Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Sendiri (Karya Acep Zamzam Noor)

Puisi "Sendiri" karya Acep Zamzam Noor menawarkan wawasan tentang perjuangan batin dan keterbatasan dalam mencapai kesejatian spiritual.
Sendiri

Pada hamparan waktu memancar air mataku
Kuperas dari kepedihan rindu dan gairah cinta
Ibadahku tak terungkapkan lagu, juga kata-kata
Seribu sajadah yang kusambung-sambung tak juga sampai
Padamu. Di kekosongan aku mabuk dan meronta-ronta
Membakar seluruh pakaian dan keyakinan

1988

Sumber: Jalan Menuju Rumahmu (2004)

Analisis Puisi:

Puisi "Sendiri" karya Acep Zamzam Noor adalah karya yang mendalam dan introspektif, mengungkapkan tema kesendirian, kesakralan, dan kerinduan yang mendalam. Melalui bahasa yang kaya dan simbolisme yang kuat, puisi ini menyelidiki pengalaman batin dari seorang individu yang bergulat dengan perasaan dan keyakinan yang dalam.

Puisi ini dibuka dengan gambaran yang kuat tentang kesedihan dan kerinduan. "Hamparan waktu" menciptakan latar belakang yang luas dan tanpa batas, di mana air mata si tokoh puisi memancar sebagai simbol dari kepedihan dan gairah cinta yang mendalam. Frasa "kuperas dari kepedihan rindu dan gairah cinta" menggambarkan betapa menyeluruhnya perasaan ini, yang telah menetes dan meresap ke dalam waktu.

Puisi kemudian beralih ke tema ibadah dan keyakinan. Pengakuan bahwa "ibadahku tak terungkapkan lagu, juga kata-kata" menunjukkan bahwa ritual dan doa tidak dapat menyampaikan kedalaman perasaan batin yang dialami. "Seribu sajadah" yang tidak mencukupi untuk sampai kepada Tuhan mengisyaratkan ketidakcukupan dan keterbatasan dalam usaha spiritualnya.

Kesedihan dan kekosongan dalam puisi ini diungkapkan melalui "mabuk dan meronta-ronta", yang mencerminkan kegelisahan batin dan ketidakmampuan untuk menemukan kedamaian atau kepuasan. "Membakar seluruh pakaian dan keyakinan" menunjukkan tindakan simbolis dari pembakaran—sebuah bentuk pembebasan dari ritual dan keyakinan yang sebelumnya dianggap penting.

Tema dan Makna

Puisi "Sendiri" mengeksplorasi tema kesendirian dan kekosongan yang mendalam. Dengan menggambarkan air mata yang memancar pada hamparan waktu, puisi ini mengajukan refleksi tentang betapa beratnya kerinduan dan gairah cinta yang tidak dapat sepenuhnya diungkapkan melalui ritual spiritual atau kata-kata.

Penggunaan seribu sajadah dan pembakaran pakaian dan keyakinan merupakan simbolisme yang kuat untuk ketidakmampuan dalam mencapai kesejatian atau kepuasan spiritual. Ini menggambarkan krisis batin yang dialami oleh individu yang merasa terputus dari Tuhan atau tujuan spiritualnya, dan akhirnya merasa perlu untuk melepaskan segala bentuk struktur dan keyakinan yang ada.

Gaya Penulisan

Acep Zamzam Noor menggunakan bahasa yang intens dan emosional untuk menyampaikan kesedihan dan kerinduan yang mendalam. Penggunaan imaji seperti "air mata", "seribu sajadah", dan "membakar seluruh pakaian dan keyakinan" memberikan gambaran yang jelas tentang ketidakmampuan dalam mencapai kepuasan spiritual. Metafora dan simbolisme yang digunakan memperkuat tema puisi dan menyampaikan perasaan batin yang kompleks.

Puisi "Sendiri" karya Acep Zamzam Noor adalah sebuah karya yang mendalam dan reflektif tentang kesendirian dan kerinduan spiritual. Dengan menggambarkan kesulitan dalam menemukan kedamaian dan kepuasan melalui ritual dan keyakinan, puisi ini menawarkan wawasan tentang perjuangan batin dan keterbatasan dalam mencapai kesejatian spiritual. Bahasa dan simbolisme yang digunakan memperkaya makna puisi dan mengajak pembaca untuk merenungkan kedalaman pengalaman spiritual yang dialami oleh individu.

Acep Zamzam Noor
Puisi: Sendiri
Karya: Acep Zamzam Noor

Biodata Acep Zamzam Noor:
  • Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
  • Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
© Sepenuhnya. All rights reserved.