Setelah Kudengar Sebuah Konser
Aku Mengingat Semua yang Dulu
Aku merekam rindumu
Dengan setangkai bunga
Kuncup yang dulu kusemat di relungmu
Kini hilang dari kelopak hidupku
Makin sunyi jalanku
Kumau masih ada lagu untukmu
Pada biola yang tersedu
Pada piano yang mengaduh
Ada suaramu kian menjauh
Makin sepi kebun hidupku
Terengah-engah kelam mimpiku
Aku merasakan lagi rindumu
Seperti angin menggetarkan daunku
Di ladang kepiluanku dulu
Ketika kupanggil lagi namamu
Namun hanya kepak kupu-kupu
Mengundang jatuh air mataku.
2016
Sumber: Untukmu Aku Bernyanyi (2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Setelah Kudengar Sebuah Konser” karya Handrawan Nadesul merupakan perenungan lirih tentang cinta dan kehilangan, yang dilantunkan melalui metafora musikal. Dalam karya ini, penyair menggambarkan perasaan rindu yang mendalam melalui suasana konser, alat musik, dan alam, sehingga puisi ini tampil seperti irama melankolis yang terus terngiang setelah lagu terakhir berhenti dimainkan.
Meski puisi ini terstruktur dalam tiga bait, setiap bait membangun suasana dan makna yang kian mendalam. Ini bukan hanya puisi tentang konser, melainkan tentang getar kenangan yang masih hidup bahkan setelah cinta itu pergi.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah kerinduan yang abadi dan duka kehilangan yang tidak sepenuhnya dapat disembuhkan. Puisi ini menyentuh tentang bagaimana cinta yang pernah ada menyisakan gema perasaan yang tak pernah betul-betul lenyap. Musik konser menjadi simbol dari ingatan dan emosi yang masih membekas, walaupun objek cintanya telah menjauh.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang sosok yang dicintainya setelah mendengar sebuah konser musik. Musik yang ia dengar memicu ingatan akan masa lalu, tentang rindu, tentang kehilangan, dan tentang jejak cinta yang belum hilang. Dari bunga yang pernah disematkan, suara pada alat musik yang menyayat, hingga ladang kepiluan yang sunyi—semuanya menyuarakan betapa dalam cinta yang tak lagi hadir itu masih menghuni relung batin sang penyair.
Narasi dalam puisi ini bergerak dari pengalaman personal menjadi pengalaman estetis, di mana bunyi-bunyian musik menjadi kanal emosional yang menghubungkan masa lalu dengan kesedihan saat ini.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa kenangan dan perasaan tidak bisa sepenuhnya terhapus meskipun waktu dan jarak telah memisahkan. Musik menjadi jembatan yang menghidupkan kembali perasaan-perasaan yang sudah lama terkubur. Konser yang didengar bukan sekadar hiburan, melainkan pengalaman spiritual yang membuka kembali luka dan rindu lama.
Ada juga makna tersirat lain: bahwa seni, dalam hal ini musik dan puisi, adalah ruang yang sangat manusiawi untuk menyimpan dan menyampaikan rasa. Dalam kesendirian dan kehilangan, seni menjadi bentuk pelarian dan penyembuhan yang hening, tapi kuat.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini adalah melankolis, sunyi, dan reflektif. Pembaca diajak memasuki ruang emosi yang senyap dan getir, di mana setiap bunyi musik justru membangkitkan kesedihan, bukan kegembiraan. Biola yang tersedu, piano yang mengaduh, dan ladang kepiluan menciptakan nuansa yang sangat puitis sekaligus sendu.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat dari puisi ini dapat ditafsirkan sebagai pengingat bahwa kehilangan bukan akhir dari perasaan, dan bahwa seni bisa menjadi cara manusia menyimpan cinta yang telah pergi. Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia sering kali hidup berdampingan dengan kerinduan, dan tidak semua rindu bisa atau harus diakhiri. Ada keindahan dalam mengingat, meskipun menyakitkan.
Selain itu, puisi ini juga mengajak pembaca untuk menghargai seni sebagai medium pengikat jiwa—tempat segala emosi dapat menemukan gaungnya, bahkan saat kenyataan tidak lagi menyisakan ruang untuk pertemuan kembali.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat dan puitis, terutama yang bersifat visual dan auditori:
- Imaji visual: “setangkai bunga”, “kuncup di relungmu”, “kelopak hidupku”, “ladang kepiluanku”, “kepak kupu-kupu”. Imaji ini memperkuat gambaran tentang kehidupan yang dulu penuh warna, kini menjadi hampa dan sunyi.
- Imaji auditori: “biola yang tersedu”, “piano yang mengaduh”, “suara rindumu”. Imaji bunyi ini mendominasi puisi, menegaskan bahwa konser yang dimaksud bukan sekadar tontonan, tapi pengalaman emosional.
- Imaji kinestetik dan emosional: “terengah-engah kelam mimpiku” dan “jatuh air mataku” memberikan kedalaman rasa dan menggambarkan pergerakan batin yang rapuh.
Imaji-imaji ini memperkaya lapisan makna puisi dan membuatnya menyentuh pembaca secara sensorial.
Majas
Puisi ini menggunakan berbagai majas (gaya bahasa) yang memperkuat nuansa emosional dan simbolik:
Metafora:
- “kuncup yang kusemat di relungmu” sebagai lambang cinta yang pernah tumbuh.
- “kelopak hidupku” menggambarkan kehidupan batin penyair sebagai sesuatu yang mekar dan kini merunduk.
- “ladang kepiluanku” sebagai simbol tempat kenangan dan duka bersemi.
Personifikasi:
- “biola yang tersedu” dan “piano yang mengaduh” memberi nyawa pada alat musik, memperlihatkan betapa musik bisa ‘menangis’ bersama perasaan penyair.
- “angin menggetarkan daunku” menggambarkan perasaan yang mudah terguncang oleh kenangan, seperti daun yang mudah digoyang angin.
Simbolisme:
- “setangkai bunga” melambangkan cinta yang pernah diberikan.
- “kupu-kupu” di bait terakhir mungkin menyimbolkan keindahan yang rapuh, atau harapan yang terbang begitu saja, menyisakan tangis.
Repetisi halus:
- Kata “rindumu” diulang di tiga bait awal sebagai penanda bahwa inti dari puisi ini adalah soal kerinduan yang mendalam dan terus hidup meski waktu berjalan.
Puisi “Setelah Kudengar Sebuah Konser” bukan sekadar puisi tentang musik, tapi puisi tentang kerinduan yang tak selesai dan cinta yang tetap hidup dalam kenangan. Handrawan Nadesul dengan piawai meramu bunyi, imaji, dan perasaan menjadi harmoni yang getir, namun indah. Pembaca bisa merasakan bagaimana satu konser bisa mengembalikan semua rasa yang nyaris padam.
Melalui tema cinta dan kehilangan, puisi ini memperlihatkan bahwa musik dan puisi bisa menjadi tempat pulang bagi perasaan-perasaan yang tersisih oleh kenyataan. Dan dalam sunyi yang ditinggalkan cinta, selalu ada gema yang tetap menyala—mengiringi langkah manusia dalam kegetiran maupun harapan.
Karya: Handrawan Nadesul
Biodata Handrawan Nadesul:
- Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
