Analisis Puisi:
Puisi "Di Sebuah Penyeberangan" karya Asep Setiawan adalah sebuah karya yang menyajikan perenungan mendalam tentang perjalanan hidup manusia. Dengan simbolisasi laut, layar, ombak, badai, hingga tangan-tangan Ilahi, puisi ini menyampaikan pengalaman spiritual sekaligus refleksi eksistensial tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan kehidupan yang penuh tantangan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia yang sarat dengan cobaan dan keyakinan spiritual. Laut menjadi simbol kehidupan luas dan penuh misteri, sedangkan layar dan penyeberangan menggambarkan perjalanan yang harus ditempuh manusia. Ombak dan badai tidak hanya dihadirkan sebagai kesulitan, melainkan juga bagian alami dari kehidupan itu sendiri.
Puisi ini bercerita tentang seorang manusia yang ingin menyeberang lautan luas menuju daratan, sebuah simbol tujuan akhir atau puncak kehidupan. Dalam perjalanannya, ia menyadari bahwa ombak dan badai adalah tantangan yang justru harus diterima dengan senyum, karena hal tersebut memang bagian dari hidup. Lalu, di tengah perjalanannya, ia juga merenungkan kerinduan untuk “berjabat tangan” dengan Tuhan, sebagai wujud penyatuan batin antara manusia dan Sang Pencipta.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup adalah perjalanan spiritual. Manusia harus berani menyeberangi lautan kehidupan, menghadapi suka duka, cobaan, bahkan badai besar. Namun, semua itu pada akhirnya bermuara pada kesadaran bahwa Tuhan senantiasa hadir, bahkan siap “menangkap” manusia di saat mereka jatuh atau tenggelam dalam lautan kehidupan. Ada pesan keikhlasan, keberanian, sekaligus harapan untuk suatu pertemuan dengan Tuhan pada akhirnya.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini dapat dirasakan sebagai reflektif, kontemplatif, sekaligus religius. Ada ketenangan yang menyelimuti penyair ketika berbicara tentang badai dan ombak, karena ia memandang semua itu bukan sebagai musibah, melainkan bagian yang harus dijalani. Suasana spiritual semakin kental ketika muncul gambaran “tangan-tangan-Mu” yang siap menyambut, menegaskan keyakinan penuh terhadap kasih Tuhan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat dari puisi ini adalah bahwa hidup harus dijalani dengan keberanian, keikhlasan, dan keyakinan penuh kepada Tuhan. Cobaan dan rintangan adalah bagian yang tidak bisa dihindari, tetapi justru memperkaya makna perjalanan. Pada akhirnya, manusia tidak sendirian, karena Tuhan selalu hadir untuk menopang dan menyambut mereka dalam setiap keadaan.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat, misalnya:
- “Di laut ini ingin kubentangkan layar / Lebar-lebar” → imaji visual yang menampilkan perjalanan besar yang hendak dimulai.
- “Menikmati ombak dan badai-Mu” → imaji auditif dan visual yang menghadirkan suasana alam sekaligus simbol ujian hidup.
- “Kupandang langit yang merunduk di ufuk” → imaji visual yang indah, menggambarkan pertemuan mata dengan cakrawala.
- “Tangan-tangan-Mu telah siap menangkapku” → imaji religius yang menghadirkan rasa aman dan harapan spiritual.
Imaji yang digunakan tidak hanya melukiskan keindahan alam, tetapi juga menjadi jembatan menuju makna religius yang mendalam.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
- Metafora → laut sebagai simbol kehidupan, layar sebagai perjalanan, dan daratan sebagai tujuan hidup.
- Personifikasi → “langit yang merunduk di ufuk” memberikan sifat manusiawi pada langit.
- Simbolisme → “ombak dan badai” sebagai simbol ujian dan penderitaan hidup, sedangkan “tangan-tangan-Mu” melambangkan perlindungan Tuhan.
- Repetisi → pengulangan kata “ombak dan badai” untuk menegaskan peran keduanya sebagai bagian penting dari perjalanan.
Puisi "Di Sebuah Penyeberangan" karya Asep Setiawan adalah sebuah renungan spiritual yang sarat dengan simbol dan imaji puitis. Tema perjalanan hidup, keyakinan akan perlindungan Tuhan, serta keberanian menghadapi tantangan menjadikan puisi ini tidak hanya indah, tetapi juga inspiratif. Dengan simbolisasi laut, layar, badai, dan tangan Tuhan, puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa dalam setiap penyeberangan kehidupan, manusia tidak pernah benar-benar sendiri.
Karya: Asep Setiawan