Puisi: Sungai Apakah (Karya Soekoso DM)

Puisi “Sungai Apakah” karya Soekoso DM bercerita tentang sebuah sungai fiktif—representasi dari kehidupan sosial yang penuh tipuan dan kehilangan ...
Sungai Apakah

Sungai apakah telah membelah kota
gemerecaknya bagai tawa

sejumlah orang berenangan di sana
berbedak, bertopeng, bergincu dan berpura
lantas mandi cahya semu

sungai apakah telah menggasak malam
mengalirkan lumpur hitam

sejumlah orang terjun dan menyelam
bermabok, bermimpi, bertidur dan berlupa
lantas nyanyi lagu palsu

: itu sungai tuba, itu sungai tuak
terdengar dusun-dusun berteriak
menuduh, menuding, memaki dan mendakwa
sementara tanpa dimengertinya
penduduk-penduduk mulai membasuhkan kakinya

(bisakah kau-aku membendung
dalam zaman yang gemblung?)

1982

Sumber: Waswas Waswas Was! (Kopisisa, 1996)
Catatan:
Puisi ini terpilih sebagai puisi terbaik pada lomba Cipta Puisi se-Indonesia versi Sema FKSS Sarjana Wiyata Taman Siswa Yogyakarta dalam rangka peringatan Bulan Bahasa dan Hari Pahlawan 1982.

Analisis Puisi:

Puisi “Sungai Apakah” karya Soekoso DM, yang meraih predikat sebagai puisi terbaik dalam lomba Cipta Puisi se-Indonesia tahun 1982 versi Sema FKSS Sarjana Wiyata Taman Siswa Yogyakarta, merupakan karya liris yang mengusung kritik sosial yang tajam namun dibalut keindahan metaforis. Di balik aliran katanya yang mengalun seperti air, tersimpan kekuatan satiris terhadap moralitas, kepura-puraan sosial, dan kehampaan budaya zaman.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kerusakan moral dan kehancuran nilai dalam masyarakat modern. Sungai dalam puisi ini bukan sekadar entitas geografis, melainkan metafora yang kuat tentang arus kehidupan masyarakat yang telah tercemar oleh kemunafikan, kehampaan spiritual, dan dekadensi sosial.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini sangat dalam dan penuh lapisan:
  • Sungai yang “membelah kota” menggambarkan arus kehidupan yang kini tercemar nilai-nilai semu.
  • Orang-orang yang “berenangan… berbedak, bertopeng, bergincu dan berpura” menggambarkan masyarakat yang hidup dalam kepalsuan dan topeng sosial—berpenampilan glamor tapi tanpa substansi.
  • Sungai yang mengalirkan “lumpur hitam” adalah gambaran keburukan yang menyusup dalam malam—saat nilai dan kesadaran seharusnya bertemu hening.
  • Orang-orang yang menyelam “bermabok, bermimpi, bertidur dan berlupa” menandakan masyarakat yang tenggelam dalam eskapisme dan pelarian, tidak mau menghadapi kenyataan.
  • Frasa penutup “(bisakah kau-aku membendung / dalam zaman yang gemblung?)” merupakan refleksi retoris, sekaligus tantangan eksistensial: masih mungkinkah kita menyelamatkan nurani dan nilai di tengah dunia yang sudah rusak?
Puisi ini bercerita tentang sebuah sungai fiktif—representasi dari kehidupan sosial yang penuh tipuan dan kehilangan makna. Penyair menggambarkan bagaimana orang-orang di kota telah kehilangan jati diri, larut dalam topeng sosial, pesta pora, dan pelarian dari kenyataan. Di sisi lain, dusun-dusun yang lebih polos hanya bisa berteriak, menuduh, tapi tidak memahami bahwa mereka juga mulai ikut tercemar.

Ini adalah gambaran konflik antara kota dan desa, antara kesadaran dan kebingungan kolektif, antara kemajuan palsu dan kehancuran nilai.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa gugup, getir, dan menyindir dengan lembut namun tajam. Ada nada satiris yang kuat, dikemas dengan gaya bahasa puitis yang menyiratkan kekecewaan dan keresahan terhadap arus zaman. Semacam ironi lirikal yang menghantui pembaca.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat utama puisi ini adalah ajakan untuk menyadari bahaya dari arus zaman yang penuh kemunafikan dan kehilangan nilai luhur. Penyair tidak serta-merta menyalahkan satu pihak, melainkan menunjukkan bahwa bahaya sungai ini—sungai tuba dan tuak—telah menjamah semua lini, bahkan desa-desa yang awalnya tak terjamah pun mulai ikut membasuh kaki di sungai yang kotor.

Pertanyaannya yang menggantung di akhir puisi adalah seruan bagi refleksi kolektif: Mampukah kita, sebagai individu dan masyarakat, membendung kerusakan ini? Apakah masih ada harapan untuk membalik arah arus?

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji visual dan sensorik:
  • “Gemerecaknya bagai tawa”: imaji bunyi yang seolah ceria namun justru menyiratkan keganjilan.
  • “Berbedak, bertopeng, bergincu”: imaji visual dari kemewahan dan kemunafikan.
  • “Mengalirkan lumpur hitam”: gambaran visual dan simbolik dari kerusakan moral.
  • “Dusun-dusun berteriak, menuduh, memaki dan mendakwa”: imaji suara yang mencerminkan konflik antara desa dan kota.
Seluruh imaji ini disusun seperti mozaik sosial yang mencerminkan pergeseran dan degradasi nilai.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: Sungai sebagai simbol kehidupan sosial dan moralitas zaman.
  • Personifikasi: Sungai yang “menggasak malam” seakan memiliki kehendak sendiri.
  • Paradoks: Cahaya yang semu, tawa yang menyembunyikan kerusakan, mimpi yang justru menyesatkan.
  • Aliterasi dan repetisi: Pengulangan struktur seperti “berbedak, bertopeng, bergincu”, “bermabok, bermimpi, bertidur dan berlupa” memperkuat efek dramatik dan ritme puisi.
  • Ironi: Dusun yang bersuara keras menentang, tapi ternyata mulai ikut mencelupkan kaki—menunjukkan kerusakan menyeluruh yang tak disadari semua pihak.
Puisi “Sungai Apakah” karya Soekoso DM adalah karya liris penuh sindiran sosial, yang memotret kerusakan nilai dalam masyarakat kontemporer dengan gaya puitik yang tajam namun elegan. Sungai dalam puisi bukan hanya aliran air, melainkan simbol dari arus zaman yang membawa kepalsuan, pelarian, dan kehancuran nilai moral.

Karya ini menegaskan pentingnya kesadaran individu dan kolektif untuk tidak larut dalam gemuruh arus semu yang bisa menggerus integritas kemanusiaan. Seperti pertanyaan retorisnya yang menggema di akhir: “bisakah kau-aku membendung / dalam zaman yang gemblung?”—pertanyaan yang hingga kini tetap relevan.

Puisi: Sungai Apakah
Puisi: Sungai Apakah
Karya: Soekoso DM

Biodata Soekoso DM:
  • Soekoso DM, lahir di Purworejo, 17 Juli 1949.
© Sepenuhnya. All rights reserved.