Sajak yang Lahir dari Senyum Ria Soemarta (1)
Cahaya satu menyala dalam jiwaku
Matamu adalah isyarat
Engkau mengetuk hatiku dengan tatapan
Menggedor jantungku dengan senyuman
Hatiku membuka karena isyarat
Karena engkau menatapku:
Matamu adalah ruang, adalah rumah
Akankah aku berani memasukinya?
Sajak yang Lahir dari Senyum Ria Soemarta (2)
Nyatanya tertegun juga depan pintu
Menimbang-nimbang
Hasrat yang bergolak di dalam
Kusimpan dalam diam
Tertegun juga mengeja waktu
Yang melaju menyeret langkahku
Hari-hari berenang
Telagamu luas tanpa tepian
Sajak yang Lahir dari Senyum Ria Soemarta (3)
Jiwaku menggigil memandu rindu
Bertahun dungu:
Di depanku matahari masih menyala
Kupandang ia bagai mengusap keheninganmu
Matahari selalu melecut hidupku
Sekaligus mengelus luka-lukaku
Karena setiap kupandang ia, punahlah rindu
Setiap kuhirup aromanya terbayanglah senyumanmu
Sajak yang Lahir dari Senyum Ria Soemarta (4)
Kuurai semua peristiwa
Adegan demi adegan di antara kita
Menjadi kepingan kata
Bernama sunyi
Kuhitung jam, kuhitung kerlip gemintang
Langit bertabur warna, malam gaduh oleh suara
Angin berdesingan, gemuruhnya lautan
Bersahutan dalam dadaku
O, hatiku tumpah padamu
1982
Sumber: Menjadi Penyair Lagi (2007)
Analisis Puisi:
Puisi "Sajak yang Lahir dari Senyum Ria Soemarta" karya Acep Zamzam Noor merupakan rangkaian sajak yang penuh dengan ungkapan batin, refleksi, sekaligus percikan cinta yang mengalir lembut namun mendalam. Sajak ini hadir dalam empat bagian, dan setiap bagian seolah menggambarkan lapisan perjalanan rasa: dari keterpesonaan awal, keraguan, kerinduan, hingga pengakuan paling intim.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta dan kerinduan yang lahir dari sebuah tatapan dan senyum. Acep Zamzam Noor meramu kisah perasaan yang muncul secara sederhana namun sarat makna, menunjukkan bagaimana cinta bisa tumbuh dari hal-hal kecil seperti cahaya mata, senyum, dan isyarat batin.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seorang penyair yang jatuh cinta setelah mendapatkan senyum dan tatapan dari sosok Ria Soemarta. Dari sinilah lahir perasaan yang bergejolak: keterpesonaan, keraguan, hingga akhirnya tumpah menjadi pengakuan cinta. Setiap bagian puisi menandai fase perasaan yang berbeda:
- Bagian pertama menekankan pesona tatapan dan senyum yang mengetuk hati.
- Bagian kedua memperlihatkan keragu-raguan dan ketertegunan di hadapan perasaan yang begitu kuat.
- Bagian ketiga menggambarkan rindu yang panjang, diibaratkan dengan matahari yang sekaligus memberi semangat sekaligus menyentuh luka.
- Bagian keempat memperlihatkan letupan perasaan yang tak terbendung, hingga seluruh pengalaman hidup dirangkai menjadi kata-kata penuh sunyi dan pengakuan.
Makna tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa cinta bukan hanya perkara dua insan, tetapi juga perjalanan batin yang sarat refleksi. Senyum seseorang bisa menjadi cahaya kehidupan bagi orang lain, menjadi sumber inspirasi, bahkan menyulut lahirnya karya sastra. Selain itu, ada pesan bahwa cinta sering hadir bersamaan dengan keraguan, rasa dungu, bahkan luka, tetapi tetap memberikan daya hidup yang luar biasa.
Suasana dalam puisi
Suasana dalam puisi ini terasa romantis, reflektif, dan melankolis. Ada kegembiraan karena pertemuan dan senyum, tetapi juga kegundahan karena keraguan dan jarak. Di sisi lain, ada pula suasana penuh rindu yang bergejolak, hingga akhirnya memuncak pada pengakuan cinta yang tak bisa lagi ditahan.
Amanat / Pesan yang disampaikan puisi
Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa perasaan cinta hendaknya dihargai dan dihayati dengan sepenuh hati, karena dari cinta bisa lahir kekuatan batin dan karya yang mendalam. Puisi ini juga menyiratkan bahwa jangan takut untuk merasakan cinta, meskipun cinta sering datang dengan keraguan atau bahkan luka, karena pada akhirnya ia adalah bagian penting dari kehidupan manusia.
Imaji
Acep Zamzam Noor banyak menggunakan imaji visual dalam puisinya. Misalnya:
- “Cahaya satu menyala dalam jiwaku” → menampilkan cahaya yang hidup dalam batin.
- “Matamu adalah ruang, adalah rumah” → menggambarkan mata sebagai tempat kehangatan.
- “Hari-hari berenang / Telagamu luas tanpa tepian” → menghadirkan imaji air luas sebagai simbol kerinduan tanpa batas.
- “Langit bertabur warna, malam gaduh oleh suara” → imaji langit dan malam yang penuh energi dan keramaian batin.
Imaji ini membuat puisi lebih hidup dan membangkitkan pengalaman pancaindra pembaca.
Majas
Beberapa majas yang menonjol dalam puisi ini antara lain:
Metafora
- “Matamu adalah ruang, adalah rumah” → mata dipersonifikasikan sebagai tempat bernaung.
- “Hari-hari berenang / Telagamu luas tanpa tepian” → telaga sebagai metafora kerinduan.
- “Matahari selalu melecut hidupku / sekaligus mengelus luka-lukaku” → matahari sebagai simbol energi sekaligus pereda luka.
Personifikasi
- “Kupandang ia bagai mengusap keheninganmu” → matahari diberi sifat manusia yang bisa mengusap.
Hiperbola
- “Telagamu luas tanpa tepian” → gambaran yang dilebihkan untuk menegaskan luasnya kerinduan.
Repetisi
- Pengulangan kata “tertegun juga” menekankan rasa ragu dan bimbang yang dialami penyair.
Puisi "Sajak yang Lahir dari Senyum Ria Soemarta" karya Acep Zamzam Noor adalah karya yang menghadirkan cinta sebagai perjalanan batin yang penuh keraguan, rindu, sekaligus keindahan. Dengan tema cinta, puisi ini bercerita tentang pergulatan rasa yang lahir dari sebuah senyum, menghadirkan makna tersirat bahwa cinta adalah cahaya sekaligus luka yang menghidupkan jiwa. Imaji dan majas yang digunakan membuat sajak ini semakin hidup, romantis, sekaligus menyentuh.
Biodata Acep Zamzam Noor:
- Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia.
- Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
