Puisi: Sebuah Perigi Tua (Karya Herman KS)

Puisi “Sebuah Perigi Tua” karya Herman KS bercerita tentang sebuah adegan kecil: seorang anak kecil tanpa baju berada di dekat sumur tua sambil ...
Sebuah Perigi Tua

Sebuah perigi tua
Seorang bocah tanpa baju
Seekor capung di tangannya
Di atas kepalanya langit biru.

Sumber: Horison (April, 1975)

Analisis Puisi:

Puisi “Sebuah Perigi Tua” karya Herman KS adalah puisi pendek yang sederhana namun sarat makna. Terdiri dari satu bait berisi empat baris dengan pola rima ABAB, puisi ini menggambarkan sebuah momen yang sangat kecil dan sunyi, namun mengandung dimensi nostalgia, kedamaian, dan bahkan perenungan eksistensial. Melalui penggambaran visual yang kuat, Herman KS mengajak pembaca berhenti sejenak dan menyerap keindahan masa kecil serta kesederhanaan hidup yang sering kita abaikan.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah kesederhanaan masa kecil dan keterhubungan manusia dengan alam. Penyair menyoroti momen sehari-hari yang biasa—seorang anak kecil, sebuah sumur tua, seekor capung—namun lewat lensa puitis, semuanya terasa bermakna, bahkan menyentuh.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini mengarah pada refleksi akan kepolosan dan keheningan masa kecil. Sumur tua (perigi tua) dapat dibaca sebagai simbol masa lalu, kenangan, atau akar kehidupan. Bocah yang tanpa baju menggambarkan kesucian, kebebasan, dan kealamian, sedangkan capung dan langit biru menyiratkan kedamaian serta keterhubungan manusia dengan alam.

Dengan tidak adanya elemen konflik atau kegelisahan, puisi ini menyampaikan bahwa keindahan tidak harus ditemukan dalam hal besar, melainkan bisa ditemukan dalam adegan yang paling kecil dan sederhana sekalipun—selama kita mau hadir secara sadar dan peka.

Unsur Puisi

Beberapa unsur puisi yang menonjol:
  • Diksi: Kata-kata yang digunakan sangat sederhana, langsung, dan deskriptif.
  • Tipografi: Satu bait dengan 4 larik membentuk satu potret utuh.
  • Rima: Pola rima ABAB memberikan keseimbangan bunyi dan keindahan musikal dalam struktur yang singkat.
Puisi ini bercerita tentang sebuah adegan kecil: seorang anak kecil tanpa baju berada di dekat sumur tua sambil memegang seekor capung, dengan latar langit biru di atas kepalanya. Tampak sepele, namun setiap elemen dalam puisi itu menyimpan simbol dan nuansa yang lebih luas dari apa yang tersurat.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah tenang, damai, dan kontemplatif. Tidak ada hiruk pikuk atau emosi yang meledak-ledak. Justru, kekuatan puisi ini terletak pada suasana sunyi dan kebeningan yang dihadirkannya. Pembaca seolah diajak berhenti, mengamati, dan merenungi keindahan yang hadir tanpa suara.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat puisi ini adalah bahwa kehidupan yang sederhana, alami, dan polos seringkali mengandung keindahan dan makna terdalam. Dalam dunia modern yang serba cepat dan sibuk, puisi ini mengingatkan pentingnya melihat kembali akar, masa kecil, atau momen keheningan untuk menemukan ketenangan batin.

Imaji

Puisi ini sangat kuat dalam imaji visual. Setiap baris memberikan potret yang jelas:
  • “Sebuah perigi tua” → imaji benda yang memunculkan kesan masa lalu, ketuaan, keheningan.
  • “Seorang bocah tanpa baju” → imaji manusia yang menggambarkan kepolosan dan kebebasan.
  • “Seekor capung di tangannya” → imaji gerak dan kehidupan kecil yang jinak, menghadirkan nuansa alam.
  • “Di atas kepalanya langit biru” → imaji alam terbuka yang luas dan tenang.
Keempat baris ini bisa dibaca seperti satu lukisan impresionis: tenang, terang, dan menyentuh perasaan dengan kesederhanaannya.

Majas

Beberapa majas yang terkandung dalam puisi ini antara lain:

Simbolisme:
  • Perigi tua → bisa melambangkan kenangan, sumber kehidupan, atau kedalaman pengalaman manusia.
  • Bocah tanpa baju → simbol kepolosan, keterbukaan, atau bahkan ketulusan jiwa.
  • Capung → sering dipakai sebagai simbol masa kecil, kelincahan, atau kehidupan yang singkat namun bermakna.
  • Langit biru → simbol harapan, kebebasan, dan kedamaian.
Metonimia / Metafora Tak Langsung:
  • Meski puisi ini tidak secara eksplisit menggunakan metafora, namun setiap elemen memiliki kekuatan simbolik yang mewakili sesuatu yang lebih dalam dari sekadar benda fisik.
Puisi “Sebuah Perigi Tua” karya Herman KS membuktikan bahwa puisi tidak harus panjang untuk bermakna dalam. Dengan hanya empat baris, penyair berhasil menyajikan tema kehidupan sederhana, makna tersirat tentang keheningan masa kecil, dan imaji yang kuat melalui unsur puisi yang seimbang. Majas dan simbolisme memperkaya makna, menjadikan puisi ini tidak hanya sebagai potret visual, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi.

Bagi pembaca yang rindu akan keheningan dan kesucian hidup, puisi ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan bisa ditemukan dalam detik kecil, pada sumur tua, bocah kecil, capung, dan langit biru yang bersahaja.

Herman KS
Puisi: Sebuah Perigi Tua
Karya: Herman KS

Biodata Herman KS:
  • Herman KS lahir pada tanggal 9 Oktober 1937 di Medan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.