Puisi: Entalpi (Karya Syarifuddin Aliza)

Puisi "Entalpi" karya Syarifuddin Aliza bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang merasa kehilangan makna dalam sebuah hubungan.
Entalpi

Aku lihat bayangan wajahku yang memudar
di kemilau gaun malammu
jangan berikan apa-apa kepadaku
bila keterpaksaan yang menunggumu

Aku ikuti langkahmu yang tertatih
di jalan panjang dan setapak yang kita tempuh
dedaunan luruh dan berkelit
di keningmu
kepekatan yang tak bertepi

Aku lihat bayangan wajahku yang memudar
di kemilau gaun malammu
(begitu mudahnya kita luruh bersama sepi dan kelam)

Analisis Puisi:

Puisi "Entalpi" karya Syarifuddin Aliza adalah salah satu karya yang menyuguhkan perpaduan antara perasaan personal, kegetiran batin, dan kekuatan bahasa puitis yang sarat makna. Judulnya sendiri, Entalpi, merupakan istilah dari dunia sains—lebih tepatnya termodinamika—yang merujuk pada besaran energi panas dalam suatu sistem. Namun, dalam puisi ini, kata tersebut diberi nuansa metaforis, mengisyaratkan energi emosional yang menyala, meredup, dan mungkin bahkan luruh seiring perjalanan perasaan manusia.

Tema

Tema utama dalam puisi Entalpi adalah keterasingan emosional dalam hubungan dan kefanaan perasaan manusia. Penyair menyoroti bagaimana kebersamaan yang pada awalnya penuh makna dapat terkikis oleh keterpaksaan, waktu, dan sepi, hingga akhirnya menyisakan kehampaan.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang merasa kehilangan makna dalam sebuah hubungan. Tokoh “aku” lirik melihat bayangan dirinya yang memudar pada sosok yang dicintainya. Ada semacam kesadaran bahwa apa yang dijalani tidak lagi murni lahir dari cinta, melainkan dipaksa oleh keadaan. Hubungan yang ditempuh bersama terasa berat, penuh liku, dan akhirnya tenggelam dalam kepekatan sepi.

Makna tersirat

Makna tersirat dari puisi ini adalah pesan tentang rapuhnya hubungan yang tidak berlandaskan keikhlasan dan ketulusan. Keterpaksaan akan mengikis cinta, hingga perlahan-lahan menghapus keintiman yang pernah ada. Selain itu, terdapat refleksi bahwa setiap perjalanan bersama, seindah apapun, bisa luruh oleh waktu jika tidak dijaga dengan kesungguhan.

Suasana dalam puisi

Suasana dalam puisi ini adalah kelam, suram, dan penuh kepasrahan. Latar yang digambarkan melalui metafora seperti kemilau gaun malam, dedaunan luruh, dan kepekatan tak bertepi menghadirkan atmosfer gelap yang mendominasi perasaan tokoh “aku”. Pembaca pun diajak merasakan suasana sendu, seakan larut dalam keterasingan yang mendalam.

Amanat / Pesan yang disampaikan puisi

Amanat yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah bahwa hubungan sejati tidak bisa dibangun atas dasar keterpaksaan. Cinta yang dipaksakan hanya akan melahirkan kehampaan dan pada akhirnya berujung pada kesepian. Pesan lainnya adalah pentingnya menjaga ketulusan dan energi dalam menjalin hubungan, agar tidak mudah pudar oleh waktu dan keadaan.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan suasana batin. Beberapa contohnya adalah:
  • “Aku lihat bayangan wajahku yang memudar / di kemilau gaun malammu” → imaji visual yang melukiskan pudar dan redupnya cinta.
  • “dedaunan luruh dan berkelit / di keningmu” → imaji visual yang menghadirkan kesan alamiah, tetapi diikatkan pada tubuh manusia untuk menggambarkan beban perasaan.
  • “kepekatan yang tak bertepi” → imaji suasana yang menekankan kelamnya perasaan dan kehampaan tanpa batas.
Imaji ini membuat puisi terasa hidup, meski sarat dengan kesuraman.

Majas

Syarifuddin Aliza menggunakan beberapa majas dalam puisi ini, antara lain:
  • Metafora: “Aku lihat bayangan wajahku yang memudar” → wajah yang memudar adalah metafora dari lenyapnya identitas dan cinta dalam hubungan.
  • Personifikasi: “dedaunan luruh dan berkelit / di keningmu” → dedaunan seakan-akan bisa berkelit di tubuh manusia.
  • Hiperbola: “kepekatan yang tak bertepi” → gambaran berlebihan untuk menekankan betapa luas dan pekatnya kesepian yang dirasakan.
Puisi "Entalpi" karya Syarifuddin Aliza menghadirkan potret getir sebuah hubungan yang kehilangan cahaya. Dengan tema keterasingan dan keterpaksaan, penyair mengajak pembaca merenungi rapuhnya perasaan manusia di tengah perjalanan hidup. Melalui imaji visual yang kuat dan penggunaan majas yang tepat, puisi ini tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga menghadirkan refleksi filosofis: cinta yang tak tulus hanya akan menyisakan sepi.

Muhammad Subhan dan Syarifuddin Aliza
Puisi: Entalpi
Karya: Syarifuddin Aliza

Biodata Penulis:

Syarifuddin Aliza lahir pada tanggal 23 Agustus 1967 di Cot Seumeureung, Aceh Barat.

© Sepenuhnya. All rights reserved.