Requiem
Melambai, melambailah hatiku sampai
Kini aku sirna. Sirnalah bonekaMu
Karam di palung menjelma karang-karang
Tuhanku, kini aku abadi di kefanaanMu
Maka catatlah tebal-tebal di buku Rindu
Bahwa aku pernah mengintipMu malam-malam
Bahwa aku pernah mabuk kepayang dan
gugur dalam persemaianMu. Aku binasa
dalam kekekalanMu. Aku kini sampai
1989
Sumber: Horison (April, 1989)
Analisis Puisi:
Puisi "Requiem" karya M. Nasruddin Anshoriy Ch merupakan salah satu karya yang sarat makna spiritual dan reflektif. Dalam puisi ini, penyair tidak sekadar menuliskan kata-kata indah, tetapi menghadirkan perenungan eksistensial tentang kefanaan manusia, cinta Ilahi, serta keterhubungan antara hidup, mati, dan keabadian. Melalui bahasa puitis yang padat, ia menyingkap pergulatan batin manusia ketika berhadapan dengan Tuhan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual manusia menuju kefanaan dan keabadian dalam Tuhan. Sang penyair menekankan keterbatasan manusia, kehancuran jasmani, dan sekaligus kebersatuan ruhani dengan Sang Khalik. Dengan kata lain, puisi ini mengangkat pertemuan antara kefanaan dan kekekalan, antara lenyapnya diri dan keabadian Ilahi.
Puisi ini bercerita tentang seorang manusia yang merasakan dirinya sirna di hadapan Tuhan. Ia menggambarkan dirinya sebagai boneka yang karam di palung, berubah menjadi karang-karang, seolah ingin menegaskan bahwa manusia hanyalah sesuatu yang kecil dan tak berarti dibandingkan dengan luasnya kuasa Tuhan. Namun dalam kepasrahannya, ia juga merasakan kedekatan dan kerinduan yang mendalam terhadap Sang Pencipta.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup manusia pada akhirnya akan kembali pada Tuhan. Keterbatasan, kefanaan, dan penderitaan hidup hanyalah jalan menuju kesempurnaan abadi dalam kehadiran-Nya. Ada nuansa sufistik dalam puisi ini, di mana kefanaan diri (fana) dianggap sebagai syarat untuk mencapai keabadian bersama Tuhan (baqa). Selain itu, penyair ingin menunjukkan bahwa cinta kepada Tuhan begitu memabukkan, sampai manusia rela binasa demi mendapatkan kedekatan dengan-Nya.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi Requiem terasa hening, khusyuk, dan penuh kepasrahan. Kata-kata seperti “sirna”, “karam”, “binasa”, dan “abadi” menciptakan nuansa spiritual yang mendalam, sekaligus menghadirkan keheningan yang seolah-olah membawa pembaca masuk ke ruang kontemplasi religius.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang bisa ditangkap dari puisi ini adalah bahwa manusia harus menyadari kefanaannya dan tidak terjebak pada keangkuhan duniawi. Semua yang ada di dunia ini akan sirna, namun yang abadi hanyalah Tuhan. Dengan kepasrahan total, manusia dapat menemukan kedamaian hakiki, karena cinta dan kerinduan kepada-Nya adalah jalan menuju keabadian.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji laut dan keabadian yang sangat kuat. Ungkapan “karam di palung menjelma karang-karang” melukiskan gambaran tenggelamnya manusia dalam lautan fana. Ada juga imaji keheningan malam dan perasaan rindu yang mendalam, ketika penyair menulis “aku pernah mengintipMu malam-malam”. Imaji ini menciptakan kesan visual dan emosional yang dalam, membuat pembaca merasakan kedekatan mistis antara manusia dan Tuhan.
Majas
Beberapa majas yang digunakan antara lain:
- Majas personifikasi, misalnya ketika hati digambarkan bisa “melambai”.
- Majas metafora, pada ungkapan “karam di palung menjelma karang-karang” yang melukiskan kefanaan manusia.
- Majas hiperbola, dalam ekspresi “aku binasa dalam kekekalanMu” yang menegaskan betapa totalnya kepasrahan penyair terhadap Tuhan.
Puisi "Requiem" karya M. Nasruddin Anshoriy Ch adalah sebuah doa puitis yang penuh renungan spiritual. Dengan tema tentang kefanaan dan keabadian, puisi ini bercerita tentang perjalanan manusia menuju kepasrahan mutlak kepada Tuhan. Melalui imaji yang kuat dan majas yang indah, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan makna kehidupan, kematian, dan kerinduan kepada Sang Khalik.
Karya: M. Nasruddin Anshoriy Ch
Biodata M. Nasruddin Anshoriy Ch:
- M. Nasruddin Anshoriy Ch (biasa dipanggil Gus Nas) lahir pada tanggal 4 Mei 1965 di Yogyakarta.
- Ia menulis artikel, puisi, kolom, dan resensi buku di berbagai media, termasuk di antaranya Horison, Sinar Harapan, Prisma, Pelita, Amanah, Panji Masyarakat dan Kompas.
