Puisi: Memandang Grafiti Dinding Kota (Karya Hendro Siswanggono)

Puisi "Memandang Grafiti Dinding Kota" karya Hendro Siswanggono bercerita tentang pengalaman memandang grafiti di dinding kota yang memunculkan ...
Memandang Grafiti Dinding Kota

Memandang grafiti di dinding kota
gambar perempuan telanjang membelakang kamera
bunga-bunga merah dengan daun hijau menerpa
bokong bulat begitu memikat

    Gerak tubuh menggoda
    mimpi-mimpi yang pergi di bawah tanah
    sebuah seni instalasi yang menggeliat
    sekumpulan ikan terjaring pukat

Kamar sempit dengan kunci pintu tercabut
sketsa-sketsa hitam putih dengan aura mengabut
menyentuh bunga-bunga lembut
payudara Liat segenggam lutut

    Sebentuk tubuh tanpa wajah
    tahun-tahun melelahkan takkan berakhir
    mencari-cari jawaban menggelayut langit
    hidup sudah tak berarti apa-apa lagi

Sumber: Seekor Ular yang Bertukar Rupa (2020)

Analisis Puisi:

Puisi "Memandang Grafiti Dinding Kota" karya Hendro Siswanggono adalah salah satu karya yang cukup berani dalam menghadirkan realitas urban. Dengan bahasa lugas namun penuh simbol, penyair seakan menyingkap sisi gelap kota yang terekam dalam dinding penuh grafiti. Dalam puisi ini, tubuh, bunga, dan kota dipertemukan menjadi satu rangkaian imaji yang sarat kritik sosial, eksistensial, dan refleksi tentang makna hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegelisahan hidup di tengah ruang kota modern yang dipenuhi hiruk-pikuk, simbol-simbol sensualitas, serta kesadaran akan kehampaan eksistensial. Grafiti di dinding kota menjadi pintu masuk untuk merekam pengalaman batin, keterasingan, dan realitas sosial yang keras.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman memandang grafiti di dinding kota yang memunculkan berbagai gambaran liar: tubuh perempuan, bunga, ikan, dan sketsa-sketsa suram. Dari grafiti itu, penyair menangkap kesan akan kerinduan, kehilangan mimpi, hingga rasa hampa dalam kehidupan perkotaan. Apa yang tampak sekadar “gambar” di dinding, bagi penyair justru menghadirkan cermin atas problem manusia modern: seksualitas, keterasingan, dan rasa hidup yang tak lagi berarti.

Makna tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kekosongan makna hidup modern yang semakin banal. Kota dengan segala pesonanya justru menghadirkan keterasingan: tubuh dipajang, mimpi terkubur, dan manusia terjebak dalam rutinitas tanpa arah. Ada juga refleksi tentang eksploitasi tubuh perempuan yang menjadi objek seni maupun konsumsi publik. Selain itu, puisi ini menyiratkan bagaimana seni jalanan (grafiti) bisa merekam kegelisahan yang tak terucapkan secara verbal.

Suasana dalam puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini adalah suram, gelisah, dan penuh tekanan batin. Meskipun diawali dengan gambaran sensual yang menggoda, suasana kemudian berubah menjadi muram dengan sketsa hitam putih, kunci pintu tercabut, hingga kalimat penutup: “hidup sudah tak berarti apa-apa lagi.”

Amanat / pesan yang disampaikan

Amanat puisi ini adalah kesadaran bahwa kehidupan modern yang dipenuhi simbol, sensualitas, dan rutinitas kota bisa membuat manusia kehilangan makna. Penyair mengingatkan bahwa ketika manusia hanya menjadi penonton realitas atau objek konsumsi, ia bisa terjebak dalam kehampaan eksistensial. Pesan tersirat lainnya adalah ajakan untuk merenung lebih dalam atas apa yang kita lihat, karena di balik gambar dan simbol, ada kegelisahan batin yang nyata.

Imaji

Imaji dalam puisi ini sangat kuat, baik secara visual maupun emosional:
  • Visual: “gambar perempuan telanjang membelakang kamera”, “bunga-bunga merah dengan daun hijau”, “sketsa-sketsa hitam putih dengan aura mengabut”.
  • Taktil dan sensual: “bokong bulat begitu memikat”, “payudara liat segenggam lutut”.
  • Eksistensial: “tahun-tahun melelahkan takkan berakhir”, “hidup sudah tak berarti apa-apa lagi.”
Imaji tersebut menghubungkan antara keindahan, sensualitas, dan kegelisahan batin secara kontras.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora – grafiti dijadikan simbol tentang kehidupan kota dan keresahan manusia.
  • Personifikasi – “sebuah seni instalasi yang menggeliat” memberikan sifat hidup pada seni.
  • Hiperbola – “hidup sudah tak berarti apa-apa lagi” adalah bentuk penegasan berlebihan untuk menggambarkan rasa putus asa.
  • Kontras / paradoks – sensualitas tubuh dipertentangkan dengan suasana muram dan kehampaan hidup.
Puisi "Memandang Grafiti Dinding Kota" karya Hendro Siswanggono bukan sekadar deskripsi grafiti, melainkan cermin realitas kehidupan urban. Ia menghadirkan irisan antara sensualitas, seni jalanan, dan kehampaan eksistensial. Tema, imaji, dan majas yang digunakan membuat puisi ini bukan hanya tentang grafiti, melainkan tentang manusia yang semakin kehilangan makna dalam hiruk pikuk kota.

Hendro Siswanggono
Puisi: Memandang Grafiti Dinding Kota
Karya: Hendro Siswanggono

Biodata Hendro Siswanggono:
  • Hendro Siswanggono lahir pada tanggal 19 Oktober 1951 di Sidoarjo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.