Sumber: Horison (Mei, 1978)
Analisis Puisi:
Puisi "Der Prozess" karya Goenawan Mohamad menghadirkan pengalaman membaca yang kuat dan mencekam. Karya ini menampilkan gaya khas penyair yang sarat simbol dan kritik sosial, sekaligus membuka ruang refleksi mengenai mekanisme kekuasaan dan ketidakadilan.
Tema
Tema utama dalam puisi ini adalah ketidakadilan, penindasan, dan absurditas birokrasi kekuasaan. Melalui gambaran kantor polisi yang sunyi namun penuh “bau orang mati” dan aktivitas kertas yang seolah hidup, Goenawan Mohamad menekankan kebekuan manusia dalam menghadapi sistem yang represif. Tema ini selaras dengan karya-karya lain penyair, yang kerap menyoroti kondisi sosial-politik dan ketidakadilan.
Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Sakerah yang berada dalam situasi penahanan di kantor polisi. Ia berinteraksi dengan objek sehari-hari — puntung obat nyamuk, pintu, dan matahari — dalam adegan yang penuh simbolisme. Adegan ini tampak sepi dan absurd: meski ia membeku di bawah sinar matahari, kertas-kertas di kantor tetap “sibuk, meski cuma berdiri,” menandakan aktivitas mekanis dan formalitas birokrasi yang kosong dari makna kemanusiaan. Puisi ini juga menyoroti ketidakpedulian aparat terhadap nasib manusia: “Bahkan kami sendiri lupa / ada orang dalam sel ke-3.”
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini menekankan kebisuan dan ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi sistem represif. Tindakan sederhana seperti menuliskan “Hu” pada pintu dengan puntung obat nyamuk menjadi simbol perlawanan yang rapuh namun signifikan. Puisi ini mengungkapkan absurditas kekuasaan: meski ada manusia yang menderita, birokrasi tetap berjalan tanpa empati. Sakerah menjadi representasi individu yang dilupakan oleh sistem, simbol ketidakadilan yang universal.
Imaji
Goenawan Mohamad menghadirkan imaji visual dan sensorik yang kuat. Misalnya:
- Puntung obat nyamuk dan tulisan “Hu” pada pintu menghadirkan imaji visual sekaligus mistis.
- Matahari yang masuk dan Sakerah membeku menciptakan imaji fisik sekaligus metaforis, mengisyaratkan terhentinya kehidupan atau kesadaran akibat tekanan eksternal.
- Kertas-kertas yang sibuk meski berdiri menghadirkan imaji absurd dan menguatkan kritik terhadap mekanisme birokrasi yang mati rasa.
- Bau orang mati memberi imaji sensorik yang menegaskan kesan menakutkan dan mengerikan dari ruang penahanan.
Majas
Beberapa majas terlihat dalam puisi ini, antara lain:
- Metafora: “Matahari masuk / dan ia membeku” sebagai metafora ketakutan atau ketidakberdayaan.
- Personifikasi: “Kertas-kertas sibuk, meski cuma berdiri” memberi sifat manusia pada benda mati untuk menekankan absurditas birokrasi.
- Hiperbola: “Bau orang mati” memperkuat suasana mencekam dan dramatis.
- Ironi: Ketidakpedulian aparat tercermin dalam pengakuan “kami sendiri lupa ada orang dalam sel ke-3,” menimbulkan efek sinis terhadap sistem penegakan hukum.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan kritis mengenai ketidakadilan sistemik, kekerasan struktural, dan pelupaan manusia dalam birokrasi. Goenawan Mohamad mendorong pembaca untuk menyadari bahwa di balik formalitas dan kesibukan aparatur, seringkali manusia individual terlupakan dan menderita. Karya ini mengajak pembaca mempertanyakan kekuasaan, birokrasi, dan empati dalam kehidupan sosial-politik.
Puisi "Der Prozess" merupakan puisi yang memadukan visualisasi, simbol, dan kritik sosial secara efektif. Melalui tokoh Sakerah, Goenawan Mohamad menampilkan pengalaman individu yang terjebak dalam sistem represif, sekaligus menyuarakan keprihatinan terhadap absurditas birokrasi dan ketidakadilan yang universal. Puisi ini bukan hanya refleksi personal, tetapi juga cermin bagi masyarakat untuk memahami dan menanggapi ketidakadilan di sekitar mereka.
Puisi: Der Prozess
Karya: Goenawan Mohamad
Biodata Goenawan Mohamad:
- Goenawan Mohamad (nama lengkapnya Goenawan Soesatyo Mohamad) lahir pada tanggal 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah.
- Goenawan Mohamad adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.