Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Di Sepanjang Dua Sisi Sungai Mongya (Karya Mawie Ananta Jonie)

Puisi “Di Sepanjang Dua Sisi Sungai Mongya” karya Mawie Ananta Jonie bercerita tentang kehidupan masyarakat di sekitar Sungai Mongya yang meskipun ...
Di Sepanjang Dua Sisi Sungai Mongya

Sebuah sungai mengalir membelah Kecamatan Mongya,
sudah bebas Mongya sungainya Sungai Mongya mencari muara.

Suku suku Thai, Kechin, Lawhu, Miao, Hui dan Han,
tinggal mendiami kedua sisi sungai hidup bergandengan tangan.

Mereka sepakat dalam Sarekat Tani membela garis belakang,
mendukung front depan untuk memenangkan perang.

Di sepanjang dua sisi sungai Mongya itu hanya ada satu,
arus perlawanan mengacungkan satu tinju

Siang para petaninya pegang pacul.
malamnya bedil mereka panggul.

Amsterdam, 21 Mei 2008

Analisis Puisi:

Puisi “Di Sepanjang Dua Sisi Sungai Mongya” karya Mawie Ananta Jonie menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat di sebuah daerah yang sarat dengan semangat persatuan, perjuangan, dan solidaritas. Melalui penggambaran Sungai Mongya yang membelah wilayah, penyair menekankan makna persaudaraan antar suku, sekaligus menyinggung konteks perjuangan rakyat dalam mempertahankan kehidupan dan tanah airnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah persatuan dan perjuangan rakyat. Penyair menekankan bagaimana berbagai suku yang berbeda latar belakang (Thai, Kechin, Lawhu, Miao, Hui, dan Han) hidup berdampingan, saling bahu-membahu, dan bersatu dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk perang.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan masyarakat di sekitar Sungai Mongya yang meskipun berbeda suku dan identitas, mereka bersatu dalam Sarekat Tani. Pada siang hari, mereka bekerja sebagai petani dengan cangkul di tangan, sedangkan pada malam hari mereka berubah menjadi pejuang dengan senjata di pundak. Kisah ini menekankan dualitas kehidupan rakyat: sebagai pekerja sederhana dan sekaligus pejuang yang membela tanah airnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa persatuan rakyat adalah kekuatan terbesar untuk melawan penindasan. Sungai Mongya menjadi simbol aliran perjuangan yang menyatukan berbagai perbedaan. Selain itu, penyair juga menyiratkan bahwa rakyat kecil, yang biasanya hanya dipandang sebagai petani, memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan revolusioner ketika mereka bersatu dan sadar akan nasib bersama.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah heroik, penuh semangat, dan solidaritas. Ada getaran perjuangan yang lahir dari kebersamaan, diiringi dengan kesan teguh dan tak gentar menghadapi perang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kebersamaan dalam keberagaman dapat menjadi landasan kokoh untuk menghadapi tantangan hidup. Perbedaan suku, budaya, dan latar belakang tidak menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan ketika diarahkan pada tujuan yang sama: mempertahankan kehidupan, keadilan, dan kemerdekaan.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan imaji gerak:
  • “Sebuah sungai mengalir membelah Kecamatan Mongya” → menghadirkan imaji visual tentang sungai yang nyata dan membelah wilayah.
  • “Siang para petaninya pegang pacul, malamnya bedil mereka panggul” → menciptakan imaji gerak yang kuat tentang transformasi petani menjadi pejuang.
  • “arus perlawanan mengacungkan satu tinju” → imaji visual yang melambangkan perlawanan dan kekuatan kolektif.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “arus perlawanan mengacungkan satu tinju” → perlawanan rakyat diibaratkan arus sungai yang kuat, tak terbendung.
  • Personifikasi: “Sungai Mongya mencari muara” → sungai digambarkan seolah-olah memiliki kehendak.
  • Repetisi: Pengulangan kata “sungai Mongya” menegaskan simbol penting yang menjadi pusat puisi.
  • Paralelisme: “Siang para petaninya pegang pacul, malamnya bedil mereka panggul” → bentuk paralelisme yang memperkuat kontras antara kehidupan damai dan perjuangan.
Puisi “Di Sepanjang Dua Sisi Sungai Mongya” karya Mawie Ananta Jonie bukan hanya sebuah penggambaran tentang sebuah sungai dan masyarakat di sekitarnya, tetapi juga sebuah simbol kuat tentang solidaritas, persatuan, dan perjuangan rakyat kecil. Melalui gaya bahasa sederhana namun padat, penyair berhasil menekankan bagaimana keberagaman suku dan latar belakang bisa menyatu dalam cita-cita besar: melawan penindasan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih adil.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Di Sepanjang Dua Sisi Sungai Mongya
Karya: Mawie Ananta Jonie
© Sepenuhnya. All rights reserved.