Puisi: Di Negeri Kaya Cucu Melangkah Gagah (Karya Aspar Paturusi)

Puisi “Di Negeri Kaya Cucu Melangkah Gagah” karya Aspar Paturusi bercerita tentang seorang kakek yang menyambut cucunya yang baru lahir ke dunia, ...
Di Negeri Kaya Cucu Melangkah Gagah
(buat cucu ke-17, adrian la pato paturusi)

diiringi doa dan ‘perjuangan’ ibumu
kau sapa dunia dengan tangis pertama
ruhmu pamit dari alam abadi ke alam fana
“tangismu bukan tangis penyesalan kan?”

siang tadi, langit cerah, awan bak senyum
laut tetap biru dan buihnya tetap putih jernih
saat itulah,  hati kakek tenteram, kau lahir cucuku
kenangan dan yang kakek pandang semua indah

ketika matamu terbuka, jangan kaget melihat dunia
takkan pernah kau tahu kenapa lahir di ibukota indonesia
kenapa tidak di saudi arabia atau di amerika sana
di tambang emas atau di gaduh sengketa tanah papua

belum cucu, belum, masih lama baru kau kenal macet
atau mungkin kau heran ada kata korupsi di puisi kakek
sebab, di jamanmu, walau cuma rakyat, kau hidup enak
kau dan semua sepupumu untung lahir di negeri ini

malam ini, malam pertamamu di negeri gaduh politisi
wah, kata ini asing bagimu, karena nanti tak ada partai lagi
bila terasa gerah, hanya lantaran cuaca sedang tak ramah

bila kau tidur saat ini tentu kau belum tahu apa itu mimpi
kakek dan orang-orang di sekitar selalu mimpi di siang hari
tidurlah cucu, meski suara serak, kakek akan bernyanyi

kakek yakin malam ini bakal bermimpi indah
di atas tanah negeri kaya, kau melangkah gagah

Jakarta, 22 Januari 2012

Analisis Puisi:

Puisi “Di Negeri Kaya Cucu Melangkah Gagah” karya Aspar Paturusi merupakan sebuah karya yang sarat dengan pesan sosial dan refleksi kehidupan. Dalam bentuknya yang sederhana namun penuh makna, penyair menghadirkan suara seorang kakek yang menyambut kelahiran cucunya dengan doa, harapan, sekaligus kegelisahan akan situasi negeri tempat cucunya tumbuh kelak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah harapan dan kegelisahan seorang kakek terhadap masa depan cucunya di tengah kondisi bangsa yang kaya namun penuh masalah. Ada perasaan bahagia menyambut kelahiran, tetapi juga terselip kritik sosial terhadap problem korupsi, politik, dan ketidakadilan.

Puisi ini bercerita tentang seorang kakek yang menyambut cucunya yang baru lahir ke dunia, lalu menyampaikan refleksi tentang negeri tempat cucu itu lahir. Ia menyinggung keindahan alam, doa orang tua, hingga kenyataan sosial seperti korupsi, macet, konflik tanah, dan kegaduhan politik. Sang kakek berusaha menguatkan cucunya agar kelak bisa melangkah gagah di tanah air yang penuh paradoks: kaya sumber daya, namun diliputi masalah.

Makna Tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah kritik terhadap keadaan bangsa Indonesia yang kaya raya namun sering dikelola dengan buruk. Penyair menggambarkan kontras: alam yang indah dan sumber daya melimpah, tetapi korupsi, politik gaduh, serta konflik tanah merusak wajah negeri. Sekaligus, ada harapan bahwa generasi baru—seperti sang cucu—akan lahir membawa semangat baru untuk melangkah lebih gagah dan memperbaiki keadaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini campuran antara haru, teduh, sekaligus getir. Haru karena kelahiran cucu selalu menjadi momen penuh syukur, teduh karena digambarkan dengan doa, senyum langit, dan birunya laut, tetapi getir karena di balik itu tersimpan ironi bangsa yang penuh masalah.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah bahwa kelahiran generasi baru membawa harapan bagi masa depan bangsa, meskipun mereka akan menghadapi kenyataan pahit berupa korupsi, politik gaduh, dan ketidakadilan. Penyair ingin menyampaikan bahwa anak cucu harus melangkah dengan gagah, penuh semangat, dan jangan sampai menyerah meski lahir di negeri penuh tantangan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat, misalnya:
  • Imaji visual: “langit cerah, awan bak senyum, laut tetap biru dan buihnya tetap putih jernih” → membangkitkan gambaran indah tentang alam.
  • Imaji auditif: “kau sapa dunia dengan tangis pertama”, “meski suara serak, kakek akan bernyanyi” → menghadirkan suasana penuh suara kehidupan.
  • Imaji gerak: “kau melangkah gagah” → memberi kesan pergerakan penuh semangat generasi baru.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi – “awan bak senyum”, “laut tetap biru dan buihnya tetap putih jernih” memberi sifat manusiawi pada alam.
  • Metafora – “ruhmu pamit dari alam abadi ke alam fana” sebagai kiasan perjalanan kelahiran.
  • Hiperbola – “negeri gaduh politisi” dilebih-lebihkan untuk menekankan suasana politik yang ricuh.
  • Ironi – negeri disebut kaya, tetapi digambarkan penuh korupsi dan masalah sosial.
Puisi “Di Negeri Kaya Cucu Melangkah Gagah” karya Aspar Paturusi bukan hanya sebuah ungkapan cinta kakek kepada cucunya, tetapi juga refleksi sosial yang tajam tentang negeri ini. Dengan menghadirkan tema harapan dan kritik, puisi ini bercerita tentang realitas pahit yang dibalut dengan imaji indah serta majas yang menyentuh. Pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa generasi baru harus tetap melangkah gagah di negeri kaya yang penuh tantangan.

Aspar Paturusi
Puisi: Di Negeri Kaya Cucu Melangkah Gagah
Karya: Aspar Paturusi

Biodata Aspar Paturusi:
  • Nama asli Aspar Paturusi adalah Andi Sopyan Paturusi.
  • Aspar Paturusi lahir pada tanggal 10 April 1943 di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.