Puisi: Kau Telah Hilang, Kata Orang (Karya Aslan Abidin)

Puisi "Kau Telah Hilang, Kata Orang" karya Aslan Abidin bercerita tentang seseorang (aku lirik) yang harus berpisah dari kekasihnya, lalu bertahun ...
Kau Telah Hilang, Kata Orang

aku harus berangkat.
lihatlah, rembulan di atas mulai pucat."

lalu aku berkemas seadanya,
sekedar mematut letak rambut. dan aku tercekat
di saat pamit: bibirmu terasa begitu pahit.
entah mengapa kedatangan matahari pagi itu, terasa
begitu tergesa-gesa dan sia-sia.

lalu ribuan musim berubah dan lewat tanpa
satu ujungnya dapat kita cegah bersama. kita
tak pernah lagi bertukar tangis.

angin dan dingin di luar mendesak kita
menutup jendela, sementara usia cinta
kita terus saja menua.

telah kutelusur sekujur bumi,
pelajari ritus gaib perkawinan, kuasai
mantera mujarab keabadian. agar hati kita tetap
erat berpelukan, berharap
persetubuhan kita abadi.

"kenangan? oh tak ada lagi
yang dapat ditemukan di jalan ini.
semua telah hilang."

sekarang aku pulang,
bingung mencarimu: di pantai yang
pasirnya pernah mengukir jejak kaki kita. asing
dan bising.

aku kehilangan
sudut tempat kita pernah menyimpan
rencana hari esok

mungkin nasib bersekongkol memojokkan
kita. suatu malam aku lihat kau di jambas,
sedang mengenakan topeng

Makassar, 1993

Catatan:
Jambas: (jambatang bassi), sebuah tempat pelacuran di Makassar.

Analisis Puisi:

Puisi "Kau Telah Hilang, Kata Orang" karya Aslan Abidin adalah elegi pahit yang menggambarkan keretakan hubungan, hilangnya cinta, dan kehancuran eksistensial seorang perempuan. Melalui bahasa puitik yang lirih dan penuh luka, penyair membawa pembaca pada perenungan tentang nasib, waktu, cinta, dan kehilangan yang tak bisa dicegah oleh siapa pun. Dalam nuansa kesedihan yang sangat manusiawi, puisi ini juga menyingkap sebuah kritik sosial dan tragedi batin yang berujung pada keterasingan.

Tema

Puisi ini mengusung tema utama kehilangan dan keterasingan, khususnya dalam relasi emosional dan cinta yang pernah dijaga. Namun di dalamnya juga terkandung tema-tema lain yang saling bersinggungan:
  1. Perubahan waktu yang menggerus keabadian
  2. Kehilangan jati diri dan arah hidup
  3. Nasib dan pilihan tragis perempuan
  4. Cinta yang tak berhasil bertahan dalam kejamnya realitas
Puisi ini bercerita tentang seseorang (aku lirik) yang harus berpisah dari kekasihnya, lalu bertahun-tahun kemudian kembali pulang dan mendapati bahwa kekasihnya telah hilang secara fisik dan moral. Ia menelusuri jejak masa lalu, mencari harapan yang dahulu pernah ada, namun hanya menemukan kehampaan.

Puisi ini menggambarkan transformasi tragis: dari cinta yang indah, menjadi asing, dan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. Dalam puncaknya yang mengejutkan, penyair menyaksikan mantan kekasihnya di jambas (tempat pelacuran di Makassar), menggunakan topeng, menandakan hilangnya identitas dan harga diri.

Makna Tersirat

Puisi ini sarat makna tersirat yang tajam dan menyentuh:
  • Cinta tidak selalu abadi meski diperjuangkan. Penyair menggambarkan bahwa cinta mereka dulu telah dipelihara dengan harapan dan mantera, tetapi tidak sanggup melawan waktu dan realitas.
  • Nasib dan waktu bisa menghancurkan seseorang. Perubahan yang dialami sang kekasih bukan sekadar perubahan fisik, tapi perubahan eksistensial, yang mungkin disebabkan oleh tekanan sosial atau ekonomi.
  • Perempuan sebagai korban zaman. Melalui gambaran tentang sang kekasih yang akhirnya berada di jambas, penyair mengangkat realitas pahit tentang perempuan yang kehilangan jalan dan identitas, hingga memilih atau terpaksa menjalani kehidupan kelam.
  • Topeng sebagai simbol keterasingan dan kehancuran identitas. Saat sosok perempuan itu memakai topeng, seolah ia bukan lagi dirinya yang dulu dikenal sang penyair. Ia menjadi anonim, menjauh dari nilai-nilai yang dulu pernah mereka miliki bersama.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini muram, pilu, getir, dan penuh keputusasaan.
  1. Di awal, nuansa sendu dan melankolis muncul saat penyair mengucap pamit.
  2. Lalu puisi berubah menjadi reflektif dan menyayat saat menggambarkan upaya penyair mempertahankan cinta meski waktu terus berlalu.
  3. Dan di akhir, suasana menjadi tragis dan penuh keterkejutan, ketika si “kau” telah berubah menjadi sosok asing di tempat pelacuran.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan pesan-pesan yang dalam dan menggugah:
  1. Kehidupan dan cinta tidak selalu berjalan sesuai harapan, bahkan bisa berubah menjadi luka.
  2. Pentingnya menjaga nilai dan jati diri dalam menghadapi kerasnya hidup.
  3. Manusia harus sadar bahwa waktu, pilihan, dan nasib bisa mengubah segalanya.
  4. Tragedi sosial dan ekonomi bisa menggiring seseorang ke arah yang bertentangan dengan masa lalunya.

Imaji

Puisi ini membangun imaji yang kuat, kontras antara masa lalu dan masa kini:
  1. “lihatlah, rembulan di atas mulai pucat.” → Imaji alam yang melambangkan perubahan dan perpisahan yang menyakitkan.
  2. “di pantai yang pasirnya pernah mengukir jejak kaki kita.” → Imaji romantis yang berubah menjadi asing dan penuh kehampaan.
  3. “suatu malam aku lihat kau di jambas, sedang mengenakan topeng.” → Imaji tragis dan tajam yang menjadi klimaks emosional dari puisi ini.

Majas

Puisi ini juga dihiasi dengan beragam majas (gaya bahasa) yang memperkuat maknanya:
  1. Personifikasi: “matahari pagi itu terasa begitu tergesa-gesa dan sia-sia” → Matahari digambarkan seperti manusia yang terburu-buru, menciptakan kesan hari yang tidak berguna tanpa kehadiran sang kekasih.
  2. Metafora: “usia cinta kita terus saja menua” → Menggambarkan hubungan yang sudah lapuk dan kehabisan daya tahan.
  3. Simbolisme: “topeng” sebagai simbol keterasingan, kemunafikan, atau kehancuran identitas.
  4. Antitesis: Antara kenangan indah di masa lalu dan realitas pahit di masa kini, membentuk kontras emosional yang dalam.
Puisi "Kau Telah Hilang, Kata Orang" karya Aslan Abidin adalah refleksi tajam tentang cinta yang kalah oleh waktu dan kehidupan, serta potret sosial tentang perempuan yang jatuh dalam keterasingan. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun menusuk, puisi ini tidak hanya menyentuh sisi personal, tetapi juga menggugah kesadaran sosial tentang nasib, identitas, dan kehilangan.

Satu hal yang paling menghantui dari puisi ini adalah bahwa yang hilang bukan hanya cinta, tapi juga kemanusiaan, martabat, dan harapan.

Yudhistira A.N.M. Massardi dan Aslan Abidin
Puisi: Kau Telah Hilang, Kata Orang
Karya: Aslan Abidin

Biodata Aslan Abidin:
  • Aslan Abidin lahir pada tanggal 31 Mei 1972 di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.