjad untuk dilemparkan ke angin”
menunjukkan bahwa dalam dunia yang terus bergerak, manusia modern menjadi makhluk yang kehilangan pusat. Ada pilihan antara pulang (rumah), bersuara (abjad), atau diam (lempar ke angin)—semuanya tidak membawa pada ketenangan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa rasa bersalah, luka, dan ketidakberdayaan menjadi bagian dari identitas manusia kontemporer. Bahkan cinta pun dikatakan "gusar", seolah tidak luput dari pengaruh bisingnya zaman.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang tengah mengalami kebimbangan dan kelelahan batin dalam menjalani hidup di tengah kerasnya dunia modern. Ia mempertanyakan makna perjuangan, cinta, bahkan cita-cita. Ia merenung apakah hidup ini membawa manusia pada kemajuan, atau justru pada kehancuran batin dan nilai.
Kata-kata seperti "kukepal pedih luka dengan kasar" atau "kurebut dari ratapan anak-anak yang kujumpai dalam hatiku" mengindikasikan bahwa penderitaan bukan hanya hadir dari luar, tapi telah meresap ke dalam diri dan bahkan mengendap dalam kenangan masa kanak-kanak atau kemurnian jiwa.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini adalah suram, penuh kegetiran, dan kontemplatif. Terasa seperti curahan hati yang dipenuhi konflik antara ideal dan realita. Kesadaran diri hadir, tetapi tidak membawa ketenangan, justru makin memperjelas ketimpangan antara yang diharapkan dan yang dihadapi.
Puisi ini mengandung kesan introspektif, namun juga memberontak secara lirih. Pembaca dapat merasakan kelelahan eksistensial dalam setiap lariknya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat puisi ini adalah bahwa dalam dunia yang terus bergerak, manusia harus menemukan pijakan dalam dirinya sendiri, bukan semata bergantung pada peradaban yang justru mungkin memperdaya.
Penyair seolah ingin menyampaikan bahwa cinta, kemanusiaan, dan keberanian batin adalah nilai-nilai yang harus terus diperjuangkan, bahkan ketika dunia tampak tak peduli. Bahwa kesadaran atas penderitaan dan kemarahan bukanlah kelemahan, melainkan titik awal dari perubahan makna.
Juga, secara tersirat, puisi ini menyuarakan kritik terhadap kemajuan dunia yang mengabaikan dimensi rohani dan kepekaan sosial, dan mengajak kita untuk tidak kehilangan arah dalam arus deras zaman.
Imaji
Puisi ini mengandung banyak imaji kuat dan kompleks, baik visual maupun emosional:
- “menemukan ketenangan jalan dalam wajah debu” – imaji yang menghadirkan ketenangan dalam kerapuhan dan kehancuran.
- “kukepal pedih luka dengan kasar” – visualisasi penderitaan yang ditanggapi secara keras, bukan pasrah.
- “kerikil kita lepas dari genggaman” – simbol kehilangan harapan atau kekuatan kecil yang dulu pernah dimiliki.
Setiap larik menghadirkan kesan visual yang kuat, meskipun terkadang bersifat abstrak, tetapi tetap menyentuh secara emosional dan batiniah.
Majas
Puisi ini kaya dengan berbagai majas, di antaranya:
- Metafora: “wajah debu”, “cinta yang gusar”, “riaknya menjelma nyanyian” – menggabungkan dua hal yang berbeda untuk melahirkan makna baru.
- Personifikasi: “hasrat jaman berlarian” – menggambarkan zaman seolah punya kehendak sendiri.
- Paradoks: “keberanian atau kemuliaan dari cinta yang gusar oleh ajakan peradaban” – cinta yang biasanya lembut, kini menjadi gusar karena modernitas.
- Hiperbola: “kukepal pedih luka” – melebih-lebihkan rasa sakit untuk menegaskan penderitaan.
- Apostrof (sapaan imajinatif): Ditujukan pada “kau” atau “diri sendiri” sebagai cara mengajak pembaca turut merenung.
Puisi "More Fool Me" karya Wahyu Prasetya adalah sebuah karya liris yang mencerminkan keresahan manusia terhadap peradaban, eksistensi, dan nilai hidup. Menggunakan bahasa puitis yang padat dan tajam, puisi ini menyuarakan luka dan kelelahan hidup kontemporer yang dialami oleh banyak orang, namun sering kali disembunyikan di balik rutinitas.
Puisi ini adalah panggilan untuk mengenali kembali luka dan harapan dalam diri, untuk tidak sekadar ikut arus, melainkan juga menemukan makna dalam keterasingan. Bahwa bahkan di tengah dunia yang penuh tipu daya, masih ada ruang untuk menanyakan ulang: siapa kita dan ke mana kita akan menuju?
Puisi ini adalah cermin: yang memantulkan luka, tapi juga mungkin memberi cahaya jika kita bersedia menatapnya lama-lama.
Puisi: More Fool Me
Karya: Wahyu Prasetya
Biodata Wahyu Prasetya:
- Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto (akrab dipanggil Pungky) lahir pada tanggal 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur.
- Wahyu Prasetya meninggal dunia pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2018 (pada umur 61).
