Hidangan
Hidangan lezat makan malam
menikmati kebebasan yang manis dan tak mengenalnya
tak pernah merasakan remaja saat muda
ruang bawah tanah yang menyenangkan
Memandangi perbukitan hingga senjahari
seperti kehendak tuhan yang tersembunyi
mengucapkan sesuatu dengan kasih sayang
dipenuhi kebencian tak terpuaskan
Mendenguskan mulut mendesak sudut gelap
seakan merampas sesuatu kepemilikan
kebahagiaan dicapai melalui kepasrahan
membunuh jiwa lapar dengan lidah ular
Remah roti basi adalah kenikmatan masa kecil
makan lesehan rasa warung di rumah
menangkap senyuman dari atas kastil
seperti bunga kering yang jatuh dari kitab suci
Dengan tatapan tulus yang nakal
keindahan tubuh hanya sedalam kulit
tak ada belas kasihan yang masuk akal
keindahan surgawi menyala dari api neraka
Sumber: Burung-Burung Liar Merayah Terbang ke Selatan (2020)
Analisis Puisi:
Puisi “Hidangan” karya Hendro Siswanggono merupakan karya yang penuh dengan simbol dan lapisan makna. Dengan gaya bahasa yang lugas namun sarat imaji, penyair menghadirkan pengalaman batin yang kompleks mengenai kehidupan, penderitaan, kebebasan, hingga pencarian makna eksistensi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pergulatan hidup antara penderitaan, kenangan, dan pencarian kebahagiaan sejati. Penyair menggambarkan bagaimana manusia berhadapan dengan rasa lapar, kenangan masa kecil, cinta, kebencian, bahkan sisi gelap keinginan yang membentuk perjalanan hidup.
Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin seorang manusia yang mencoba mencerna hidup layaknya sebuah “hidangan”. Setiap bait seakan menyajikan menu berbeda: ada kenikmatan, ada pahit getir, ada kebencian, ada cinta, ada nostalgia masa kecil, hingga renungan spiritual. “Hidangan” dalam puisi ini bukan sekadar makanan, melainkan metafora kehidupan itu sendiri—penuh rasa, bertingkat, dan tak selalu manis.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup adalah perjalanan yang dipenuhi paradoks: kebebasan dan keterasingan, cinta dan kebencian, keindahan dan penderitaan. Penyair ingin menunjukkan bahwa manusia harus belajar menerima kenyataan hidup, baik yang pahit maupun manis, karena keduanya adalah bagian dari “hidangan” yang harus dijalani. Ada pula refleksi spiritual, misalnya ketika penyair menyebut “seperti kehendak Tuhan yang tersembunyi”, seolah menegaskan bahwa kehidupan memiliki rahasia ilahi yang tidak selalu mudah dipahami.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa kontradiktif dan penuh ketegangan emosional. Ada momen ketenangan ketika memandangi senja, ada nostalgia ketika mengenang masa kecil, tetapi juga muncul suasana kelam saat penyair menyinggung “lidah ular” atau “api neraka”. Perpaduan suasana ini membuat pembaca merasakan kegelisahan sekaligus perenungan mendalam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah pentingnya menerima kehidupan apa adanya, dengan segala suka dan dukanya. Kenangan masa kecil, pengalaman pahit, bahkan luka batin sekalipun, merupakan bagian dari proses manusia menuju kebijaksanaan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya datang dari kenikmatan duniawi, melainkan dari kepasrahan dan pemahaman yang lebih dalam terhadap hidup.
Imaji
Puisi ini sangat kaya dengan imaji. Beberapa contohnya:
- “Hidangan lezat makan malam” → menimbulkan imaji visual sekaligus rasa.
- “Memandangi perbukitan hingga senjahari” → menciptakan imaji pemandangan alam yang tenang.
- “Remah roti basi adalah kenikmatan masa kecil” → menghadirkan imaji nostalgia yang kontras antara kesederhanaan dan kenikmatan.
- “Seperti bunga kering yang jatuh dari kitab suci” → menciptakan imaji religius sekaligus puitis.
Imaji dalam puisi ini bergerak antara indrawi (rasa, pandang, dengar) dan imaji emosional-spiritual.
Majas
Penyair menggunakan berbagai majas untuk memperkuat makna puisinya, antara lain:
- Metafora: “Hidangan” sebagai simbol kehidupan.
- Personifikasi: “bunga kering yang jatuh dari kitab suci” yang seakan hidup dan memiliki makna.
- Simile (perbandingan): “seperti kehendak Tuhan yang tersembunyi” dan “seperti bunga kering yang jatuh dari kitab suci”.
- Hiperbola: “keindahan surgawi menyala dari api neraka” sebagai bentuk pernyataan ekstrem yang paradoksal.
Puisi “Hidangan” karya Hendro Siswanggono menghadirkan refleksi mendalam mengenai hidup dengan segala rasa yang dikandungnya. Dengan tema tentang pergulatan manusia dalam menjalani kehidupan, puisi ini bercerita tentang perjalanan batin yang penuh kenangan, kebahagiaan, kebencian, dan pencarian makna. Melalui imaji yang kuat dan majas yang berlapis, penyair menyampaikan pesan bahwa kehidupan harus diterima seutuhnya, karena setiap pengalaman—baik manis maupun pahit—adalah bagian dari hidangan kehidupan yang tak terpisahkan.
