Puisi: Hikayat Sri Rama (Karya Goenawan Mohamad)

Puisi "Hikayat Sri Rama" karya Goenawan Mohamad adalah sebuah pembacaan ulang Ramayana yang membalik kemegahan epik menjadi refleksi kemanusiaan.
Hikayat Sri Rama

KUMBAKARNA


Ayah itu bercerita tentang seorang penidur yang sakti,
seorang tambun yang bertapa di bukit,
yang mendengkur dan ingin bermimpi
tentang negeri yang tak punya raja.

'Ia bernama Kumbakarna.'

Anaknya hanya memahat kayu, mungkin
separuh mendengarkan. Ia tahu cerita itu akan berakhir
dengan kematian; ia ingin pahat itu tak melukai
tubuh ikan yang dibentuknya, karena sedih akan jadi
panjang dan umur (ia merasa begitu) hanya pendek.

"Aku menunggumu, Alengka, di jalan yang tak mudah,"
kata Kumbakarna sebelum berangkat.

Meninggalkan tujuh pengawal yang menemaninya,
si tambun pun menyeberangi
bentangan hutan. Dan sejak pagi itu,
di Alengka semua berhenti. Kata-kata,
selalu dimaksudkan, selalu didesakkan,
berubah seperti defile prajurit yang berputar.
Tak ada lagi garis depan.

Esoknya, dari tepi selat, orang melihat 1000 makhluk aneh
melintasi laut. Hanya samar. Kabut membentuk
berpuluh-puluh cerita. Seorang pengintai mengatakan
ada musuh datang dari Kiskenda, tapi tak ada yang tahu
benarkah ada negeri Kiskenda.

Kumbakarna berbisik, "tidak,"
dan ia pergi ke lekuk bukit.

Di luar cerita, anak itu meraut sirip
dan membayangkan arus yang biru gelap,
di mana tak ada yang tak bergerak,
juga kematian.

Ayahnya pun menutup ceritanya, lelah:
'Di jalan yang tak mudah,
Kumbakarna bermimpi
tentang sebuah negeri yang tak punya raja.'


TRIJATHA

Aku akan mencintaimu, monyet tua,
karena engkau adalah lelaki
yang memalsukan diri.

Kudengar kesedihanmu. Tapi juga
aku tahu apa yang kau percayai.
Telah kau katakan kepada senja yang hujan:
'Aku Kapi Jembawan yang tak akan berakhir;
aku mengubah,
aku seperti curah air;
aku mungkin trembesi
yang tak ditakdirkan.'

Saat itu langit pasti mendengar,
seperti bumi mendengar
derum guruh.

Jangan takut. Meskipun kau tahu: pada tiap datang gelap
dan nyanyian katak dari semak yang tergenang,
aku memang inginkan dengus seorang pangeran
yang telah bersumpah
akan menolak tubuhku.
Leksmana, pangeran Ayudhya yang menang,
ingin menghilang kembali ke dalam hutan.
Ia adalah ajal, bisiknya kepadaku,
yang mengikatkan diri.

Kau tahu kita semua bisa menangis

Maka sentuhkan rambutmu yang menakutkan, monyet tua,
ke bibirku. Apak, kusut, kering. Tanpa berahi, ranjang
tetap akan menutupkan selimutnya
sebelum lampu padam.
Relief pada tembok
tetap tak akan selesai bercerita
tentang seorang dewa
yang melepaskan zakarnya.

Kita semua
bisa menangis.


SUGRIWA

'Aku telah berkhianat,' kata kera merah itu.
'Apa yang terjadi?' tanya sang pertapa.
'Aku tak mengerti: telah datang dua orang asing dari Ayudya
yang membunuh saudara kandungku, dan aku memeluk mereka
sebelum aku memeluk tubuh saudaraku, dan mereka berkata
dengan suara yang tenteram, "ada keadilan"'

'Aku takut,' sambung kera merah itu pula.
'Kita tak perlu takut kepada yang ada dan bisa jelas.'
Empat malam sebelumnya, dari sebelah tenggara hutan
pertapa itu mendengar jerit: 'Namaku Subali!'.
Ia pun berjalan mendekat. Bulan hanya sebelah.
Dalam terang yang terbatas, ditemukannya genangan darah
dan sehelai daun tal yang tergeletak. Seekor burung pungguk
memandangi dari gelap - merasa lebih mengerti tentang malam
dan jejak yang terhapus.

Keadilan dan kematian begitu sederhana di semak kosong ini.
Juga sesal dan suara sedih. 'Aku memang ingin
ia tak ada,' kata kera merah itu pula,
'tapi aku tak ingin membunuh Subali.'

'Kau tak membunuhnya, Sugriwa. Ada perang
dan keinginan yang selalu bukan milik kita.'


SITA

Letakkan pelan kesunyianmu, Rahwana, di sisi
kesunyianku. Hanya ada pohon nagasari
yang tumbuh hitam
di sudut taman.
Kota separuh hangus.
Dan di takhta yang kosong
di dalam, jauh di dalam, ingatan
telah jadi bekas.


EPILOG

Anak itu selesai meraut hiu dari kayu
dan melontarkannya ke danau.

Ia tak mengatakan apa-apa,
tapi ayahnya tahu, di pahat itu
hikayat memilih arahnya sendiri.

'Dongeng adalah metamorfosa, ayah,
karena kiasan berhenti
dan Sita menolak
perjalanan ke Ayudya lagi.'

'Apa yang terjadi dengan Sita?' tanya sang ayah.

'Ia terjun ke telaga
mencari ikan terbang
yang menentang kematian.'

Tapi di sebuah hutan, jauh dari istana Rama yang pulih,
dua pangeran piatu yang menyingkirkan diri
membentuk busur bambu dan urat daging:
"Kami Kusya dan Lawa,
pembangkang yang berkabung,
yang tak ingin
siapa pun mati."

Tapi dalam mimpi mereka
mereka bunuh ayah mereka.

Dengan rahang mengetam mereka berbisik,
"Jangan Paduka sentuh ibu kami: permaisuri
itu telah lama bertopang di punggung hiu,
mencari arah ikan terbang"

Dan dalam cerita saya ini, ayah itu pun
menatap cemas
mata anaknya.
'Kita tak pernah mengerti Sri Rama,'
katanya.

Sumber: Kompas (18 Desember 2011)

Analisis Puisi:

Goenawan Mohamad dalam puisinya "Hikayat Sri Rama" menghadirkan kembali fragmen-fragmen kisah Ramayana, tetapi bukan dalam bentuk epik yang agung, melainkan melalui fragmen yang getir, reflektif, dan penuh keraguan. Tokoh-tokoh besar seperti Kumbakarna, Trijatha, Sugriwa, hingga Sita ditampilkan bukan sebagai pahlawan mitologis, melainkan sebagai manusia yang rapuh, gamang, bahkan dipenuhi sesal.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pergumulan manusia dengan takdir, keadilan, dan kesetiaan yang tak pernah sederhana. Puisi ini juga mengangkat tema kemanusiaan di balik mitologi, dengan cara mengungkap sisi rapuh, kerinduan, serta pertentangan batin para tokoh Ramayana.

Puisi ini bercerita tentang fragmen-fragmen tokoh dalam kisah Ramayana yang dipandang dari sudut berbeda:
  • Kumbakarna tampil sebagai sosok yang bermimpi tentang negeri tanpa raja, seorang tokoh besar yang justru menghadapi kematian dengan kesepian.
  • Trijatha menyuarakan cinta yang penuh luka dan kerinduan, menyingkap kontradiksi antara kesetiaan dan penolakan.
  • Sugriwa mengalami dilema moral karena merasa berkhianat terhadap saudaranya Subali, meski keadaan perang dan “keadilan” membuat segalanya kabur.
  • Sita menghadirkan suara kesunyian di tengah kehancuran dan kehilangan.
Puisi ini ditutup dengan epilog, di mana seorang anak dan ayah berbincang, seolah kisah ini hanyalah dongeng yang terus berubah arah, tidak pernah selesai, bahkan penuh penolakan terhadap tafsir tunggal.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa mitologi besar sesungguhnya menyimpan luka dan paradoks yang dekat dengan hidup manusia nyata. Goenawan seakan ingin mengatakan bahwa dalam tiap kisah kepahlawanan, ada bagian yang tidak pernah terang: keadilan yang meragukan, cinta yang terluka, kesetiaan yang penuh sesal. Kisah Sri Rama bukan hanya tentang kebenaran melawan kebatilan, melainkan tentang rapuhnya manusia menghadapi perang, cinta, dan kematian.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, getir, dan penuh perenungan. Ada kesepian dalam suara Kumbakarna, kerinduan yang pahit dalam kata-kata Trijatha, rasa bersalah yang dalam dalam pengakuan Sugriwa, dan keheningan muram dalam kesunyian Sita. Semua berpadu menjadi suasana duka dan permenungan tentang hidup yang tak pernah sederhana.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa hidup tidak bisa hanya dipandang hitam-putih antara kebenaran dan kejahatan. Ada sisi rapuh dalam setiap manusia, bahkan dalam tokoh yang dianggap agung sekalipun. Puisi ini juga menyiratkan bahwa cerita dan sejarah selalu bergerak, bisa ditafsir ulang, dan tak pernah final. Apa yang disebut kebenaran atau keadilan sering kali sarat dengan keraguan dan luka.

Imaji

Goenawan Mohamad membangun puisi ini dengan imaji yang kaya dan simbolik, antara lain:
  • “seorang tambun yang bertapa di bukit, yang mendengkur dan ingin bermimpi tentang negeri yang tak punya raja” → imaji Kumbakarna yang mengandung kritik pada kekuasaan.
  • “Esoknya, dari tepi selat, orang melihat 1000 makhluk aneh melintasi laut” → imaji visual kabut perang yang penuh misteri.
  • “pohon nagasari yang tumbuh hitam di sudut taman” → imaji kesunyian dan kehancuran yang dialami Sita.
  • “anak itu selesai meraut hiu dari kayu dan melontarkannya ke danau” → imaji simbolik metamorfosis cerita yang selalu berubah arah.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini, antara lain:
  • Metafora – “negeri yang tak punya raja” sebagai lambang kerinduan akan kebebasan dari kuasa.
  • Personifikasi – “kabut membentuk berpuluh-puluh cerita” memberi sifat hidup pada kabut.
  • Hiperbola – “1000 makhluk aneh melintasi laut” sebagai gambaran dramatis pertempuran besar.
  • Ironi – pahlawan besar justru digambarkan dalam kelemahan dan keraguannya.
Puisi "Hikayat Sri Rama" karya Goenawan Mohamad adalah sebuah pembacaan ulang Ramayana yang membalik kemegahan epik menjadi refleksi kemanusiaan. Tokoh-tokoh besar tampil rapuh, penuh keraguan, bahkan tragis. Melalui imaji yang kuat dan suasana melankolis, Goenawan menghadirkan pesan bahwa sejarah dan mitologi bukanlah cerita yang beku, melainkan tafsir yang terus bergerak—dongeng yang selalu membuka jalan bagi pertanyaan baru.

Puisi Goenawan Mohamad
Puisi: Hikayat Sri Rama
Karya: Goenawan Mohamad

Biodata Goenawan Mohamad:
  • Goenawan Mohamad (nama lengkapnya Goenawan Soesatyo Mohamad) lahir pada tanggal 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah.
  • Goenawan Mohamad adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.