Terus Terang Saja
apakah aku ini tepung terigu atau gumpalan kapas
atau cabe busuk yang merosot harganya sehingga harus
ditolong
atau kayu gelondongan bahan baku plywood kwalitas
eksport
dari hutan-hutan
yang kini botak
karena hph dan gergaji mesin pembangunan keadilan
berkemakmuran
dan kemakmuran berkeadilan
siapakah aku ini
kaki kursikah
atau botol kosong
atau rakyat lebak yang harus bekerja bakti mencabuti
rumput
halaman kadipaten
karena tuan pejabat gupermen mau lewat
apakah aku ini rakyat yang berdebar-debar di sekitar hari
proklamasi
apakah aku ini si bagero yang sudah merdeka?
ataukah tetep jugun aianfu yang tak henti-henti diperkosa
perusahaan
multinasional
yang menuntut kenaikan upah
ditangkap
dan dijebloskan
ke dalam penjara?
apakah aku ini cuma angka-angka
yang menarik untuk bahan disertasi
dan meraih gelar doktor
yang tidak berotak
tidak bermulut
yang secara rutin dilaporkan kepada bank dunia
sebagai jaminan utang
dan landasan
tinggal landas?
sekarang demokrasi sudah 100%
bulat
tanpa debat
tapi aku belum menjadi sejati
karena aku dibungkam oleh demokrasi 100%
yang tidak bisa salah
namun aku sangsi
karena kemelaratan belum dilumpuhkan
aku sangsi pada yang 100% benar
terus terang saja!
2 Oktober 1996
Sumber: Aku Ingin Jadi Peluru (2000)
Analisis Puisi:
Puisi "Terus Terang Saja" karya Wiji Thukul adalah sebuah kritik sosial yang tajam terhadap ketidaksetaraan, penindasan, dan kepalsuan dalam masyarakat. Puisi ini menggambarkan perasaan ketidakpastian dan kepahitan seorang individu yang merasa terpinggirkan dan diperlakukan tidak adil dalam sistem sosial yang berpura-pura demokratis.
Identitas Terpinggirkan: Puisi ini membuka dengan serangkaian pertanyaan tentang identitas individu yang merasa terpinggirkan. Penyair merasa seperti "tepung terigu" atau "gumpalan kapas" yang diremehkan atau diabaikan. Pertanyaan-pertanyaan ini menyoroti pentingnya mengenali bahwa setiap individu memiliki hak untuk diakui dan dihargai dalam masyarakat.
Kritik terhadap Penindasan dan Kesenjangan: Puisi ini melukiskan gambaran tentang individu yang diperlakukan tidak adil oleh pihak-pihak yang lebih kuat, seperti "perusahaan multinasional." Gambaran "kayu gelondongan bahan baku plywood" dari hutan yang "botak" menggambarkan eksploitasi alam dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pembangunan yang tidak mengindahkan keadilan.
Kritik terhadap Demokrasi Palsu: Penekanan pada "demokrasi sudah 100% bulat" merujuk pada gambaran bahwa pemerintah mungkin mencitrakan diri sebagai demokratis, tetapi pada kenyataannya kebebasan dan keadilan masih belum tercapai. Puisi ini mencatat bagaimana suara individu dibungkam oleh tampilan demokrasi yang sempurna secara retorika, tetapi tidak berfungsi dalam praktiknya.
Kritik terhadap Kepalsuan dan Kepura-puraan: Puisi ini juga menggambarkan kepalsuan dalam sistem sosial, di mana individu hanya dianggap sebagai "angka-angka" atau "bahan disertasi" yang tidak memiliki suara atau identitas yang nyata. Puisi ini menggugat tentang bagaimana beberapa orang dianggap hanya sebagai alat untuk kepentingan politik atau ekonomi.
Penegasan Identitas dan Ketidaksetujuan: Penyair dengan tegas mengungkapkan keraguan dan ketidaksetujuan terhadap sistem yang menindas ini. Pernyataan "namun aku sangsi pada yang 100% benar" mengandung kegusaran terhadap penekanan yang terlalu berlebihan terhadap kebenaran yang dinyatakan oleh penguasa.
Puisi "Terus Terang Saja" karya Wiji Thukul adalah sebuah karya sastra yang berbicara tentang penindasan, ketidaksetaraan, dan kepalsuan dalam masyarakat. Dengan bahasa yang tajam dan provokatif, puisi ini menggugat dan mempertanyakan kondisi sosial yang tidak adil dan mengekspresikan perasaan ketidaksetujuan terhadap situasi tersebut.
Karya: Wiji Thukul
Biodata Wiji Thukul:
- Wiji Thukul lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tanggal 26 Agustus 1963.
- Nama asli Wiji Thukul adalah Wiji Widodo.
- Wiji Thukul menghilang sejak tahun 1998 dan sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya (dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer).
