Puisi: Menetapkan Gerak (Karya P. Sengodjo)

Puisi "Menetapkan Gerak" karya P. Sengodjo bercerita tentang perbandingan antara gerak alamiah yang sudah ditentukan dengan ilusi manusia tentang ...
Menetapkan Gerak

Sebagai air
di tengah tebing
laju mengalir

dan radio
terus berbunyi
tak pandang arti

dan wayang
digerakkan oleh
tangan dalang

dan kereta api
terus melaju
di rel besi

dan born
dari balik kelam
malam datang

Hanya manusia
Aku mengira:
Aku berkuasa
menetapkan gerak.

Sumber: Panca Raya (Juli, 1947)

Analisis Puisi:

Puisi berjudul "Menetapkan Gerak" karya P. Sengodjo menghadirkan refleksi mendalam tentang manusia, alam, dan keterbatasannya dalam menentukan arah hidup. Melalui perbandingan antara gerak alami berbagai hal di dunia dengan posisi manusia, puisi ini mengandung renungan filosofis yang tajam.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna kebebasan dan kekuasaan manusia dalam menentukan hidupnya. Penyair mengontraskan gerak alam dan benda—seperti air, radio, wayang, kereta api, dan malam—dengan gerak manusia yang diyakini bisa "ditetapkan" sendiri. Namun, justru di balik klaim itu tersirat keraguan, apakah benar manusia sepenuhnya berkuasa atas dirinya.

Puisi ini bercerita tentang perbandingan antara gerak alamiah yang sudah ditentukan dengan ilusi manusia tentang kebebasan. Air mengalir sesuai hukum alam, radio berbunyi tanpa peduli makna, wayang digerakkan oleh dalang, kereta melaju di rel besi, malam hadir membawa kegelapan. Semua berjalan dalam kepastian. Namun, manusia justru merasa memiliki kuasa untuk menetapkan geraknya, padahal bisa jadi ia juga digerakkan oleh hal-hal di luar dirinya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik terhadap kesombongan manusia yang mengira dirinya bebas sepenuhnya. Penyair seakan mempertanyakan: apakah manusia benar-benar berkuasa atas dirinya, ataukah ia sama saja dengan air, wayang, atau kereta—yang hanya mengikuti alur, rel, atau dalang kehidupan? Puisi ini juga bisa dibaca sebagai perenungan tentang takdir dan kebebasan: manusia memang diberi akal untuk memilih, tetapi tidak semua gerak adalah hasil kehendaknya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa reflektif dan kontemplatif. Ada nada tenang ketika menggambarkan alam dan benda, lalu berubah agak getir di bagian akhir ketika manusia merasa "berkuasa". Suasana itu menimbulkan kesan perenungan mendalam, seolah mengajak pembaca bertanya kembali tentang posisi dirinya di tengah semesta.

Amanat / Pesan

Pesan yang disampaikan puisi ini adalah kerendahan hati dalam memandang kehidupan. Manusia tidak seharusnya terlalu sombong dengan kebebasan atau kuasa yang dimilikinya, sebab pada dasarnya ia juga bagian dari sistem yang lebih besar: alam, takdir, atau Sang Pencipta. Dengan kesadaran itu, manusia diajak untuk hidup lebih bijak, tidak arogan, dan mampu menempatkan diri secara proporsional di semesta.

Imaji

Imaji yang muncul dalam puisi ini cukup kuat, khususnya imaji visual dan auditif. Contohnya:
  • "Sebagai air di tengah tebing laju mengalir" → menghadirkan imaji visual tentang derasnya air sungai.
  • "dan radio terus berbunyi tak pandang arti" → imaji auditif, bunyi radio yang konstan.
  • "dan wayang digerakkan oleh tangan dalang" → imaji visual tentang pertunjukan wayang.
  • "dan kereta api terus melaju di rel besi" → imaji visual dan auditif, karena pembaca dapat membayangkan suara deru kereta.
Semua imaji ini mempertegas kontras antara kepastian gerak benda dengan kebebasan manusia.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi – benda-benda dan fenomena alam digambarkan seolah memiliki gerak dan kehendak, misalnya radio yang "terus berbunyi" atau air yang "laju mengalir".
  • Metafora – wayang sebagai lambang manusia yang dikendalikan, kereta api sebagai lambang takdir yang sudah diatur jalannya.
  • Repetisi – penggunaan pengulangan frasa “dan” di awal baris, menimbulkan ritme dan penekanan.
  • Kontras/Paradoks – perbedaan mencolok antara kepastian gerak alam/benda dengan klaim manusia yang “menetapkan gerak”, meski sebenarnya bisa jadi ia justru tidak sepenuhnya bebas.
Puisi "Menetapkan Gerak" karya P. Sengodjo adalah karya yang memadukan kesederhanaan bahasa dengan kedalaman makna. Melalui perbandingan-perbandingan sederhana, penyair mengajak pembaca merenungkan hakikat kebebasan manusia. Apakah kita benar-benar menguasai hidup kita, ataukah hanya bagian dari alur besar semesta yang tak bisa dihindari? Pertanyaan itu membuat puisi ini tetap relevan dibaca sebagai cermin kehidupan manusia modern.

Puisi: Menetapkan Gerak
Puisi: Menetapkan Gerak
Karya: P. Sengodjo

Biodata P. Sengodjo:
  • P. Sengodjo (nama sebenarnya adalah Suripman) lahir di Desa Gatak, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, pada tanggal 25 November 1926.
  • Dalam dunia sastra, Suripman suka menggunakan nama samaran. Kalau menulis puisi atau sajak, ia menggunakan nama kakeknya, yaitu Prawiro Sengodjo (kemudian disingkat menjadi P. Sengodjo). Kalau menulis esai atau prosa, ia menggunakan nama aslinya, yaitu Suripman. Kalau menulis cerpen, ia juga sering menggunakan nama aslinya Suripman, tapi kadang-kadang menggunakan nama samaran Sengkuni (nama tokoh pewayangan).
© Sepenuhnya. All rights reserved.