Puisi: Kwatrin Gerimis (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Kwatrin Gerimis” karya Gunoto Saparie bercerita tentang momen ketika gerimis turun, malam semakin larut, dan tubuh dilanda rasa dingin.
Kwatrin Gerimis

kudengar gerimis berdesik menjauh
dan malam benar-benar jatuh
musim mendingin, menggigilkan tubuh
siapakah menembang rawan: megatruh?

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Kwatrin Gerimis” karya Gunoto Saparie merupakan sebuah karya pendek namun sarat makna. Meski hanya terdiri dari empat baris, puisi ini menyimpan kedalaman perasaan yang kuat dan mengajak pembaca untuk merenungi suasana batin yang hadir dalam balutan alam dan kesunyian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesepian dan kefanaan hidup yang digambarkan melalui simbol gerimis, malam, dan nyanyian rawan. Gunoto Saparie menggunakan suasana alam sebagai cermin perasaan manusia yang rapuh di hadapan waktu.

Puisi ini bercerita tentang momen ketika gerimis turun, malam semakin larut, dan tubuh dilanda rasa dingin. Dari situ, muncul pertanyaan batin: siapakah yang melantunkan megatruh, sebuah bentuk tembang Jawa yang biasanya berkaitan dengan duka dan kematian. Hal ini menandakan bahwa penyair sedang memandang kehidupan dari sisi kerentanannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kehidupan manusia yang rapuh dan selalu dekat dengan kefanaan. Gerimis yang berdesik menjauh melambangkan sesuatu yang perlahan hilang, malam yang benar-benar jatuh menggambarkan datangnya kegelapan atau akhir perjalanan, dan tembang megatruh menjadi simbol duka yang erat kaitannya dengan perpisahan abadi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah muram, dingin, dan penuh kesendirian. Gerimis, malam yang jatuh, tubuh yang menggigil, hingga alunan megatruh menghadirkan atmosfer yang sendu dan kontemplatif.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang ingin disampaikan penyair kemungkinan adalah kesadaran akan kefanaan hidup dan perlunya merenungi makna keberadaan. Manusia pada akhirnya akan menghadapi senja kehidupan, sehingga harus bijak menyikapi waktu yang terus berjalan.

Imaji

Imaji yang muncul dalam puisi ini kuat dan sederhana, misalnya:
  • Auditori: “kudengar gerimis berdesik menjauh” menghadirkan kesan suara hujan yang perlahan hilang.
  • Visual: “malam benar-benar jatuh” menegaskan suasana gelap yang total.
  • Taktil: “musim mendingin, menggigilkan tubuh” membuat pembaca merasakan dingin yang menusuk.

Majas

Beberapa majas yang dapat ditemukan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “gerimis berdesik menjauh” memberi sifat manusia pada gerimis yang seolah-olah bisa berbisik.
  • Metafora: “malam benar-benar jatuh” menggambarkan hadirnya kegelapan total, bukan sekadar malam yang tiba.
  • Interogasi retoris: “siapakah menembang rawan: megatruh?” yang bukan sekadar pertanyaan, tetapi sebuah perenungan batin tentang makna duka.
Puisi “Kwatrin Gerimis” karya Gunoto Saparie adalah karya pendek dengan makna mendalam. Melalui gambaran sederhana tentang gerimis, malam, dan nyanyian rawan, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan kefanaan hidup, kesendirian, dan duka yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan manusia.

Foto Gunoto Saparie
Puisi: Kwatrin Gerimis
Karya: Gunoto Saparie


BIODATA GUNOTO SAPARIE

Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.