Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Jembatan Tua, Kuburan Tua (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi "Jembatan Tua, Kuburan Tua" karya Sugiarta Sriwibawa bercerita tentang seorang pengembara yang merenungi keberadaan jembatan tua dan kuburan ...
Jembatan Tua, Kuburan Tua

Tangan-tangan jembatan
Yang merentang di air bayangan
Aku ingin menggapai, luruh tertahan
Dua muka bercerai, jatuh antara awan

Jembatan tua
Tak kusangka
Engkau yang meniti usia
Sejak kami belia
Di barut-carut kayu
Rengkah derak telapak
Lumut waktu
Dan bencah, menatap kuinjak

Engkau yang senantiasa menyapa
Karena menunjuk dengan tanganmu arah
Kuburan tua di seberang, dengan nisan satu-satu
Aku membaca nama orang-orang tuaku
Dalam tahun-tahun sejarah
Pusara yang berpesan kata

Aku pun pengembara
Wahai, jembatan tua, kuburan tua
Aku pun tahu, engkau yang memendam sepi
Ziarahku setiap waktu

Dalam mimpi bersama
Warna senjakala memulas kali
Diantar derau pucuk-pucuk bambu

Suara sepi
— Jembatan tua
Wajah sepi
— Kuburan tua

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi "Jembatan Tua", Kuburan Tua karya Sugiarta Sriwibawa adalah salah satu karya yang kaya makna, penuh simbol, dan sarat dengan refleksi tentang kehidupan, perjalanan waktu, serta pertemuan manusia dengan kenangan dan kematian. Penyair menggunakan jembatan tua dan kuburan tua sebagai dua simbol utama yang saling terkait untuk menghadirkan imaji mendalam tentang keterhubungan antara kehidupan yang fana dan akhir dari perjalanan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah refleksi tentang waktu, kenangan, dan kefanaan hidup manusia. Penyair menjadikan jembatan tua sebagai lambang perjalanan hidup dan kuburan tua sebagai lambang akhir dari ziarah manusia di dunia.

Puisi ini bercerita tentang seorang pengembara yang merenungi keberadaan jembatan tua dan kuburan tua. Jembatan tua yang pernah dilaluinya sejak kecil menjadi saksi perjalanan hidupnya, sementara kuburan tua di seberang sungai mengingatkannya pada leluhur yang telah mendahului. Puisi ini menghadirkan gambaran perjalanan spiritual dan perenungan tentang hidup, mati, serta hubungan manusia dengan sejarah dan warisan masa lalu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hidup manusia hanyalah perjalanan sementara yang penuh dengan kenangan, kesepian, dan akhirnya akan berakhir pada kematian. Jembatan tua melambangkan perjalanan yang rapuh dan penuh jejak waktu, sementara kuburan tua menjadi pengingat bahwa setiap kehidupan akan berakhir pada pusara. Puisi ini juga menyiratkan pesan tentang pentingnya menghargai sejarah, mengenang leluhur, serta menyadari keterbatasan manusia di hadapan waktu.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa hening, sendu, reflektif, dan penuh perenungan. Nuansa kesepian begitu kuat, terutama dalam bait-bait yang menyinggung suara sepi, wajah sepi, serta warna senjakala yang memulas sungai. Keseluruhan puisi menghadirkan kesan kontemplatif, seolah pembaca diajak untuk ikut larut dalam renungan penyair.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa manusia harus menyadari kefanaan hidup dan memaknai perjalanan hidupnya dengan penuh kesadaran. Jembatan tua dan kuburan tua mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, kehidupan akan usang, dan kematian adalah kepastian. Namun, melalui kenangan dan ziarah, manusia bisa tetap terhubung dengan masa lalu dan leluhurnya.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan auditif. Imaji visual tampak dalam gambaran “tangan-tangan jembatan / yang merentang di air bayangan”, “barut-carut kayu, lumut waktu”, “kuburan tua di seberang, dengan nisan satu-satu”, hingga “warna senjakala memulas kali”. Imaji auditif muncul dalam frasa “derak telapak”, “derau pucuk-pucuk bambu”, serta “suara sepi”. Imaji-imaji ini membuat puisi terasa hidup, nyata, dan penuh atmosfer.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “tangan-tangan jembatan / yang merentang di air bayangan” — jembatan digambarkan seolah memiliki tangan.
  • Metafora: jembatan tua sebagai simbol perjalanan hidup, kuburan tua sebagai simbol akhir kehidupan.
  • Repetisi: pengulangan frasa “jembatan tua” dan “kuburan tua” yang memperkuat simbol utama puisi.
  • Hiperbola: “engkau yang memendam sepi / ziarahku setiap waktu”, seolah jembatan dan kuburan mampu memendam kesepian manusia sepanjang waktu.
Puisi "Jembatan Tua, Kuburan Tua" karya Sugiarta Sriwibawa merupakan renungan tentang perjalanan hidup, kenangan masa lalu, dan kepastian kematian. Dengan memanfaatkan simbol jembatan dan kuburan, penyair berhasil menghadirkan suasana sendu, reflektif, dan penuh makna. Imaji yang kuat dan majas yang mendalam menjadikan puisi ini tidak hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai media kontemplasi spiritual yang mengingatkan kita pada kefanaan hidup.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Jembatan Tua, Kuburan Tua
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.