Pertanyaan di Stasiun Kereta
jika timur itu hari depan, mengapa laju kereta kembali ke masa silam
bahwa stasiun ini peninggalan residen, tentu saja kami tahu
juga deret pohon asam, irigasi, dan gedung-gedung pemerintahan
begitulah, bukankah tuan-tuan hanya sanggup membangun mall
jurang antara cahaya lampu kristal dan temaram perkampungan
kami hamba tuan-tuan, sudah lama bosan dalam penantian
tuan-tuan mengobral janji, mengganggu tidur dan mimpi kami
maka kini izinkan kami bertanya, peti-peti yang siang malam diangkut kereta
milik siapa? kemilau lampu di jalan raya untuk siapa!
kami tahu tuan-tuan tak akan menjawab, karena tuan-tuan
sedang meluncur ke masa silam, jadi izinkan kami mendakwa
kami tak tahan lagi mendengar dan menyaksikan mulut tuan-tuan
berbusa, nganga, dan amat hina
2005
Analisis Puisi:
Puisi “Pertanyaan di Stasiun Kereta” karya Moh. Wan Anwar merupakan sebuah kritik sosial yang tajam, disampaikan melalui metafora perjalanan dan ruang-ruang peninggalan kolonial. Di balik nada ironi dan kegusaran yang kentara, puisi ini menggambarkan ketimpangan sosial dan politik yang terus-menerus dipertontonkan oleh elit penguasa kepada rakyat jelata. Puisi ini tak hanya melontarkan pertanyaan simbolik, tetapi juga menyisipkan dakwaan yang berani terhadap struktur kekuasaan yang kerap melupakan sejarah, rakyat, dan tanggung jawab.
Tema
Tema utama puisi ini adalah ketimpangan sosial dan kegagalan kekuasaan dalam menjawab aspirasi rakyat. Penyair mengangkat suara yang terpinggirkan dan memperhadapkan mereka dengan wajah kuasa yang angkuh dan manipulatif. Tema tambahan yang menyelimuti larik-lariknya adalah ironi sejarah, pengkhianatan terhadap janji, dan pengulangan penindasan dalam wujud modern.
Puisi ini bercerita tentang suasana di sebuah stasiun kereta tua peninggalan kolonial, tempat penantian berlangsung terus-menerus tanpa kejelasan arah masa depan. Suara naratif dalam puisi—mewakili suara rakyat—menyampaikan gugatan terhadap para pemilik kuasa (disebut “tuan-tuan”) yang tak kunjung memberikan kemajuan yang nyata.
Kereta, yang semestinya melaju ke masa depan, justru digambarkan “kembali ke masa silam”, menunjukkan betapa stagnasi dan pengulangan pola lama masih terjadi dalam sistem kekuasaan modern. Pembangunan yang diagung-agungkan hanya menghasilkan mall-mall dan lampu jalan raya yang mewah, sementara kampung-kampung tetap gelap dan terabaikan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa kemajuan yang digembar-gemborkan penguasa sering kali hanya ilusi, dan justru menjauhkan rakyat dari harapan yang sesungguhnya. Pembangunan infrastruktur seperti mall dan jalan raya hanya memperluas jurang antara si kaya dan si miskin.
Kereta menjadi simbol dari arah kebijakan dan kekuasaan: alih-alih membawa bangsa menuju masa depan, justru kembali menelusuri jejak masa lalu yang sarat penindasan. Ini adalah bentuk satir terhadap para pemimpin yang mengklaim perubahan, namun masih menjalankan pola lama yang menjauhkan rakyat dari kesejahteraan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini dipenuhi oleh rasa getir, ironi, frustrasi, dan kemarahan yang terpendam lama. Nada yang digunakan oleh penyair cenderung lugas dan konfrontatif, namun tidak kehilangan sentuhan puitik. Suasana itu dibangun dari gambaran-gambaran ruang publik (stasiun, mall, jalan raya) yang berdiri kontras dengan kehidupan rakyat biasa.
Imaji
Puisi ini sarat dengan imaji visual dan emosional, di antaranya:
- Visual: “stasiun ini peninggalan residen”, “pohon asam, irigasi, dan gedung-gedung pemerintahan”, “mall”, “lampu kristal dan temaram perkampungan” — semua ini menghadirkan bentang ruang yang memperlihatkan kontras antara kemegahan dan keterbelakangan.
- Auditif: “tuan-tuan mengobral janji, mengganggu tidur dan mimpi kami” — memberi kesan suara manipulatif dari penguasa yang mengintervensi bahkan saat rakyat beristirahat.
- Emosional: “kami tak tahan lagi”, “berbusa, nganga, dan amat hina” — menggambarkan rasa muak dan hilangnya rasa hormat terhadap kekuasaan.
Majas
Beberapa majas yang dominan digunakan dalam puisi ini antara lain:
Metafora:
- “kereta kembali ke masa silam” — bukan sekadar kendaraan fisik, tetapi simbol arah bangsa yang salah arah.
- “jurang antara cahaya lampu kristal dan temaram perkampungan” — perbedaan sosial yang sangat mencolok, disampaikan melalui cahaya.
Ironi:
- Pembangunan mall disebut seolah prestasi, padahal menunjukkan kemunduran prioritas pembangunan.
Personifikasi:
- “jantung jam memeluk kematian” (dalam puisi lain, tapi sejalan secara gaya) dan “kereta kembali ke masa silam” memberi kesan bahwa benda-benda mati memiliki niat dan arah.
Aliterasi dan asonansi:
- Larik “berbusa, nganga, dan amat hina” menimbulkan efek fonetik yang memperkuat kesan jijik dan kemuakan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat puisi ini adalah ajakan untuk menyadari kemunafikan kekuasaan dan pentingnya keberanian rakyat untuk bersuara dan menggugat. Dalam dunia yang dikuasai oleh janji-janji kosong, rakyat tak boleh diam. Penantian panjang hanya akan menjadi sia-sia jika tidak diiringi dengan kesadaran dan perlawanan.
Selain itu, penyair juga menyindir bahwa modernisasi tidak selalu membawa keadilan, dan bahwa pembangunan yang tidak menyentuh rakyat hanya akan memperdalam ketimpangan. Maka, saat tuan-tuan sibuk berbicara, rakyat punya hak untuk bertanya, bahkan mendakwa.
Puisi “Pertanyaan di Stasiun Kereta” karya Moh. Wan Anwar adalah potret perlawanan puitik terhadap retorika kekuasaan yang penuh tipu daya. Dengan tema ketimpangan dan kritik terhadap pembangunan semu, puisi ini menampilkan makna tersirat yang dalam melalui imaji, majas, dan struktur puisi yang berani dan tajam.
Di tengah dunia yang semakin dijejali oleh janji dan kemewahan artifisial, puisi ini mengingatkan kita untuk tetap mendengar suara mereka yang menunggu di stasiun—tempat waktu dan harapan tak kunjung tiba.
Karya: Moh. Wan Anwar
Biodata Moh. Wan Anwar
- Moh. Wan Anwar lahir pada tanggal 13 Maret 1970 di Cianjur, Jawa Barat.
- Moh. Wan Anwar meninggal dunia pada tanggal 23 November 2009 (pada usia 39 tahun) di Serang, Banten.
