Puisi: Di Luar Musim (Karya Djajanto Supra)

Puisi "Di Luar Musim" karya Djajanto Supra bercerita tentang sebuah situasi di mana cinta dan harapan telah kehilangan makna, ibarat bunga yang ...
Di Luar Musim
(bukan kenangan terakhir buat bung Sjahrir)

hampir sebuah nama, kini cinta yang alpa
kita berdiang dalam pasang, matahari
diam dalam hati

kata-kata telah berbunga
di luar musim
di luar diri
sebuah rangkaian telah tua
di tangan rezim
kini

kita terus bertanya
bagai iringan ingin
orang mati
alangkah dingin

tapi
kita terus bertanya

sebuah rangkaian telah tua
di tangan rezim
melingkar indah, betapa!
Di leher anak yatim

Mencekiknya.

Jakarta, 1966

Sumber: Horison (Juni, 1968)

Analisis Puisi:

Puisi "Di Luar Musim" karya Djajanto Supra adalah karya yang sarat dengan muatan sosial dan politik, dibungkus dalam bahasa yang puitis sekaligus tajam. Puisi ini tidak sekadar menyampaikan kisah, tetapi juga mengandung sindiran terhadap kekuasaan dan pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat kecil. Melalui metafora, simbol, dan citraan, Djajanto Supra menghadirkan kritik yang dalam namun tetap memiliki keindahan estetik.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik sosial terhadap kekuasaan yang menindas, khususnya rezim yang memanfaatkan simbol-simbol indah untuk menutupi penderitaan rakyat. Ada pula nuansa tentang keterasingan cinta dan harapan dalam situasi yang tidak kondusif.

Puisi ini bercerita tentang sebuah situasi di mana cinta dan harapan telah kehilangan makna, ibarat bunga yang mekar di luar musim. Kata-kata yang seharusnya memberi kehangatan justru berada di bawah kendali rezim, dan simbol-simbol keindahan malah berubah menjadi alat penindasan. Salah satu gambaran paling kuat adalah “rangkaian telah tua di leher anak yatim” yang mencekik—sebuah metafora tentang janji manis yang justru membawa penderitaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa kekuasaan sering kali memanfaatkan bahasa indah, simbol kemuliaan, dan citra manis untuk menutupi realitas pahit. Janji dan harapan yang diberikan kepada rakyat—terutama yang lemah—kadang hanyalah hiasan kosong yang pada akhirnya menyakiti mereka. Selain itu, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa keindahan yang tidak hadir pada waktunya (di luar musim) justru kehilangan makna sejatinya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa dingin, getir, dan penuh keprihatinan. Ada rasa muram yang menyelimuti setiap larik, seakan penyair ingin mengajak pembaca merasakan beban yang dirasakan rakyat kecil di tengah kekuasaan yang tidak berpihak.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan adalah pentingnya kesadaran kritis terhadap janji dan simbol yang diberikan oleh kekuasaan. Kita diajak untuk tidak mudah terpesona oleh “bunga-bunga kata” yang mungkin hanya menjadi alat propaganda. Keindahan harus hadir pada saat yang tepat dan untuk tujuan yang tulus, bukan untuk menutupi luka atau menambah beban.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan emosional:
  • "kata-kata telah berbunga di luar musim" menghadirkan gambaran visual bunga yang mekar pada waktu yang salah.
  • "rangkaian telah tua di tangan rezim" memunculkan citra sebuah karangan bunga usang yang dipegang kekuasaan.
  • "di leher anak yatim mencekiknya" menampilkan imaji yang sangat kuat—sesuatu yang seharusnya menjadi hiasan indah justru berubah menjadi jerat yang menyakitkan.

Majas

Beberapa majas yang tampak menonjol:
  • Metafora: “kata-kata telah berbunga di luar musim” sebagai perumpamaan janji indah yang hadir di waktu yang tidak tepat.
  • Personifikasi: Cinta yang “alpa” atau lupa, seolah-olah ia memiliki sifat manusia.
  • Ironi: Karangan bunga yang seharusnya membawa kebahagiaan malah menjadi alat mencekik anak yatim.
  • Repetisi: Pengulangan frasa “sebuah rangkaian telah tua di tangan rezim” untuk menegaskan makna dan memberikan tekanan emosional.

Puisi Djajanto Supra
Puisi: Di Luar Musim
Karya: Djajanto Supra

Biodata Djajanto Supra:
  • Djajanto Supra lahir pada tanggal 13 Maret 1943 di Yogyakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.