Aceh masih belum baik-baik saja.

Puisi: Di Pasar Seni (Karya Cecep Syamsul Hari)

Puisi "Di Pasar Seni" karya Cecep Syamsul Hari adalah potret getir kehidupan pekerja migran yang penuh keterbatasan namun juga menyimpan harapan.
Di Pasar Seni

Pada sebuah siang yang membara
Sekelompok pekerja pulang ke bahasa Jawa

Mereka mengeluhkan rupiah yang melemah
Patroli polisi dan tanah rantau yang mesti diakali
Paspor yang ditahan dan sisa ringgit di pundi-pundi

Kenapa bis murah ke Kajang
tak kunjung datang?

Jangan bicara cinta dengan kami
Itu cuma milik puisi

Jangan suruh kami pergi ke kedutaan Indonesia
Mereka bukan milik kaum pekerja

Jangan ingatkan kami akan larangan-larangan
Di negeri yang melarang berlaku sumbang

Kenapa bis murah ke Kajang
tak kunjung datang?

Tetapi hidup tidak hanya kisah kekerasan
Atau pameran lukisan kesedihan

Hidup juga janji kemakmuran di garis Utopia
Dan kami datang untuk mengejarnya

Pada sebuah siang yang membara
Sekelompok pekerja pulang ke bahasa Jawa

Di dalam bis tiga ringgit ke Kajang
Aku pun pulang entah kepada apa

Entah kepada siapa

Selangor, 2008

Sumber: Perahu Berlayar Sampai Bintang (2009)

Analisis Puisi:

Puisi "Di Pasar Seni" karya Cecep Syamsul Hari merupakan salah satu karya yang menyuarakan suara kaum pekerja migran dengan getir dan penuh kejujuran. Di dalamnya, kita menemukan keluh kesah, kritik sosial, sekaligus renungan mendalam tentang nasib, identitas, dan mimpi para pekerja yang merantau.

Tema

Tema utama puisi ini adalah nasib dan perjuangan kaum pekerja migran. Puisi ini menyoroti realitas keras yang dihadapi buruh di negeri orang, mulai dari persoalan ekonomi, birokrasi, hingga keterasingan dari tanah air.

Puisi ini bercerita tentang sekelompok pekerja migran asal Indonesia yang berada di negeri orang. Mereka mengeluhkan lemahnya nilai rupiah, patroli polisi, paspor yang ditahan, serta kehidupan keras di tanah rantau. Ada kerinduan akan tanah asal (“pulang ke bahasa Jawa”), namun juga ada keterjebakan pada realitas sulit. Bus murah ke Kajang menjadi simbol perjalanan, penantian, sekaligus harapan yang tidak kunjung pasti.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah bahwa para pekerja migran sering terpinggirkan, baik di negeri tempat mereka mencari nafkah maupun di tanah air yang seolah tidak sepenuhnya membela mereka. Puisi ini juga menyiratkan perasaan kehilangan: kehilangan cinta, kehilangan kepastian, bahkan kehilangan identitas. Namun, di balik itu ada secercah harapan akan “janji kemakmuran di garis Utopia” yang tetap mereka kejar meski penuh keterbatasan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini terasa mendung, getir, dan penuh kelelahan. Di satu sisi ada keluh kesah dan kekecewaan terhadap realitas keras; di sisi lain ada keinginan untuk terus bertahan dan mencari makna hidup meski tak pasti.

Amanat / pesan yang disampaikan

Pesan yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa nasib pekerja migran perlu diperhatikan dan dihargai, bukan dipandang sebelah mata. Mereka bukan hanya “tenaga kerja”, melainkan manusia yang punya identitas, impian, dan kerinduan. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kemakmuran sejati tidak semestinya hanya menjadi utopia, tetapi harus diperjuangkan agar nyata bagi semua orang.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji sosial dan keseharian:
  • “Sekelompok pekerja pulang ke bahasa Jawa” menciptakan imaji identitas yang tetap melekat meski berada di rantau.
  • “Paspor yang ditahan dan sisa ringgit di pundi-pundi” menghadirkan imaji visual tentang keterbatasan dan jeratan birokrasi.
  • “Di dalam bis tiga ringgit ke Kajang” menciptakan imaji konkret perjalanan pulang yang sederhana namun sarat makna.

Majas

Beberapa majas yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Majas metafora: “pulang ke bahasa Jawa” yang melambangkan kembali ke akar budaya dan identitas.
  • Majas repetisi: pengulangan pertanyaan “Kenapa bis murah ke Kajang tak kunjung datang?” untuk menegaskan rasa penantian dan kekecewaan.
  • Majas ironi: “Jangan bicara cinta dengan kami / Itu cuma milik puisi” menyiratkan bahwa cinta terasa terlalu mewah bagi mereka yang bergulat dengan kerasnya hidup.
Puisi "Di Pasar Seni" karya Cecep Syamsul Hari adalah potret getir kehidupan pekerja migran yang penuh keterbatasan namun juga menyimpan harapan. Melalui simbol perjalanan, bahasa, dan penantian, penyair menghadirkan realitas yang dekat dengan kehidupan sosial kita. Puisi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik angka remitansi yang sering dibanggakan, ada manusia yang bergulat dengan kehilangan, kerinduan, dan perjuangan sehari-hari.

Cecep Syamsul Hari
Puisi: Di Pasar Seni
Karya: Cecep Syamsul Hari

Biodata Cecep Syamsul Hari:
  • Cecep Syamsul Hari lahir pada tanggal 1 Mei 1967 di Bandung.
© Sepenuhnya. All rights reserved.