Analisis Puisi:
Puisi "Taman" karya Goenawan Mohamad mengajak pembaca untuk memasuki sebuah ruang waktu yang penuh ketegangan dan kebimbangan. Dengan kata-kata yang sederhana namun sarat makna, puisi ini membuka jendela bagi pembaca untuk memahami perasaan menunggu, harap, dan kekosongan dalam sebuah momen yang terasa panjang sekaligus singkat.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah ketidakpastian dalam perjumpaan dan perpisahan, yang dikemas dalam suasana menunggu dan kekosongan waktu.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menunggu di sebuah taman tanpa pagar, di dekat gerbang batu. Ia menunggu dengan rasa gelisah dan cemas, mengisi waktu dengan teka-teki silang, hingga seseorang datang menyapanya, membawa pesan yang ambigu dan meninggalkan kesan ketidaktahuan serta kerinduan akan kata-kata yang tepat untuk mengungkap perpisahan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini berkisar pada perasaan kegelisahan dan kekosongan yang menyelimuti momen menunggu yang tak pasti. Ketika seseorang menunggu dan berharap akan pertemuan, ada ruang hampa yang sulit diisi, seperti “kotak putih yang tak akan terisi” atau “ruang di antara angka arloji.” Puisi ini menggambarkan rasa takut, ketidakpastian, dan keinginan untuk segera pergi, namun terjebak dalam waktu yang memanjang.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini sunyi dan penuh ketegangan. Ada rasa dingin dari tikungan tempat seseorang datang, kesunyian taman tanpa pagar, dan getaran kecemasan yang membalut waktu menunggu. Rasa takut dan gelisah yang bercampur membentuk atmosfer yang getir dan penuh tanda tanya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang bisa ditangkap dari puisi ini adalah tentang keharusan menerima ketidakpastian dalam hidup, terutama dalam hubungan antar manusia yang terkadang penuh dengan ruang kosong dan kata-kata yang hilang bentuk. Juga tentang bagaimana waktu dapat terasa panjang dan menyakitkan ketika diisi oleh perasaan cemas dan tidak pasti.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual dan sensori, seperti:
- Gerbang batu dan taman tanpa pagar sebagai gambaran batas dan keterbukaan sekaligus ketidakamanan;
- Suara burung terbang yang melambangkan kebebasan dan perpisahan;
- “Kotak putih” yang kosong dan ruang di antara angka arloji yang memperkuat kesan kekosongan waktu;
- Huruf yang tumbuh panjang dan tajam seperti sembilu, memberikan kesan luka emosional yang mendalam.
Majas
Majas yang digunakan antara lain:
- Simile, seperti pada “huruf tumbuh panjang tajam, seperti sembilu aur hutan”;
- Personifikasi, huruf dan waktu diibaratkan tumbuh dan membentuk luka;
- Metafora, “kotak putih” dan “ruang di antara angka arloji” sebagai lambang kekosongan dan ketidakpastian.
Puisi "Taman" karya Goenawan Mohamad menghadirkan sebuah refleksi mendalam tentang waktu, ruang, dan ketidakpastian dalam hubungan antar manusia. Dengan gaya puitis yang mengalir, puisi ini mengajak pembaca merasakan getar-getar perasaan menunggu yang penuh teka-teki dan harapan yang tak pasti.
Puisi: Taman
Karya: Goenawan Mohamad
Biodata Goenawan Mohamad:
- Goenawan Mohamad (nama lengkapnya Goenawan Soesatyo Mohamad) lahir pada tanggal 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah.
- Goenawan Mohamad adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.