Analisis Puisi:
Goenawan Mohamad dikenal sebagai penyair yang kerap menggunakan simbol, metafora, dan nuansa filosofis dalam puisinya. Dalam puisi "Firman Ke-12", ia menulis dengan gaya reflektif, seolah ingin membuka ruang perenungan tentang firman, perjalanan, waktu, dan kefanaan manusia. Puisinya pendek, namun padat dengan lapisan makna yang menyinggung spiritualitas dan eksistensi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian makna hidup dan firman yang misterius. Goenawan menghadirkan pertanyaan tentang firman ke-12 yang tidak jelas bunyinya, seakan memberi ruang bagi interpretasi: apakah itu tentang angin, muara, perjalanan, atau akhir kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang upaya manusia memahami firman atau pesan ilahi yang misterius. Tokoh lirik berulang kali mengatakan “Aku tak tahu,” yang menunjukkan keterbatasan manusia dalam menafsirkan makna hidup. Ada gambaran tentang biduk (perahu) yang mencari tempat, bintang yang tajam di dini hari, hingga waktu yang terseret sungai. Semua itu membentuk narasi perjalanan hidup menuju akhir yang tak terelakkan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dari puisi ini adalah kesadaran akan keterbatasan manusia dalam memahami kebenaran yang hakiki. Firman ke-12 yang tidak diketahui bunyinya menjadi simbol dari misteri kehidupan dan kematian. Goenawan seolah ingin menyampaikan bahwa manusia hanya bisa menebak-nebak, meraba-raba tanda, namun kebenaran sejati berada di luar jangkauan. Selain itu, puisi ini juga menyiratkan tentang kefanaan: manusia akan berangkat, waktu terseret, dan hanya kenangan yang tertinggal.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa kontemplatif, hening, dan sedikit melankolis. Ada kesan pasrah sekaligus resah dalam ketidaktahuan, namun tetap ada rasa tenteram ketika menerima bahwa misteri hidup memang tak seluruhnya bisa diungkap.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang bisa ditangkap adalah bahwa hidup adalah perjalanan yang tak seluruhnya dapat dipahami, dan manusia harus siap menerima keterbatasan pengetahuan. Firman Tuhan atau rahasia semesta tidak selalu bisa dijawab secara rasional, melainkan perlu diterima dengan kerendahan hati.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji alam dan perjalanan:
- “garam yang dikais dari ombak” → menghadirkan imaji sensorik tentang laut.
- “biduk yang mencari tempat” → imaji visual yang menggambarkan pencarian arah hidup.
- “bintang jadi tajam di dini hari” → imaji visual yang kuat, menggambarkan cahaya sekaligus ketajaman waktu.
- “waktu terseret sungai” → imaji metaforis yang menegaskan kefanaan.
Majas
Beberapa majas yang digunakan Goenawan Mohamad dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “waktu terseret sungai” melambangkan perjalanan hidup menuju akhir.
- Simbolisme: firman ke-12 menjadi simbol misteri ilahi yang tidak bisa dijawab dengan pasti.
- Repetisi: pengulangan kalimat “Aku tak tahu apa yang disebut dalam firman ke-12” untuk menegaskan keterbatasan manusia.
- Personifikasi: “bintang jadi tajam” menggambarkan bintang seolah memiliki sifat manusiawi yang bisa melukai atau menyakitkan.
Puisi "Firman Ke-12" karya Goenawan Mohamad merupakan refleksi tentang misteri firman, perjalanan hidup, dan kefanaan manusia. Dengan tema pencarian makna, puisi ini bercerita tentang usaha manusia memahami rahasia ilahi yang tetap tak terjawab. Makna tersiratnya adalah pengakuan atas keterbatasan manusia, sementara suasananya hening dan kontemplatif. Melalui imaji laut, biduk, bintang, dan sungai serta penggunaan majas simbolik dan repetisi, Goenawan mengajak pembaca merenungkan makna hidup dan menerima misteri yang tak bisa disingkap sepenuhnya.
Biodata Goenawan Mohamad:
- Goenawan Mohamad (nama lengkapnya Goenawan Soesatyo Mohamad) lahir pada tanggal 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah.
- Goenawan Mohamad adalah salah satu Sastrawan Angkatan 66.