Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Malam (Karya Mustiar AR)

Puisi "Malam" karya Mustiar AR bercerita tentang hadirnya malam yang datang secara diam-diam, membawa kegelapan total, dan pada akhirnya ...
Malam

Diam-diam mengendap
Lalu
Mati

Gelap gulita
Aku.

Meulaboh, 2018

Analisis Puisi:

Puisi "Malam" karya Mustiar AR mengusung tema tentang kesunyian, kegelapan, dan kefanaan hidup. Meski terdiri dari sedikit larik, puisi ini mampu membangun nuansa eksistensial: pertemuan antara manusia dengan keheningan malam yang pekat serta bayangan akan kematian.

Puisi ini bercerita tentang hadirnya malam yang datang secara diam-diam, membawa kegelapan total, dan pada akhirnya melambangkan kematian. Larik “Diam-diam mengendap / Lalu / Mati” seolah menggambarkan perjalanan singkat hidup yang perlahan hilang ditelan waktu. Sementara larik “Gelap gulita / Aku” mencerminkan identifikasi penyair dengan kesunyian malam, seakan-akan dirinya larut ke dalam kehampaan itu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah refleksi tentang kefanaan hidup dan keterasingan manusia dalam kesepian malam. Kegelapan bukan hanya situasi alam, tetapi juga metafora bagi kekosongan jiwa dan akhir kehidupan. Puisi ini mengingatkan bahwa hidup bisa berakhir dengan senyap, tanpa tanda-tanda besar, sebagaimana malam datang perlahan lalu menenggelamkan segalanya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini adalah hening, mencekam, dan muram. Ada rasa kesepian mendalam yang dihadirkan hanya dengan beberapa larik pendek. Keheningan malam tidak memberi ketenangan, melainkan justru menimbulkan rasa takut, keterasingan, dan kesadaran akan kematian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa manusia harus menyadari keterbatasan hidup dan keberadaan kematian yang pasti datang. Malam menjadi pengingat bahwa segala sesuatu memiliki akhir, sehingga kehidupan yang singkat ini sebaiknya diisi dengan kesadaran, bukan sekadar dilalui tanpa makna.

Imaji

Puisi ini menggunakan imaji visual yang kuat: gelap gulita menghadirkan gambaran kegelapan total yang bisa dirasakan oleh pembaca. Selain itu, kata mengendap memberi imaji gerakan halus yang menyusup perlahan, seperti malam atau bahkan kematian yang datang tanpa disadari.

Majas

Majas yang muncul antara lain:
  • Personifikasi – Malam digambarkan seperti makhluk yang datang “diam-diam mengendap”.
  • Metafora – “Mati” digunakan untuk melambangkan kegelapan dan akhir kehidupan.
  • Ellipsis – penggunaan larik-larik pendek dan terputus menekankan kesunyian serta ketegangan suasana.
Puisi "Malam" karya Mustiar AR, meski sangat singkat, menyimpan kekuatan makna yang dalam. Dengan gaya minimalis, penyair berhasil menghadirkan suasana muram, imaji pekat, dan refleksi eksistensial. Tema tentang kesunyian, kefanaan, dan kematian menjadikan puisi ini bukan sekadar penggambaran malam, melainkan juga simbol perjalanan hidup manusia yang pada akhirnya akan tenggelam dalam kegelapan.

Mustiar AR
Puisi: Malam
Karya: Mustiar AR
© Sepenuhnya. All rights reserved.