Analisis Puisi:
Puisi “Di Sepanjang Dua Sisi Sungai Mongya” karya Mawie Ananta Jonie menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat di sebuah daerah yang sarat dengan semangat persatuan, perjuangan, dan solidaritas. Melalui penggambaran Sungai Mongya yang membelah wilayah, penyair menekankan makna persaudaraan antar suku, sekaligus menyinggung konteks perjuangan rakyat dalam mempertahankan kehidupan dan tanah airnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah persatuan dan perjuangan rakyat. Penyair menekankan bagaimana berbagai suku yang berbeda latar belakang (Thai, Kechin, Lawhu, Miao, Hui, dan Han) hidup berdampingan, saling bahu-membahu, dan bersatu dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk perang.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan masyarakat di sekitar Sungai Mongya yang meskipun berbeda suku dan identitas, mereka bersatu dalam Sarekat Tani. Pada siang hari, mereka bekerja sebagai petani dengan cangkul di tangan, sedangkan pada malam hari mereka berubah menjadi pejuang dengan senjata di pundak. Kisah ini menekankan dualitas kehidupan rakyat: sebagai pekerja sederhana dan sekaligus pejuang yang membela tanah airnya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa persatuan rakyat adalah kekuatan terbesar untuk melawan penindasan. Sungai Mongya menjadi simbol aliran perjuangan yang menyatukan berbagai perbedaan. Selain itu, penyair juga menyiratkan bahwa rakyat kecil, yang biasanya hanya dipandang sebagai petani, memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan revolusioner ketika mereka bersatu dan sadar akan nasib bersama.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini adalah heroik, penuh semangat, dan solidaritas. Ada getaran perjuangan yang lahir dari kebersamaan, diiringi dengan kesan teguh dan tak gentar menghadapi perang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kebersamaan dalam keberagaman dapat menjadi landasan kokoh untuk menghadapi tantangan hidup. Perbedaan suku, budaya, dan latar belakang tidak menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan ketika diarahkan pada tujuan yang sama: mempertahankan kehidupan, keadilan, dan kemerdekaan.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual dan imaji gerak:
- “Sebuah sungai mengalir membelah Kecamatan Mongya” → menghadirkan imaji visual tentang sungai yang nyata dan membelah wilayah.
- “Siang para petaninya pegang pacul, malamnya bedil mereka panggul” → menciptakan imaji gerak yang kuat tentang transformasi petani menjadi pejuang.
- “arus perlawanan mengacungkan satu tinju” → imaji visual yang melambangkan perlawanan dan kekuatan kolektif.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “arus perlawanan mengacungkan satu tinju” → perlawanan rakyat diibaratkan arus sungai yang kuat, tak terbendung.
- Personifikasi: “Sungai Mongya mencari muara” → sungai digambarkan seolah-olah memiliki kehendak.
- Repetisi: Pengulangan kata “sungai Mongya” menegaskan simbol penting yang menjadi pusat puisi.
- Paralelisme: “Siang para petaninya pegang pacul, malamnya bedil mereka panggul” → bentuk paralelisme yang memperkuat kontras antara kehidupan damai dan perjuangan.
Puisi “Di Sepanjang Dua Sisi Sungai Mongya” karya Mawie Ananta Jonie bukan hanya sebuah penggambaran tentang sebuah sungai dan masyarakat di sekitarnya, tetapi juga sebuah simbol kuat tentang solidaritas, persatuan, dan perjuangan rakyat kecil. Melalui gaya bahasa sederhana namun padat, penyair berhasil menekankan bagaimana keberagaman suku dan latar belakang bisa menyatu dalam cita-cita besar: melawan penindasan dan memperjuangkan kehidupan yang lebih adil.
Karya: Mawie Ananta Jonie