Analisis Puisi:
Puisi "Isnu Kembara" karya Hasbi Burman menghadirkan potret persahabatan, perubahan, sekaligus ironi kehidupan yang dituturkan secara singkat namun penuh makna. Dengan diksi sederhana, penyair membangun dunia yang menghubungkan nostalgia masa lalu dengan realitas yang berbeda di masa kini. Melalui puisi ini, pembaca diajak menelusuri kenangan, kehilangan, dan pergeseran arah hidup seseorang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perubahan dalam persahabatan akibat perjalanan hidup. Puisi ini memperlihatkan bagaimana hubungan akrab di masa lalu dapat berubah karena pilihan hidup masing-masing, khususnya ketika salah satu sahabat mengalami transformasi identitas.
Puisi ini bercerita tentang kenangan dua sahabat yang dahulu akrab bercakap tentang alam, angin, dan ombak di Lhok Aron. Namun, situasi berubah ketika hadir seorang gadis yang memengaruhi dinamika persahabatan mereka. Kemudian, salah satu sahabat mengalami perubahan besar—ditandai dengan metafora “menyandang dan memakai baju jubah”—yang menandakan pergeseran peran, status, atau mungkin tanggung jawab spiritual dan sosial. Puisi ini menutup dengan pernyataan satir “begitulah piala bergilir,” seolah mengisyaratkan bahwa kehidupan, cinta, maupun kedekatan adalah sesuatu yang berpindah dari satu orang ke orang lain.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kehidupan selalu bergerak, dan dalam pergerakan itu hubungan manusia pun berubah. Kedekatan yang dulunya sederhana dan murni bisa tergantikan oleh kepentingan, pilihan, atau keadaan baru. Ada juga sindiran tentang sifat manusia yang berubah ketika mendapatkan sesuatu yang baru, baik dalam hal status, cinta, maupun peran sosial. Metafora “piala bergilir” menegaskan bahwa tak ada yang benar-benar abadi dalam kepemilikan, termasuk dalam soal persahabatan maupun cinta.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa nostalgis sekaligus getir. Ada kerinduan akan kebersamaan di masa lalu, namun juga ada kekecewaan ketika semua berubah. Nada yang muncul bukan sekadar melankolis, tetapi juga mengandung ironi, seakan penyair menertawakan kenyataan yang tak bisa dihindari.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa hidup penuh perubahan, dan manusia harus siap menghadapi pergeseran peran maupun hubungan. Tidak ada yang tetap—baik persahabatan, cinta, maupun status—semua bergerak seperti “piala bergilir”. Dengan demikian, kita diajak untuk menerima kenyataan dengan lapang dada, meski tetap menyimpan kenangan sebagai bagian dari perjalanan hidup.
Imaji
Hasbi Burman menggunakan imaji alam untuk menggambarkan kebersamaan di masa lalu, seperti:
- “riuh angin dan debur ombak” → imaji auditif yang menghadirkan suasana hidup dan penuh energi.
- “Lhok Aron yang tak pernah diam” → imaji visual sekaligus auditif, membawa pembaca ke sebuah tempat pesisir yang dinamis.
Imaji ini memperkuat kesan bahwa persahabatan mereka dahulu hangat, alami, dan penuh kehidupan.
Majas
Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Majas personifikasi: “Lhok Aron yang tak pernah diam” seolah tempat tersebut hidup dan memiliki sifat manusia.
- Majas metafora: “memakai baju jubah” melambangkan perubahan identitas atau status baru.
- Majas metafora satir: “piala bergilir” digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang berpindah dari satu orang ke orang lain, bisa berarti cinta, persahabatan, atau posisi.
Puisi "Isnu Kembara" karya Hasbi Burman menghadirkan refleksi sederhana namun tajam mengenai perubahan hidup, ironi persahabatan, dan sifat manusia yang dinamis. Dengan gaya lugas dan simbolis, penyair berhasil menyampaikan pesan bahwa segala sesuatu dalam hidup—baik peran, cinta, maupun kedekatan—tidak pernah benar-benar permanen. Seperti halnya piala bergilir, hidup selalu berpindah tangan dan berubah wajah.
Puisi: Isnu Kembara
Karya: Hasbi Burman
Biodata Hasbi Burman:
- Hasbi Burman (Presiden Rex) lahir pada tanggal 9 Agustus 1955 di Lhok Buya, Aceh Barat.