Puisi: Buat Drawing Tisna Sanjaya (Karya Ahda Imran)

Puisi "Buat Drawing Tisna Sanjaya" karya Ahda Imran bercerita tentang ironi wajah kesucian yang tidak selalu menghadirkan kedamaian. Lidah orang ...
Buat Drawing Tisna Sanjaya

Kata orang suci
Lidah sedingin belati

Jubah orang suci
Putih orang mati.

2017

Analisis Puisi:

Puisi "Buat Drawing Tisna Sanjaya" karya Ahda Imran memiliki tema kritik sosial dan religiusitas semu. Penyair menyinggung fenomena ketika simbol-simbol kesucian agama atau moralitas justru menyimpan paradoks, yakni bisa menjadi tajam dan menusuk layaknya belati, serta menyimpan nuansa kematian yang dingin alih-alih kehidupan yang mencerahkan.

Puisi ini bercerita tentang ironi wajah kesucian yang tidak selalu menghadirkan kedamaian. Lidah orang suci yang seharusnya menuturkan kebenaran dan kasih, digambarkan seperti belati yang menusuk dan melukai. Begitu pula jubah putih yang identik dengan kesalehan dan kesucian, dalam puisi ini digambarkan seperti putihnya kain kafan—lambang kematian. Dengan demikian, puisi ini menghadirkan kritik tajam terhadap hipokrisi, kemunafikan, dan manipulasi atas nama kesucian.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah peringatan bahwa simbol-simbol kesucian tidak selalu bermakna benar dan suci dalam praktiknya. Ada kepalsuan, ada kontradiksi, bahkan ada kekerasan yang terselubung di balik retorika atau penampilan suci. Penyair seolah ingin mengajak pembaca untuk lebih kritis, agar tidak terkecoh oleh tampilan luar, melainkan mampu membaca makna yang tersembunyi di baliknya.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi terasa sinis, kritis, dan penuh kontras. Dengan baris-baris pendek dan padat, pembaca merasakan aura dingin, getir, bahkan sedikit ironis. Ada kesan kekecewaan terhadap realitas sosial dan religius yang tidak sesuai dengan harapan.

Amanat / Pesan yang disampaikan

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah pentingnya bersikap kritis terhadap figur-figur atau simbol kesucian. Jangan mudah terkecoh oleh kata-kata manis atau pakaian yang tampak suci, sebab di balik itu bisa tersembunyi kekerasan, kepalsuan, dan kematian nilai-nilai luhur. Penyair mendorong agar manusia tidak berhenti hanya pada penampilan, melainkan mencari makna hakiki dari kesucian itu sendiri.

Imaji

Puisi ini sarat dengan imaji visual dan imaji perasaan.
  • "Lidah sedingin belati" menghadirkan imaji perasaan berupa dingin, tajam, dan menusuk.
  • "Jubah orang suci / Putih orang mati" menghadirkan imaji visual tentang kontras putih: putih kesucian berlawanan dengan putih kematian. Imaji ini membuat puisi terasa kuat sekalipun hanya dengan beberapa baris.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora – "Lidah sedingin belati" adalah metafora untuk kata-kata orang suci yang melukai.
  • Paradoks – Kesucian yang digambarkan justru berhubungan dengan kematian ("Jubah orang suci / Putih orang mati").
  • Ironi – Ada sindiran tajam bahwa sesuatu yang dianggap mulia justru memuat kepalsuan dan bahaya.
Ahda Imran
Puisi: Buat Drawing Tisna Sanjaya
Karya: Ahda Imran

Biodata Ahda Imran:
  • Ahda Imran lahir pada tanggal 10 Agustus 1966 di Baruah Gunuang, Sumatera Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.