Di Luar Jamah Kesetiaan
Ada di luar jamah kesetiaan
Kami kini terbaring di sini
Ada di luar hikmah bercumbu
karena tangan yang kami gapaikan
bertemu pada jemari
Kata berakibat cinta meracun jiwa
Angin menyusupi daun pintu
mengusap wajah yang lesu
Ada di luar segala kata setia
kami mendesahkan harapan dalam
dengus nafas malam
Analisis Puisi:
Puisi "Di Luar Jamah Kesetiaan" karya Ajip Rosidi merupakan sebuah karya yang sarat makna, memadukan refleksi perasaan cinta, kerinduan, dan kesadaran akan keterbatasan manusia dalam menjaga janji kesetiaan. Sebagai penyair besar Indonesia, Ajip Rosidi kerap menuliskan pengalaman batin dan filsafat hidup ke dalam larik-larik puitis yang sederhana, namun dalam makna.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesetiaan dan cinta yang rapuh. Penyair menggambarkan bagaimana cinta dapat menggetarkan jiwa, tetapi sekaligus membawa racun bila tidak diiringi kesetiaan yang sejati.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman cinta yang berada di luar batas kesetiaan. Dua jiwa yang saling mendekat, saling menggenggam tangan, namun berada dalam ruang keterbatasan: cinta yang mungkin terlarang, atau cinta yang tak mampu mencapai keutuhan. Ada perasaan ingin meraih kebahagiaan, tetapi juga sadar bahwa ada konsekuensi dari cinta yang tidak sepenuhnya murni.
Makna tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah ketidakmampuan manusia sepenuhnya mengendalikan perasaan cinta. Ada daya tarik yang begitu kuat dalam cinta, hingga melampaui aturan dan batasan moral yang biasa disebut kesetiaan. Ajip Rosidi seakan ingin menegaskan bahwa cinta bisa menjadi kekuatan hidup, tetapi juga bisa menjadi racun bila tidak dijaga dengan hikmah.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini adalah lirih, sendu, dan reflektif. Baris seperti “angin menyusupi daun pintu / mengusap wajah yang lesu” menghadirkan nuansa kesepian dan kelesuan batin. Puisi ini bukan hanya melukiskan cinta yang indah, tetapi juga getirnya perasaan yang berada di luar batas kesetiaan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kesetiaan merupakan hal penting dalam hubungan cinta, dan ketika manusia melanggar batas itu, cinta bisa berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Penyair juga memberi pesan bahwa harapan tetap ada, meski sering kali terdesah dalam kesunyian malam yang penuh kerinduan.
Imaji
Imaji yang muncul dalam puisi ini adalah imaji visual dan perabaan. Misalnya, “tangan yang kami gapaikan / bertemu pada jemari” menghadirkan gambaran nyata tentang dua orang yang saling berpegangan tangan. Sementara itu, imaji perabaan hadir dalam larik “angin menyusupi daun pintu / mengusap wajah yang lesu” yang menimbulkan sensasi dingin, lembut, sekaligus getir. Imaji ini membuat suasana puisi menjadi hidup dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Majas
Beberapa majas yang digunakan Ajip Rosidi dalam puisi ini antara lain:
- Majas personifikasi, terlihat pada larik “angin menyusupi daun pintu / mengusap wajah yang lesu”, seolah angin memiliki sifat manusia.
- Majas metafora, pada larik “kata berakibat cinta meracun jiwa”, cinta diposisikan sebagai racun yang merusak batin.
- Majas repetisi, pada pengulangan frasa “ada di luar”, yang menekankan kondisi keterasingan dan keterbatasan cinta dalam puisi ini.
Puisi "Di Luar Jamah Kesetiaan" karya Ajip Rosidi menyingkap dilema batin tentang cinta, kesetiaan, dan kerinduan. Dengan tema yang mendalam, imaji yang kuat, serta majas yang indah, puisi ini bukan hanya melukiskan pengalaman personal, tetapi juga menjadi refleksi universal tentang rapuhnya cinta manusia. Melalui larik-lariknya, Ajip Rosidi mengingatkan bahwa cinta sejati harus berdiri di atas kesetiaan, bila tidak ia akan berubah menjadi racun yang menyiksa jiwa.
Karya: Ajip Rosidi
Biodata Ajip Rosidi:
- Ajip Rosidi lahir pada tanggal 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.
- Ajip Rosidi meninggal dunia pada tanggal 29 Juli 2020 (pada usia 82 tahun) di Magelang, Jawa Tengah.
- Ajip Rosidi adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.