Analisis Puisi:
Puisi "Seutas Rambut Perak" karya Gunoto Saparie adalah karya singkat namun sarat nuansa intim dan emosional. Lewat penggambaran sederhana—rambut perak, bulan, dan awan—penyair membangun suasana yang puitis sekaligus personal, mengikat pembaca pada perasaan yang sulit dihapus meski waktu terus berjalan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kenangan cinta yang sulit dilupakan. Gunoto Saparie mengekspresikan bagaimana jejak keintiman tetap tertinggal, baik secara fisik maupun emosional, meskipun ada upaya untuk menghapusnya. Ada pula tema tambahan tentang waktu dan perubahan, yang diwakili oleh “rambut perak” sebagai tanda usia atau perjalanan hidup.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang momen bersama pasangan. Jejak itu hadir secara fisik (“pada paha dan dadaku”), simbolis (“seutas rambut perak”), dan emosional (“kenangan tertinggal di hati”). Bahkan ketika upaya menghapus kenangan dilakukan berulang kali, perasaan itu tetap membekas. Latar puitis seperti bulan yang padam dan awan kelam memperkuat kesan sendu dalam narasi.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hubungan atau momen tertentu dapat meninggalkan bekas yang tidak bisa dihapus begitu saja, karena menyatu dengan ingatan dan hati. “Rambut perak” dapat dimaknai sebagai tanda kedewasaan, pengalaman, atau fase akhir dalam perjalanan hubungan. Bulan yang padam menjadi simbol hilangnya kebahagiaan atau cahaya dalam hubungan tersebut, sementara awan kelam menggambarkan kesedihan yang menutupi keindahan masa lalu.
Suasana dalam puisi
Suasana puisi ini melankolis dan reflektif. Ada rasa kehilangan yang samar, bercampur dengan kehangatan kenangan yang pernah indah. Simbol alam seperti bulan dan awan menambah kesan sendu yang mendalam.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat diambil adalah bahwa kenangan, terutama yang berkaitan dengan perasaan mendalam, tidak dapat dihapus sepenuhnya. Waktu mungkin mengubah keadaan, namun hati akan tetap menyimpan jejaknya. Puisi ini juga mengajak pembaca menerima kenyataan bahwa beberapa hal dalam hidup memang akan selalu membekas.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat, baik visual maupun perasaan, antara lain:
- Visual: “seutas rambut perak jatuh di leher dan bahumu” menciptakan gambaran intim dan nyata.
- Visual alam: “sepotong bulan pun padam tersaput awan kelam” menghadirkan suasana malam yang suram.
- Imaji perasaan: kenangan yang “tertanggal di hati” namun tetap melekat meski dihapus berkali-kali.
Majas
Beberapa majas yang digunakan antara lain:
- Metafora: “rambut perak” sebagai simbol usia, pengalaman, atau momen berharga.
- Personifikasi: bulan yang “padam” seolah memiliki sifat hidup.
- Hiperbola: upaya menghapus kenangan “berkali-kali” yang menegaskan betapa sulitnya melupakan.
- Simbolisme: awan kelam sebagai lambang kesedihan atau penutup kebahagiaan masa lalu.
Puisi "Seutas Rambut Perak" adalah penggalan perasaan yang ringkas tetapi penuh kedalaman. Gunoto Saparie berhasil menghadirkan citraan yang lembut namun menusuk, mengajak pembaca merasakan bagaimana sebuah kenangan dapat menetap di hati, bahkan ketika dunia di sekitarnya telah berubah.
Karya: Gunoto Saparie
BIODATA GUNOTO SAPARIE
Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain. Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta).
Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
