Puisi: Bendera Anak-Anak (Karya Wahyu Prasetya)

Puisi "Bendera Anak-Anak" karya Wahyu Prasetya bercerita tentang anak-anak dari berbagai tempat di dunia, termasuk anak-anak jalanan di Jakarta, ...
Bendera Anak-Anak

ternyata kemerdekaan itu milik anak-anak. ternyata merdeka
itu adalah anak-anak dari segala sudut dunia. ada jejak kecil
yang berjuta, tangan kecil yang mengacungkan panji-panji
berbagai bangsa. di sela reruntuhan kota dan kemerdekaan,
anak
anak tertawa, menangis, menjeritkan kalimat di tembok atau
di rongsokan tank. di sini, aku melihat anak-anak trotoir,
anak-anak lorong kampung jakarta, kemerdekaanku juga
untuk 
menatap bendera yang dilukis anak-anak itu,
dengan nasibnya, dengan kenyataan hidup, di antara kita!
berbagai matahari serta peluh. berbagai recehan lambung hari
ibu bapak akan terus terisi. tapi kemerdekaan hanya milik anak-
anak.
mereka tak pernah berpikir untuk berperang. lewat jalan kecil
mereka akan tiba pada cermin besar,
sebuah tanah air yang mesti dijaga. kemanusiaan yang harus 
dijaga.
tapi kemerdekaan apakah nama bagi mereka, anak-anak
tanpa rumah
di jembatan yang melingkar, mereka beratap, mengkisahkan
mimpi
sebuah tempat teduh beton dan lauk pauk yang terhidang.

ternyata kita sering lupa. kemerdekaan telah dijaga anak-
anak,
tanpa bedil dan pidato, mereka menggambar kita dengan sorot
matanya. dengan pipi keringnya, dengan daki....
kemerdekaan tiang zaman ini tertancap di dada anak-anak,
kalau cuma duka, kalau cuma airmata, kalau cuma rasa
nyeri....
anak-anak itu sudah terlampau kebal,
tapi aku akan bertanya juga, kemerdekaan siapakah tanah
airku,
kemerdekaan siapakah bangsaku?
jika hari itu selalu kusaksikan banyak kecurangan antara
kita,
anak-anak yang tertegun di perempatan jalan,
jika hari ini kita bersama saksikan duka cita anak-anak,
seperti anak-anak kita, siapakah mereka?
ketika mereka pun mengacungkan kepalan kecil dan melam-
baikan
bendera dari hatinya yang merdeka, melambaikannya kepada
embun, kepada adzan, kepada pagi hari yang bergelombang!

rengas, 1.8.90/5.9.1991

Sumber: Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin

Analisis Puisi:

Puisi "Bendera Anak-Anak" karya Wahyu Prasetya menghadirkan potret kemerdekaan dari sudut pandang yang jarang tersentuh: dunia anak-anak. Bukan pidato, bukan senjata, bukan pula simbol-simbol besar negara, melainkan kepolosan, tawa, tangis, dan kepalan tangan kecil anak-anak yang justru menjadi pengingat tentang arti kebebasan dan kemanusiaan yang sejati.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemerdekaan dan kemanusiaan yang sejatinya diwariskan, dijaga, dan dimaknai oleh anak-anak. Penyair menekankan bahwa kemerdekaan bukan milik penguasa atau orang dewasa semata, melainkan paling murni hadir dalam diri anak-anak.

Puisi ini bercerita tentang anak-anak dari berbagai tempat di dunia, termasuk anak-anak jalanan di Jakarta, yang meski hidup dalam keterbatasan tetap memegang panji-panji kemerdekaan dengan cara mereka sendiri. Melalui tawa, tangis, coretan di tembok, hingga sorot mata yang penuh harapan, mereka menjadi simbol kejujuran dan kemurnian dalam menafsirkan arti merdeka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kemerdekaan sejati bukanlah sekadar simbol politik atau perayaan seremonial, melainkan sesuatu yang hidup dalam kesederhanaan dan ketulusan anak-anak. Anak-anak tidak berpikir tentang perang atau kekuasaan; mereka hanya memimpikan tempat teduh, makanan yang cukup, dan rasa aman. Hal ini menyiratkan kritik sosial: jika kemerdekaan tidak mampu menjamin kesejahteraan anak-anak, maka ia patut dipertanyakan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini penuh kontras antara kepolosan anak-anak dengan kenyataan pahit kehidupan mereka. Ada kesan getir, haru, dan reflektif ketika penyair menggambarkan anak-anak yang tertawa dan menangis di tengah reruntuhan kota atau di perempatan jalan. Namun, ada juga semangat optimisme dalam kepalan tangan kecil dan bendera imajiner yang mereka kibarkan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan puisi ini adalah bahwa kita tidak boleh melupakan peran dan penderitaan anak-anak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemerdekaan sejati harus menjamin masa depan mereka, bukan hanya menjadi jargon politik. Penyair juga mengingatkan bahwa kemurnian anak-anaklah yang seharusnya menjadi cermin dalam menjaga kemanusiaan dan tanah air.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual, gerak, dan perasaan, misalnya:
  • Imaji visual: “tangan kecil yang mengacungkan panji-panji berbagai bangsa”, “anak-anak trotoir, anak-anak lorong kampung Jakarta”.
  • Imaji gerak: “mengacungkan kepalan kecil dan melambaikan bendera dari hatinya yang merdeka”.
  • Imaji perasaan: “dengan pipi keringnya, dengan daki… kemerdekaan tiang zaman ini tertancap di dada anak-anak”.
Imaji ini memperkuat kesan bahwa meski anak-anak tampak rapuh, mereka justru menjadi simbol kekuatan dan keteguhan.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora → “kemerdekaan tiang zaman ini tertancap di dada anak-anak” menggambarkan anak-anak sebagai penopang masa depan bangsa.
  • Personifikasi → “bendera dari hatinya yang merdeka” seolah hati anak-anak mampu mengibarkan bendera.
  • Repetisi → pengulangan kata “ternyata” di awal bait menegaskan renungan penyair tentang kemerdekaan.
  • Hiperbola → “anak-anak itu sudah terlampau kebal” untuk menggambarkan daya tahan luar biasa mereka menghadapi penderitaan.
Puisi "Bendera Anak-Anak" karya Wahyu Prasetya adalah renungan mendalam tentang makna kemerdekaan yang sering kali kita lupakan. Tema kemerdekaan disajikan melalui dunia anak-anak yang polos namun sarat makna. Dengan imaji yang kuat dan majas yang hidup, penyair menegaskan bahwa kemerdekaan sejati hanya ada jika anak-anak dapat hidup bahagia, aman, dan terlindungi. Pada akhirnya, puisi ini menyampaikan pesan moral bahwa masa depan bangsa ada di dada anak-anak, dan kemerdekaan sejati harus berpihak pada mereka.
Wahyu Prasetya
Puisi: Bendera Anak-Anak
Karya: Wahyu Prasetya

Biodata Wahyu Prasetya:
  • Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto (akrab dipanggil Pungky) lahir pada tanggal 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur.
  • Wahyu Prasetya meninggal dunia pada hari Rabu tanggal 14 Februari 2018 (pada umur 61).
© Sepenuhnya. All rights reserved.