Puisi: Nyanyian Perempuan Malam (Karya Diah Hadaning)

Puisi "Nyanyian Perempuan Malam" karya Diah Hadaning bercerita tentang seorang perempuan malam yang dalam kesepian dan kehujanan, mengenang masa ...
Nyanyian Perempuan Malam

Hujan petang menerpa jendela kamar
rumah bunga pinggir jalanan
jarum-jarum hujan berjatuhan tak terhingga
cerita ini masih berapa lama?
Selembar daun luruh lagi
setiap angin menerjang pohonnya
seorang lelaki mampir lagi
menyiramkan dosa tak berkesudahan.

Hujan petang menerpa ketabahan
malaikat telah terbang jauh ke sorga
tinggalkan anak bunda penuh luka
mana lagi melati-melati pernah kutanam
di kebun masa kanakku?
Romo, mungkin tercemar dari genggamanmu
ketika Tuan melintasi halaman gereja tua
Tuan pernah menerimanya dari tangan kecilku
sebelum ibu sempat memetik buat sebaran
meja riasnya yang selalu menggodaku
jadi pesolek kecil dan akhirnya penjaja malam

Hari-hari tak bertuan
Romo, khotbah Tuan kurindukan
ah, Tuan telah pangling tak mengenaliku
wajahku telah pucat dan tua dihisap beban dunia
aku si kecil yang telah berpaling dari padamu
dengarlah nyanyianku memanggilmu
di malam hujan yang tak kan kuperpanjang.

Jakarta, Februari 1987

Analisis Puisi:

Puisi "Nyanyian Perempuan Malam" karya Diah Hadaning merupakan salah satu karya yang sarat emosi, penuh luka batin, sekaligus memuat kritik sosial yang tajam. Melalui larik-lariknya, penyair menghadirkan suara seorang perempuan yang harus menghadapi kenyataan pahit hidup: kehilangan ketulusan, jatuh ke dalam jurang dosa, hingga merindukan bimbingan rohani yang pernah menjadi bagian masa kecilnya.

Tema

Tema utama dalam puisi ini adalah penderitaan dan luka batin seorang perempuan yang terperangkap dalam kehidupan gelap, disebabkan oleh kerasnya dunia dan hilangnya figur pelindung. Ada pula tema tambahan berupa kerinduan akan kesucian masa lalu serta kekecewaan terhadap figur rohani dan sosial yang gagal melindunginya.

Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan malam yang dalam kesepian dan kehujanan, mengenang masa kecilnya yang dulu penuh harapan, ketika masih bisa menanam melati dan mendapat perhatian seorang rohaniawan (Romo). Kini, hidupnya telah jauh berubah—terjerat dalam pekerjaan yang dianggap dosa dan menanggung luka batin yang mendalam. Ia menumpahkan isi hatinya melalui sebuah “nyanyian malam,” seolah memanggil kembali figur Romo yang dulu pernah dekat dengannya, meski kini ia merasa tak lagi dikenali.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah jeritan batin seorang perempuan korban keadaan, yang tak hanya berbicara tentang dirinya, tetapi juga merepresentasikan banyak perempuan lain yang kehilangan arah hidup akibat kerasnya dunia, ketidakadilan sosial, dan kerapuhan perlindungan moral. Ada kritik halus terhadap masyarakat dan institusi religius yang dianggap abai, karena tokoh "Romo" di sini digambarkan pernah hadir tapi kemudian seakan lupa atau tak lagi peduli.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini didominasi oleh kesedihan, kekecewaan, dan kerinduan mendalam. Hujan petang, daun luruh, dan wajah pucat penuh beban dunia menciptakan atmosfer muram yang sangat kuat. Suasana itu diperkuat oleh nada lirih seorang perempuan yang bernyanyi di tengah luka batinnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang bisa ditangkap dari puisi ini adalah bahwa masyarakat tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan perempuan, khususnya mereka yang terjerumus ke jalan gelap bukan karena pilihan bebas, melainkan karena keterpaksaan hidup. Selain itu, ada pula pesan moral tentang pentingnya kepedulian, kasih sayang, dan perlindungan sejak dini agar anak-anak tidak kehilangan arah hingga akhirnya terjerumus dalam jalan penuh dosa.

Imaji

Imaji dalam puisi ini sangat kuat, terutama imaji visual dan auditif. Misalnya:
  • “Hujan petang menerpa jendela kamar / jarum-jarum hujan berjatuhan tak terhingga” (imaji penglihatan dan pendengaran).
  • “Selembar daun luruh lagi / setiap angin menerjang pohonnya” (imaji penglihatan tentang ketidakabadian dan kehilangan).
  • “Telah pucat dan tua dihisap beban dunia” (imaji visual sekaligus perasaan yang menggambarkan penderitaan fisik dan batin).

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “jarum-jarum hujan” menggambarkan derasnya hujan dengan perasaan menusuk.
  • Personifikasi: “daun luruh lagi setiap angin menerjang pohonnya” menggambarkan daun seolah memiliki peran aktif.
  • Simbolik: bunga melati melambangkan kesucian masa kecil, sementara hujan dan malam menjadi simbol kesedihan serta keterpurukan.
  • Repetisi: pengulangan kata “hujan petang menerpa…” menegaskan suasana muram dan kepedihan yang tak kunjung usai.
Puisi "Nyanyian Perempuan Malam" karya Diah Hadaning bukan sekadar curahan hati seorang tokoh, melainkan juga potret sosial tentang perempuan yang terluka oleh kerasnya dunia dan kelalaian lingkungan yang seharusnya melindungi. Dengan kekuatan imaji dan majas yang tajam, puisi ini menyuarakan jeritan yang sering diabaikan masyarakat, sekaligus menyimpan pesan agar kita lebih peduli terhadap nasib kaum yang terpinggirkan.

Puisi Nyanyian Perempuan Malam
Puisi: Nyanyian Perempuan Malam
Karya: Diah Hadaning
© Sepenuhnya. All rights reserved.