Sumber: Silsilah Garong (1990)
Analisis Puisi:
Puisi "Selamat Tinggal Suster Anton" karya F. Rahardi merupakan salah satu karya yang menghadirkan kesan personal, lirih, dan penuh kejujuran emosional. Melalui ungkapan sederhana, penyair mengabadikan momen perpisahan yang sarat dengan keheningan, keterbatasan, dan ketidakmampuan mengucapkan kata-kata. Walaupun tampak sederhana, puisi ini menyimpan kedalaman makna yang dapat diurai melalui pembacaan lebih teliti.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perpisahan yang diwarnai dengan kesunyian, keraguan, dan keterbatasan dalam mengungkapkan perasaan. Penyair menggambarkan bagaimana momen berharga terkadang berlalu tanpa sepatah kata, hanya dengan lirih hati yang berbicara.
Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh yang melepas kepergian Suster Anton, seorang perempuan berbaju putih dengan kerudung putih yang digambarkan menaiki delman. Tokoh aku lirik hanya bisa diam dan tersenyum kaku, tanpa mampu mengucapkan kata perpisahan. Ia merasakan jarak yang begitu jauh memisahkan mereka, hingga akhirnya hanya dari dalam hati ia bisa membisikkan: “selamat tinggal suster anton.”
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah tentang keterbatasan manusia dalam mengungkapkan perasaan terdalamnya. Kadang-kadang, perpisahan yang menyakitkan justru meninggalkan kesunyian, karena lidah kelu untuk mengucapkan apa yang hati rasakan. Selain itu, puisi ini juga menyiratkan adanya batasan—baik sosial, emosional, maupun spiritual—antara “aku” dan sosok Suster Anton, yang membuat hubungan keduanya hanya bisa diungkapkan dalam keheningan, bukan dalam kata-kata.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini adalah melankolis, sendu, dan penuh kesepian. Ada keheningan yang begitu kuat terasa, bahkan ketika matahari masih tampak di antara pepohonan. Kesunyian itu diperkuat dengan repetisi pertanyaan “mengapa” yang menunjukkan kebingungan dan rasa kehilangan.
Amanat / Pesan yang disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kadang keheningan justru berbicara lebih keras daripada ucapan. Selain itu, puisi ini mengingatkan pembaca bahwa perpisahan merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan, dan yang terpenting adalah ketulusan hati dalam merelakan seseorang pergi.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji visual dan emosional yang kuat. Misalnya:
- “dia berbaju putih berkerudung putih erat-erat memegang tasnya” → memberikan gambaran jelas tentang sosok Suster Anton yang sederhana dan anggun.
- “matahari masih di antara pohon-pohonan” → menghadirkan suasana sore hari yang tenang namun sarat dengan rasa kehilangan.
- “selamat tinggal suster anton, lirih sekali” → menghadirkan imaji auditif yang lembut, seolah pembaca bisa mendengar suara lirih dalam keheningan.
Majas
Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: “hanya hatiku bisa berbunyi” → hati dipersonifikasikan seolah dapat berbicara.
- Repetisi: penggunaan kata “mengapa” berulang-ulang untuk menekankan kebingungan dan rasa getir.
- Hiperbola: “sangat jauh kami kau pisah-pisahkan” → jarak dipertegas secara emosional, bukan hanya fisik, melainkan juga batin.
Puisi "Selamat Tinggal Suster Anton" karya F. Rahardi merupakan sebuah refleksi sederhana namun mendalam tentang perpisahan. Dengan tema yang dekat dengan pengalaman manusia, puisi ini menekankan betapa sulitnya mengucapkan selamat tinggal kepada seseorang yang berharga. Imaji visual yang lembut, suasana melankolis, dan majas sederhana menjadikan puisi ini kaya makna. Pada akhirnya, pembaca diajak untuk memahami bahwa keheningan kadang menjadi bahasa paling jujur dari sebuah perasaan.
Karya: F. Rahardi
Biodata F. Rahardi:
- F. Rahardi (Floribertus Rahardi) lahir pada tanggal 10 Juni 1950 di Ambarawa, Jawa Tengah.
