Puisi: P. P. C. (Diterjemahkan oleh Chairil Anwar)

Puisi "P. P. C." yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar adalah sebuah karya yang menggambarkan perasaan dingin dan kejam terhadap sebuah figur yang ...
P. P. C.

Tinggal, Clary. Tidak 'ku mengucap selamat.
Nanti kelihatan tolol, juga biar datang dari hati
Sudah kau jual dirimu. Jangan lagi beruwet
Tentang apapun: manusia memang penghiba hati.

Rumahmu kecil dulu. Tuanmu datang membesarkan,
Hartanya tidak bakal putusnya, menurut cerita.
Kau terpandang sampai nafasnya penghabisan.
Kau berjiwa kecil. Nah! Inilah yang sebenarnya.

Badanmu menapsukan. Kau betina jelita.
Kau lahirkan anak manis buat tuanmu.
Kau tak bisa berlepas, tapi toh bersetia saja.
Kau disegani, tetap terjaga namamu.

Tinggal, Clary. Dengan aku kau tidak 'kan bertemu
Kau 'ku jauhi, sampai dalam mimpi.
Ah! Impian sebelum kita bertemu.
Kau tetap kau. Aku padamu menista saja.

Sumber: Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956)

Analisis Puisi:

Puisi "P. P. C." yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar adalah sebuah karya yang menggambarkan perasaan dingin dan kejam terhadap sebuah figur yang disebut Clary. Puisi ini menyentuh tema hubungan antara laki-laki dan perempuan, dan melalui bahasa yang tajam dan gambaran yang tegas, Chairil Anwar menggambarkan perasaan penolakan dan penghinaan terhadap sosok Clary.

Penolakan dan Kejamnya Penilaian: Puisi ini dimulai dengan penegasan penolakan terhadap sosok Clary dengan kata-kata "Tinggal, Clary. Tidak 'ku mengucap selamat." Ini menggambarkan penutur yang tidak ingin berhubungan atau terlibat lebih jauh dengan Clary. Selanjutnya, penutur menyatakan bahwa mengucapkan selamat akan membuatnya terlihat "tolol," dan ini mengindikasikan pandangan merendahkan terhadap Clary.

Penghinaan dan Kritik Terhadap Clary: Puisi ini menyiratkan bahwa Clary telah menjual dirinya dan penutur mengejeknya dengan mengatakan "Sudah kau jual dirimu." Penutur juga mengkritik Clary dengan menggambarkan bahwa dia terlalu banyak "beruwet" atau bercakap-cakap tentang berbagai hal. Ini mencerminkan pandangan merendahkan terhadap Clary sebagai "penghiba hati" atau seseorang yang terlalu perasa.

Gambaran Kehidupan Clary: Puisi ini menggambarkan perjalanan hidup Clary yang dulunya tinggal di rumah kecil namun kemudian diberikan perlindungan dan "dibesarkan" oleh tuannya. Namun, meskipun memiliki status yang lebih tinggi, penutur menyatakan bahwa Clary memiliki "jiwa kecil" yang sesungguhnya.

Keadaan Badan dan Bersetia: Penutur menggambarkan Clary sebagai wanita yang memiliki daya tarik fisik yang membuatnya menjadi "betina jelita." Meskipun demikian, Clary memiliki keterikatan yang kuat terhadap tuannya dan menjadi ibu bagi anak tuannya. Meskipun tidak bisa "berlepas," Clary tetap "bersetia saja" terhadap perannya.

Pengabaian dan Nista: Puisi ini berakhir dengan penutur yang menyatakan bahwa dia akan menjauhi Clary bahkan dalam mimpinya. Penutur menyebut Clary sebagai "impian sebelum kita bertemu," menunjukkan bahwa dia tidak memiliki tempat penting dalam hidup penutur. Puisi ini berakhir dengan pernyataan penghinaan dan penistaan terhadap Clary.

Puisi "P. P. C." adalah sebuah puisi yang penuh dengan pengabaian, penolakan, dan penghinaan terhadap sosok Clary. Melalui bahasa yang tajam dan gambaran yang kuat, Chairil Anwar menggambarkan perasaan dingin dan kejam terhadap hubungan antara penutur dan Clary. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenung tentang kompleksitas hubungan antara laki-laki dan perempuan serta implikasinya dalam konteks sosial dan budaya.

Chairil Anwar
Puisi: P. P. C.
Diterjemahkan oleh: Chairil Anwar
Karya asli: E. Du Perron
Judul asli: P. P. C.

Biodata Chairil Anwar:
  • Chairil Anwar lahir di Medan, pada tanggal 26 Juli 1922.
  • Chairil Anwar meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 28 April 1949 (pada usia 26 tahun).
  • Chairil Anwar adalah salah satu Sastrawan Angkatan 45.
© Sepenuhnya. All rights reserved.