Info Terbaru: Pidie Jaya kembali dilanda banjir. Aceh belum benar-benar pulih

Puisi: Kepada yang Bergurau (Karya Rustam Effendi)

Puisi "Kepada yang Bergurau" karya Rustam Effendi bercerita tentang seorang tokoh yang menyapa “engkau” – digambarkan sebagai cucu Adam, Ratna ...
Kepada yang Bergurau

    O, engkau cucu Adam
yang bermain di taman bunga, berteduh di bawah bahgia.
    Alangkah senang sentosamu, menyedapi buah yang lezat,
                    bertangkai di pohon Asmara.

    O, engkau Ratna alam,
yang bertilam kesuma nyawa, disimbur Asmara juwita.
    Soraikan gelak suaramu,
dipeluki tangan yang lembut, dicium, diriba Permata.

    O, engkau makhluk Tuhan.
Sepatah madah tolong dengarkan, tolong pikirkan,
    sekalipun tuan dalam bergurau.

    Jauh bersunyi tolan,
seorang béta dalam berduka, tiap ketika,
    merindukan tanah dapat merdéka.

Sumber: Puitika Roestam Effendi dan Percikan Permenungan (2013)

Analisis Puisi:

Tema utama puisi ini adalah kontras antara kebahagiaan pribadi dan penderitaan bangsa yang terjajah. Rustam Effendi menggambarkan suasana riang seseorang yang menikmati keindahan cinta dan hidup, lalu menempatkannya berlawanan dengan perasaan penyair yang tengah larut dalam kesedihan karena merindukan kemerdekaan tanah air.

Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh yang menyapa “engkau” – digambarkan sebagai cucu Adam, Ratna alam, dan makhluk Tuhan – yang sedang bergembira di bawah naungan cinta. Penyair melihat kebahagiaan tokoh tersebut sebagai sesuatu yang indah, namun pada saat yang sama, ia mengungkapkan bahwa dirinya jauh dari suasana itu. Ia berada dalam kesunyian, terjebak dalam rasa duka dan rindu akan tanah air yang bebas dari penjajahan.

Kisahnya seolah menjadi teguran halus bahwa ada penderitaan besar yang berlangsung di luar lingkaran kebahagiaan pribadi.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik sosial dan seruan kesadaran nasional. Rustam Effendi mengingatkan bahwa di tengah kebahagiaan dan kelalaian sebagian orang, ada penderitaan kolektif yang seharusnya diingat. Penulis ingin mengatakan bahwa kemerdekaan bangsa adalah persoalan yang lebih besar daripada kesenangan pribadi.

Selain itu, penyair juga menyiratkan perasaan terasing: meskipun hidup di dunia yang sama, jarak emosional antara mereka yang bergurau dan yang berduka sangatlah lebar.

Suasana dalam puisi

Suasana puisi ini memadukan kegembiraan dan kesedihan. Bagian awal menghadirkan gambaran bahagia yang lembut dan romantis, namun pada bagian akhir suasananya berubah menjadi muram, penuh kerinduan, dan sarat penderitaan batin. Pergeseran suasana ini memperkuat kontras antara dunia “engkau” dan dunia “aku”.

Amanat / pesan yang disampaikan puisi

Amanat puisi ini adalah agar manusia tidak terlena oleh kebahagiaan pribadi hingga melupakan penderitaan bersama. Rustam Effendi mengajak pembaca untuk merenung, mempertimbangkan nasib bangsa, dan memupuk rasa solidaritas. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan tanah air adalah cita-cita yang harus diupayakan, meskipun kita berada dalam kenyamanan hidup.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan imaji perasaan:
  • Imaji visual: taman bunga, buah lezat di pohon asmara, ratna alam, tilam kesuma nyawa.
  • Imaji perasaan: kegembiraan saat bergurau, rasa duka mendalam karena tanah air belum merdeka, kerinduan akan kebebasan.
Gambaran-gambaran ini membuat pembaca dapat merasakan kontras antara keindahan dunia asmara dan kepedihan akibat penjajahan.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “pohon Asmara” untuk menggambarkan cinta; “tilam kesuma nyawa” untuk menunjukkan kenyamanan hidup.
  • Personifikasi: Asmara yang “disimbur juwita” seolah memiliki sifat manusia.
  • Repetisi: panggilan “O, engkau…” yang diulang di awal tiap bagian sebagai penekanan.
  • Hiperbola: penggambaran kebahagiaan dan kesedihan yang dilebihkan untuk memberi efek emosional.
Puisi "Kepada yang Bergurau" karya Rustam Effendi adalah potret kontras antara kebahagiaan pribadi dan kesedihan kolektif bangsa yang belum merdeka. Dengan perpaduan imaji romantis dan nada duka, Rustam menyampaikan pesan bahwa di tengah kebahagiaan, kita tak boleh melupakan penderitaan bersama dan harus tetap mengingat cita-cita kemerdekaan. Struktur puisi yang menggunakan repetisi dan bahasa kias memperkuat kesan emosional serta menjadikan karya ini relevan sebagai refleksi sosial dan nasionalisme.

Rustam Effendi
Puisi: Kepada yang Bergurau
Karya: Rustam Effendi

Biodata Roestam Effendi:
  • Rustam Effendi lahir pada tanggal 13 Mei 1903 di Padang, Sumatra Barat.
  • Rustam Effendi meninggal dunia pada tanggal 24 Mei 1979 (pada usia 76) di Jakarta.
© Sepenuhnya. All rights reserved.