Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Surat untuk Oy (Karya Rini Intama)

Puisi “Surat untuk Oy” karya Rini Intama bercerita tentang seorang tokoh liris yang menulis surat kepada Oy, sosok yang ia cintai. Surat itu bukan ...
Surat untuk Oy

Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa

Oy, itu sepenggal lagu yang kuingat darimu
Selalu dengan mata berbinar kau bernyanyi, cinta itu adalah tanah ini katamu
Lalu kukecup keningmu di bawah lampu kota yang mulai redup senja itu
Kita diam dalam kesunyian mengurai rindu yang bercinta di langit berkali-kali
Air mata kita jadi telaga ketika sudah tiba kita harus tinggalkan kota
Hanya kita yang bisa saling paham, bahkan saat diam
Sebab kita tak sempat berkata-kata, sebab kita selalu terluka
Karena perang adalah tragedi hitam yang kita tulis di setiap lembar buku

Oy, ingin aku kabari tentang segala gulana yang memenuhi langitku
Kisah tragedi kemanusiaan yang pilu itu terjadi di mana-mana
Di perbatasan kota hingga di pedalaman dan bukit-bukit
Kulihat cahaya lampu kian temaram
Lalu orang-orang terperangkap kegelapan
Kita mengingat ladang-ladang yang kerontang
Sebab pemukiman sudah mulai habis terbakar
Tangisan anak-anak bergema di sudut-sudut negeri
Aku seperti membaca hikayat kejatuhan
Kembangkan layar, kita berperahu menyusuri sungai-sungai esok pagi, katamu pelan
sambil mengusap sisa air mataku.

Oy, kita memang akhirnya belajar bagaimana membaca alam
Kita tulis sejuta keheningan di tengah gemuruh rindu yang bergolak
Bulir-bulir air mengaliri pipi hingga jadi sungai duka
Bersamaan saat mendengar seorang anak berteriak ibu-bapakku mati!
Hingga dia kita temukan tak lagi punya air mata

Oy, bertahun-tahun kita membaca soal darah yang tumpah ruah
Dari puing-puing sisa bencana kemanusiaan yang menyakitkan itu
Lalu kita menyenandungkan kidung obituari
Di langit mendung Tanjung Priuk, Aceh, Poso, Ambon, Sampit, Wamena,
kerusuhan 98 hingga tragedi di Semanggi
Kita bersembunyi dari segala batu, kayu, pedang, dan senapan yang berdesing
Memasung jiwa dan orang-orang melupakan kemanusiaannya sendiri
Melupakan hukum tuhan karena keangkuhan telah merobek-robeknya
Kita hanya bisa berteriak pada semua amarah dan dendam itu
Ribuan nyawa telah melayang dan menuai asa yang tak selesai
Atau memang ingin berkhianat pada nasib yang dingin, sedingin air mata
Karena esoknya aku hanya bisa menabur kamboja putih dalam hening

Oy, aku akan terus mengemban cinta dan membacakan sajak-sajak perdamaian
Hingga akhirnya semua tragedi itu berlalu meski menyisakan luka
Tapi tak lagi menimbun air mata sebab hidup tak bisa terhenti

Oy, subuh ini kukayuh perahu tanpamu
Sebab harus kautanam seribu bunga di tanahmu
Esok pagi atau bulan depan aku akan datang! Teriakmu
Ya kita redam semua perang oy, seruku
Kitapun berjarak beribu-ribu kilometer
Meski jarak itu tak pernah bergerak
Jadi lebih dekat atau semakin jauh
Tapi telah membuat aku terkubur dalam sunyi
Aku jadi semakin gugup di antara metafora rindu yang pongah
Di antara diksi-diksi yang telah aku ciptakan sendiri

Oy, terbanglah bersama seribu sayap merpati
Agar bisa kutitipkan pesan, jangan kirim air matamu!
Tapi berperahulah lagi menujuku.

Januari, 2019

Sumber: Sesapa Mesra Selinting Cinta (2019)

Analisis Puisi:

Puisi “Surat untuk Oy” karya Rini Intama adalah sebuah karya yang sarat dengan emosi, memadukan kenangan personal dengan tragedi kolektif bangsa. Melalui dialog lirih kepada sosok bernama Oy, penyair menghadirkan fragmen-fragmen cinta, luka, perang, dan kerinduan yang berpadu dengan ingatan atas sejarah kelam kemanusiaan di Indonesia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang bertahan di tengah luka kemanusiaan dan tragedi sejarah bangsa. Rini Intama menghubungkan kisah personal dengan tragedi sosial-politik, seakan ingin menunjukkan bahwa cinta dan duka kemanusiaan tidak bisa dipisahkan.

Puisi ini bercerita tentang seorang tokoh liris yang menulis surat kepada Oy, sosok yang ia cintai. Surat itu bukan sekadar ungkapan kerinduan, melainkan juga catatan tentang kepedihan yang mereka saksikan bersama: tragedi perang, kerusuhan, dan pelanggaran kemanusiaan di Indonesia. Dari Tanjung Priuk, Aceh, Poso, Ambon, Sampit, Wamena, hingga tragedi 1998 dan Semanggi, semua menjadi latar dari kesedihan kolektif yang menyelimuti cinta pribadi mereka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah pesan tentang pentingnya menjaga kemanusiaan dan perdamaian di tengah sejarah panjang kekerasan yang pernah dialami bangsa Indonesia. Penyair ingin menyampaikan bahwa cinta bukan hanya tentang hubungan personal, tetapi juga perlawanan terhadap kebencian, perang, dan dendam. Melalui cinta, manusia bisa bertahan meski dunia dipenuhi luka.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini melankolis, getir, dan penuh kerinduan. Ada keindahan cinta yang dituturkan, tetapi segera disusul dengan gambaran pilu tragedi kemanusiaan. Perasaan antara pasrah, sedih, sekaligus tetap menyimpan harapan begitu kental terasa di tiap larik.

Amanat / Pesan

Amanat yang bisa diambil dari puisi ini adalah manusia seharusnya belajar dari sejarah kekerasan dan tidak lagi mengulanginya. Penyair juga menegaskan bahwa cinta dan perdamaian adalah kekuatan yang bisa menyembuhkan luka bangsa. Meski tragedi menyisakan luka mendalam, hidup harus terus berjalan, dan manusia perlu menumbuhkan harapan.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan emosional, misalnya:
  • “Air mata kita jadi telaga” → menghadirkan gambaran kesedihan mendalam.
  • “Tangisan anak-anak bergema di sudut-sudut negeri” → menghadirkan suasana memilukan dari tragedi perang.
  • “Aku hanya bisa menabur kamboja putih dalam hening” → imaji pemakaman dan duka.
  • “Terbanglah bersama seribu sayap merpati” → simbol perdamaian dan harapan.
Imaji dalam puisi ini membuat pembaca seolah turut menyaksikan luka kemanusiaan yang digambarkan penyair.

Majas

Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “Air mata kita jadi telaga” menggambarkan kesedihan yang begitu dalam.
  • Personifikasi: “Kita tulis sejuta keheningan di tengah gemuruh rindu” memberi sifat manusia pada abstraksi.
  • Repetisi: kata “Oy” diulang di setiap bagian sebagai penegasan kedekatan dan penanda struktur.
  • Hiperbola: “Ribuan nyawa telah melayang dan menuai asa yang tak selesai” menekankan besarnya tragedi yang dialami bangsa.
Puisi “Surat untuk Oy” karya Rini Intama adalah karya yang memadukan cinta personal dengan ingatan kolektif bangsa. Dengan menghadirkan tema cinta dan tragedi, bercerita tentang kerinduan sekaligus luka kemanusiaan, serta menyimpan makna tersirat tentang perdamaian, puisi ini menjadi refleksi mendalam atas perjalanan sejarah Indonesia. Melalui imaji dan majas yang kuat, penyair berhasil menghadirkan suasana getir sekaligus harapan, dengan amanat agar manusia belajar dari tragedi dan menanam cinta untuk masa depan.

Rini Intama
Puisi: Surat untuk Oy
Karya: Rini Intama

Biodata Rini Intama:
    Rini Intama lahir pada tanggal 21 Februari di Garut, Jawa Barat. Namanya tercatat dalam buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017).
    © Sepenuhnya. All rights reserved.