Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Humbalang (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi "Humbalang" karya Sugiarta Sriwibawa bercerita tentang seorang perantau yang harus meninggalkan kampung halamannya, digambarkan lewat simbol ...
Humbalang

Angin tergugah menjelang pagi
Tak sempat menyapa
Tapi kudengar bumi terjaga
Halimun tersibak fajar

Sekali ini ada tangan mengusap dada
Secercah mata
Pasti ia si perantau yang dihumbalang takdir
Hendak membuka-buka lembaran hari
Lalu melangkah seperti burung jenjang
Ah, silakan, silakan engkau mengucap pamit
Sampai ketemu di samar senja

Mungkinkah angin menggerebak merusak pagi
Dan sepanjang hari aku akan tinggal di rumah
Kau tak lagi kuingat
Karena di ujung musim angin berpusar arah
Awan bagaikan terban, bergulung kelabu basah

Mamang angin bangkit menggertak hari
Kudengar desaunya
Kubaca geram galaunya
Memang, memang ada iramanya
Karena ingat pesan si perantau salih:
Tak ada, tak ada hari yang naas

Kapan angin melanda sore
Ia pun pulang dengan langkah burung jenjang
Tak selembar bulu tercabik
Hanya matanya berdebu, tapi suaranya bangga:
Aku tahu makna kutuk prahara

Sekali saat daun-daun coklat gugur
Dengan irama iringan menggersik
Membungkah warna-warna baru kelopak bunga

Diriku diam
Tak menyela.

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi "Humbalang" karya Sugiarta Sriwibawa adalah salah satu teks puitik yang kaya dengan simbol alam, perantauan, serta pergulatan manusia dengan nasib dan prahara kehidupan. Melalui penggambaran angin, burung, awan, dan fajar, penyair menuturkan perjalanan batin seorang perantau yang mencoba berdamai dengan takdir, sekaligus memberikan refleksi tentang sikap manusia dalam menghadapi cobaan.

Tema

Tema utama puisi Humbalang adalah perjalanan hidup manusia yang penuh cobaan, perpisahan, dan usaha memahami makna takdir. Alam dalam puisi ini tidak hanya menjadi latar, melainkan juga cermin bagi suasana hati tokoh perantau dan orang yang ditinggalkan.

Puisi ini bercerita tentang seorang perantau yang harus meninggalkan kampung halamannya, digambarkan lewat simbol "burung jenjang" yang melangkah jauh. Angin, fajar, dan awan menjadi saksi dari perpisahan itu. Narator puisi menyampaikan rasa kehilangan, sekaligus menyimpan keyakinan bahwa perjalanan hidup tidak ada yang benar-benar naas, meskipun penuh badai dan prahara.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah keberanian menghadapi kehidupan yang penuh risiko dan ketidakpastian. Perantauan diibaratkan sebagai perjalanan panjang yang tak lepas dari cobaan, tetapi di balik badai, selalu ada makna dan pelajaran. Kutukan atau prahara bukanlah akhir, melainkan cara hidup mengajarkan keteguhan hati.

Selain itu, terdapat pula makna kepasrahan dan kebijaksanaan dalam menghadapi perpisahan. Alam menjadi perumpamaan bahwa semua yang datang akan pergi, semua yang tumbuh akan gugur, namun selalu ada kehidupan baru yang menyusul.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini berganti-ganti:
  • Awalnya teduh dan penuh harapan saat fajar dan perantau bersiap pergi.
  • Menjadi muram, gelisah, dan penuh badai ketika angin digambarkan menggertak hari.
  • Namun akhirnya kembali tenang, penuh kebijaksanaan, bahkan menghadirkan rasa pasrah dan penerimaan.

Amanat / Pesan yang disampaikan

Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah:
  • Hidup adalah perjalanan yang tidak lepas dari badai dan cobaan, tetapi manusia harus tetap melangkah dengan keteguhan hati.
  • Perpisahan bukan akhir dari segalanya, karena selalu ada pertemuan dan kelahiran baru.
  • Tidak ada hari yang naas, jika manusia mampu memahami dan mengambil makna dari setiap prahara.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji alam yang kuat:
  • Imaji pendengaran: “Kudengar desaunya, kubaca geram galaunya” menghadirkan bunyi angin yang menderu.
  • Imaji penglihatan: “Awan bagaikan terban, bergulung kelabu basah” membentuk gambaran visual suasana mendung dan badai.
  • Imaji gerak: “Melangkah seperti burung jenjang” menampilkan bayangan langkah panjang perantau yang anggun.
  • Imaji peraba: “Ada tangan mengusap dada” memberikan sensasi kehangatan sekaligus perpisahan.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: Angin digambarkan dapat menggertak, bangkit, dan memiliki irama (“Mamang angin bangkit menggertak hari”).
  • Metafora: Perantau disamakan dengan burung jenjang, simbol langkah jauh dan kesabaran.
  • Repetisi: Pengulangan kata “tak ada, tak ada” untuk menekankan pesan bahwa tidak ada hari yang sial.
  • Simbolisme: Awan kelabu, gugurnya daun, dan fajar melambangkan perubahan hidup, kesedihan, sekaligus harapan.
Puisi "Humbalang" karya Sugiarta Sriwibawa adalah refleksi tentang kehidupan, perantauan, dan perpisahan yang dibalut dengan imaji alam yang indah sekaligus muram. Dengan memanfaatkan majas dan simbol-simbol puitik, penyair menyampaikan bahwa meskipun manusia dihadapkan pada prahara, tetap ada pelajaran dan kebijaksanaan yang bisa dipetik.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Humbalang
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.