Berlayar ke Buton
Di antara buih
Karang berburu gelombang
Tak henti-henti aku memburumu
Hari esok!
Ketika jejak-jejak kemarinku
Membayang bagai monster
Terkulailah hari ini,
Hariku satu-satunya!
Di haluan dan pinggiran perahu
Ikan-ikan cucut berloncatan menadah
Cahaya pagi
Dari dalam diri kudengar suara itu:
.... "Hari ini nyawa hidupku; bertahan!"
Seburuk apapun parasnya
Setinggi itu cintaku padamu
Bertahan
Dalam luka
Buton, 2006
Sumber: Jalan Menuju Jalan (2007)
Analisis Puisi:
Puisi "Berlayar ke Buton" karya Rahman Arge merupakan karya yang penuh makna filosofis sekaligus emosional. Melalui gambaran perjalanan laut, penyair berbicara tentang pergulatan hidup, luka, harapan, dan tekad untuk bertahan. Buih, gelombang, dan perahu menjadi simbol perjalanan manusia menghadapi tantangan kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan hidup dan keteguhan hati dalam menghadapi luka serta penderitaan. Penyair mengaitkan kehidupan dengan perjalanan berlayar, di mana tantangan dan rintangan tak bisa dihindari, tetapi tetap harus dijalani.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan simbolis seorang manusia yang berlayar menuju masa depan (Buton). Ia meninggalkan masa lalu yang kelam—dilukiskan sebagai “monster”—dan berjuang untuk memaknai hari ini sebagai satu-satunya kesempatan hidup. Meskipun luka dan kesulitan menghadang, ia tetap memilih bertahan, karena cinta terhadap kehidupan lebih besar daripada rasa sakit.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa hidup adalah perjuangan yang tidak boleh disia-siakan. Hari ini adalah milik manusia sepenuhnya, sedangkan masa lalu hanya bayangan yang bisa membelenggu bila terus diingat. Dengan bertahan, meski dalam luka, manusia dapat menemukan arti keberadaan dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang muncul dalam puisi ini adalah heroik sekaligus getir. Ada ketegangan antara rasa takut akan masa lalu yang menghantui dan semangat bertahan menghadapi masa kini. Larik-larik seperti “hari esok! ketika jejak-jejak kemarinku membayang bagai monster” menghadirkan rasa cemas, namun kemudian diimbangi dengan semangat dalam seruan “Hari ini nyawa hidupku; bertahan!”
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang ingin disampaikan penyair adalah pentingnya hidup di masa kini dengan penuh keteguhan, tanpa terus dibebani masa lalu yang menghantui. Walaupun hidup penuh luka, manusia tetap harus bertahan karena ada cinta, harapan, dan keyakinan yang membuat hidup layak dijalani.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual: “Di haluan dan pinggiran perahu / Ikan-ikan cucut berloncatan menadah cahaya pagi” menghadirkan gambaran laut yang hidup.
- Imaji pendengaran: “Dari dalam diri kudengar suara itu” menghadirkan kesan dialog batin.
- Imaji perasaan: “Terkulailah hari ini, hariku satu-satunya!” menggambarkan keputusasaan bercampur dengan tekad.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora – “jejak-jejak kemarinku membayang bagai monster” menggambarkan masa lalu yang menakutkan.
- Personifikasi – “karang berburu gelombang” memberikan sifat hidup pada alam.
- Hiperbola – “setinggi itu cintaku padamu” mempertegas kekuatan cinta yang melebihi penderitaan.
Puisi "Berlayar ke Buton" karya Rahman Arge adalah refleksi mendalam tentang pergulatan manusia dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan simbol laut dan perahu, penyair mengajak pembaca untuk memahami bahwa hidup selalu penuh ombak, tetapi manusia harus terus berlayar dengan semangat bertahan. Luka bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju makna yang lebih besar.
Puisi: Berlayar ke Buton
Karya: Rahman Arge
Biodata Rahman Arge:
- Rahman Arge (Abdul Rahman Gega) lahir pada tanggal 17 Juli 1935 di Makassar, Sulawesi Selatan.
- Rahman Arge meninggal dunia pada tanggal 10 Agustus 2015 (pada usia 80).
- Edjaan Tempo Doeloe: Rachman Arge.