Sang Penyair
Semalam ia habis merendam airmata
Lalu menjemurnya di pagi-pagi buta
Sebab hari ini
Ia tetap saja mesti bergegas pergi
Kembali menemui realitas
dan mengembalikan mimpi-mimpi
yang tiap malam kerap dicurinya dari langit
Sebab persis seperti yang engkau bilang
Ia adalah seseorang yang selalu dipinjami Tuhan
sayap-sayap kegelisahan
Ketika hidup telah terlanjur mengenal angka
dan bangku kata-kata
Dan esok
Ia mesti bangun pagi-pagi lagi
menyiapkan sarapan
dan mengumpulkan lagi sekantung keberanian
Untuk menjadi perempuan
atau menjelma lelaki
untuk dirinya sendiri
Banten, Februari 2009
Sumber: Nyanyian Pulau-Pulau (2010)
Analisis Puisi:
Puisi "Sang Penyair" karya Rahmatiah menggambarkan perjalanan seorang penyair yang harus berhadapan dengan realitas hidup, kegelisahan, dan kewajiban sehari-hari.
Air Mata dan Pagi Buta: Puisi dimulai dengan gambaran perasaan penyair yang baru saja merendam air matanya semalam. Penggunaan air mata sebagai lambang emosi dan kesedihan memberikan dimensi emosional yang kuat pada puisi ini. Kemudian, menjemur air mata di pagi buta menciptakan perbandingan antara kegelapan malam dan awal hari yang baru, menciptakan kontras yang kuat.
Keharusan Kembali ke Realitas: Penyair harus kembali ke realitas setelah merendam air mata dan menjemurnya. Ini mungkin merujuk pada kewajiban sehari-hari, tanggung jawab, atau tuntutan kehidupan yang memaksa penyair untuk menghadapi kenyataan dan melepaskan dunia mimpi.
Penyair Sebagai Pinjaman Tuhan: Dengan menyebut penyair sebagai "seseorang yang selalu dipinjami Tuhan," puisi ini menciptakan gambaran bahwa kegelisahan dan sayap kegelisahan yang dimiliki penyair adalah anugerah atau pinjaman dari Tuhan. Ini mungkin merujuk pada sifat-sifat kreatif, ketajaman perasaan, atau pemahaman mendalam yang diberikan oleh Tuhan.
Hidup yang Terlanjur Mengenal Angka dan Kata-Kata: Penggunaan kata "hidup yang terlanjur mengenal angka dan bangku kata-kata" menciptakan gambaran kehilangan kepolosan dan keaslian. Penyair harus berhadapan dengan kenyataan dunia yang terukur dan diatur oleh konsep-konsep seperti angka dan kata-kata.
Persiapkan Sarapan dan Kumpulkan Keberanian: Puisi mengakhiri dengan menyebutkan tugas-tugas sehari-hari seperti menyiapkan sarapan dan mengumpulkan keberanian. Ini mungkin mencerminkan kewajiban-kewajiban harian yang harus dijalani penyair, sekaligus menciptakan kesan bahwa keberanian diperlukan untuk menghadapi hidup.
Puisi "Sang Penyair" adalah puisi yang menciptakan gambaran perjalanan penyair yang terjebak antara dunia emosional dan tuntutan kehidupan nyata. Dengan menggunakan bahasa yang indah, puisi ini memperkenalkan konsep-konsep kompleks seperti kegelisahan, realitas hidup, dan peran Tuhan dalam pencarian makna hidup.
Karya: Rahmatiah
Biodata Rahmatiah:
- Rahmatiah lahir pada tanggal 3 Juli 1979 di Nusa Tenggara Barat.
