Analisis Puisi:
Puisi "Kesaksian Mata" karya D. Kemalawati merupakan salah satu puisi singkat yang sarat dengan makna reflektif. Meskipun hanya terdiri dari beberapa larik, kekuatan puisinya terletak pada penggunaan kata-kata yang padat, metaforis, dan menyiratkan perenungan mendalam mengenai penglihatan, kebenaran, dan kekuatan cahaya dalam menghadapi kegelapan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kesaksian dan kebenaran yang ditangkap oleh mata. Mata, dengan segala keterbatasannya, digambarkan sebagai alat untuk melihat realitas, namun sekaligus mampu merekam pengalaman pahit maupun terang dalam hidup.
Puisi ini bercerita tentang bagaimana mata menjadi saksi terhadap peristiwa hidup, baik yang penuh kegelapan (prahara) maupun yang diterangi cahaya kebenaran. Sang penyair mencoba menyampaikan bahwa penglihatan tidak dapat berbohong—retina merekam apa yang benar-benar ada.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah pesan moral tentang kejujuran dan keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan. Cahaya melambangkan kebenaran, harapan, dan pencerahan, sedangkan gulita dan magma prahara melambangkan konflik, penderitaan, dan masalah besar. Dengan demikian, puisi ini menekankan bahwa meskipun dunia penuh dengan prahara, cahaya kebenaran tetap bisa menyingkap segalanya.
Suasana dalam puisi
Suasana yang tergambar dalam puisi ini adalah serius, reflektif, dan tegang. Larik-lariknya menghadirkan nuansa perenungan tentang realitas yang kadang kelam, namun tetap ada keyakinan akan hadirnya cahaya sebagai penuntun.
Amanat / Pesan yang disampaikan
Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah pentingnya menjunjung kebenaran dan menghadapi kenyataan dengan mata yang jujur. Cahaya tidak bisa disembunyikan selamanya, dan kesaksian yang jujur akan menyingkap apa yang sebenarnya terjadi.
Imaji
Puisi ini mengandung imaji penglihatan yang sangat kuat, misalnya pada kata retina, cahaya, dan gulita. Imaji tersebut membantu pembaca membayangkan peran mata sebagai saksi yang merekam dan menyingkap kebenaran. Selain itu, kata magma prahara menghadirkan imaji alam yang eksplosif, penuh gejolak, dan menggambarkan intensitas peristiwa yang disaksikan.
Majas
Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, pada ungkapan retina tak dusta yang memberi sifat manusiawi pada bagian tubuh.
- Metafora, pada kata cahaya terangkan gulita yang melambangkan kebenaran melawan kegelapan atau kebohongan.
- Hiperbola, pada frasa magma prahara yang menggambarkan peristiwa besar, penuh gejolak, dan intens.
Puisi "Kesaksian Mata" karya D. Kemalawati mengajarkan bahwa mata adalah saksi sejati terhadap realitas, yang tidak bisa berdusta. Dengan simbol cahaya, gulita, dan prahara, penyair menekankan pentingnya kejujuran, keteguhan hati, dan keyakinan bahwa kebenaran akan selalu hadir meski dalam situasi yang penuh gejolak. Singkatnya, puisi ini adalah renungan tentang kekuatan penglihatan yang jujur sebagai cahaya dalam menghadapi kegelapan hidup.
Karya: D. Kemalawati
Biodata D. Kemalawati:
- Deknong Kemalawati lahir pada tanggal 2 April 1965 di Meulaboh, Aceh.
